Posts

Showing posts with the label knight

Reaktualisasi Aktivisme Islam Abad 21 [Sharing Kajian]

Image
Sharing singkat hasil kajian online, semoga dihitung Alloh sebagai penambah amalan di 10 terkhir Ramadhan. Malam Selasa (11/05) yang lalu dilaksanakan sebuah kajian online yang dilaksanakan oleh Yayasan Rumah Kepemimpinan bekerja sama dengan DKM berbagai masjid di seputar Depok. Kajian kali ini bertajuk “Reaktualisasi Aktivisme Islam Abad 21”. Dalam tema tersebut pemateri yang diundang adalah Shofwan Al Banna Chairuzzad, Ketua Produi Hubungan Internasional di UI sekaligus seorang yang sudah dikenal luas memiliki track record cukup baik dalam dunia aktivisme Islam. Singkat cerita, pada saat itu pemateri membahas dua hal utama. Pertama, adalah soal sejarah orientasi gerakan Islam kontemporer, dan yang kedua adalah soal bagaimana para aktivis Islam di zaman sekarang merespon perubahan situasi. Beberapa highlight yang bisa saya rangkum antara lain: 1.  Gerakan Islam kontemporer yang muncul di awal abad ke-20 sebagian besar hadir untuk merespon isu yang sama, yakni ketidakadilan akibat ...

Bahaya Covid-19

Image
Menurut saya ada sedikit hal yang misleading terkait penilaian seberapa berbahayanya covid-19. Sebagian pihak hanya melihat pada persentase mortalitas yang relatif kecil, yakni di kisaran 3% untuk kejadian di seluruh dunia. Oleh karenanya kita dianggap tidak perlu terlalu khawatir, toh banyak penyakit lain yang persentasenya di atas itu. Tapi tentu kita tidak bisa hanya melihat itu. faktor "pertumbuhan" penularan yang jauh lebih cepat ketimbang penyakit lainnya juga harus masuk dalam fungsi perhitungan. Analoginya, dalam bisnis ada margin dan ada faktor pengali. Margin boleh tipis, tapi kalau turnovernya gede, cuannya bisa gede. Demikian pula wabah, persentase mortalitasnya bisa jadi kecil tapi kalau penyebarannya cepat, death tollnya juga gede. At the end, death toll inilah yang harusnya jadi tolok ukur. Dan itu sudah terjadi, bahwa angka kematian covid-19 sudah di atas wabah-wabah sebelumnya. Kita jangan cuma berpikir individualistis, "kalau saya ...

Puas

Image
Tingkat kepuasan yang kita dapet dari suatu barang akan berkurang seiring dengan semakin seringnya sesuatu itu kita pakai/konsumsi. Dalam ekonomi konsep ini disebut the law of diminishing marginal utility . Itu sebab mengapa manusia cenderung ingin lebih dan lebih. Dapet 1 trus pengen 2, punya motor lalu pengen mobil, punya rumah lantas pengen rumahnya lebih besar lagi dst. Semuanya semata-mata untuk me-maintain tingkat kepuasan tadi. Dengan kata lain, semakin kita kaya, semakin mahal pula ongkos untuk memperoleh level kepuasan yang sama. Maka tak heran bila agama bilang bahwa dunia ini fana. Karena kalau kita nyari kepuasan dari dunia, kita memang gak akan ke mana-mana. Gak akan ada cukupnya. Dapetnya sih lebih, tapi rasanya ya gitu-gitu aja. Akan ada suatu titik di mana Pizza gak lebih memuaskan ketimbang jagung atau kacang rebus misalnya. Hanya satu hal yang bisa memuaskan manusia: surga. Dalam Al Qur'an surah Ad Dhuha, Alloh bilang "Dan kelak Tuhanmu p...

Mekanisme Pasar

Image
Mekanisme pasar perlu didukung, bahkan dalam situasi perang. Itulah salah satu pandangan Henry Hazlitt dalam bukunya yang terkenal: Economics in One Lesson.  Dari kacamata awam pandangan itu terkesan tak berperasaan, malah bisa jadi tak berperikemanusiaan. Membiarkan mekanisme pasar berarti membiarkan harga-harga melonjak tinggi ketika keadaan darurat, membuka peluang orang untuk menumpuk dan menimbun barang, plus membuat orang-orang ekonomi lemah tak bisa mengakses barang yang mereka perlukan. Tapi Henry, sebagaimana para ekonom penganut pasar bebas lainnya, juga punya alasan sendiri. Mekanisme pasar justru menjamin barang tetap tersedia dalam jangka panjang. Dasar argumen mereka adalah hukum supply demand. Dengan membiarkan harga tinggi mengikuti lonjakan permintaan, para produsen akan memperoleh insentif untuk berproduksi lebih banyak, hingga pada tingkat jumlah optimum yang dibutuhkan oleh konsumen. Hingga pada titik tertentu, jumlah tersebut akan kembali mengerek h...

Taashub itu Berbentuk Mencela Ulama

Pagi ini hati saya sedikit sesak melihat twitter salah seorang ulama yang saya kagumi, Aa Gym, diserang netizan. Sebuah serangan yang saya nilai tidak berkaitan langsung dengan substansi yang beliau (atau adminnya) post pada waktu itu. Tapi semua yang melihatnya tentu paham bahwa asal-muasal dari serangan itu adalah ashobiyah politik. Aa Gym sebelumnya posting sesuatu yang dimaknai netizen sebagai pembelaan atas Anies yang dikritik soal banjir Jakarta. Mereka berang. Anies salah menurut anggapan mereka, maka membela yang salah berarti dia ikut bersalah. Lantas berbuntut ke mana-mana lah postingan itu. Baranya belum reda, dan ketidakpuasan netizen berlanjut ke postingan-postingan setelahnya meski tak lagi berkaitan. Sebelum Aa Gym kemarin Ust Yusuf Mansur juga demikian. Beliau pernah keliru berstatemen soal Uighur, lalu beliau dimaki-maki netizen yang tak puas. Dalam kasus ini pun, menilai dari tendensi dan cara netizen merespon, kita bisa tebak dengan mudah bahwa latar belakangny...

Pengalaman Naik Gerbong Luxury

Image
Akhir tahun 2019 yang lalu saya berkesempatan mencoba naik kereta api kelas Luxury Argo Bromo Anggrek dari Semarang menuju Jakarta. Karena safarnya dalam rangka tugas kedinasan, sebenarnya saya dapet jatah PP naik pesawat udara, namun karena jadwal waktu itu qodarulloh selesai di akhir pekan saya pikir tidak ada salahnya mencari pengalaman baru. Toh in total biaya tiket PP yang harus saya keluarnya jadi lebih murah. Singkat cerita, kereta api Luxury ini mirip sekali dengan kondisi sleeper bus. Letaknya ada di gerbong sendiri. Dalam kasus saya, dia persis di belakang gerbong masinis. Yang beda dengan kelas lainnya tentu saja kursinya, yang kalau tidak salah cuma ada 18 di satu gerbong itu. Kelebihannya dia berukuran jauh lebih besar dan bisa dimiringkan hingga nyaris 180 derajat sejajar dengan dudukannya, jadi kita bisa tidur rebahan. Panel kontrol kemiringannya sudah digital. Lalu ada layar monitor (untuk hiburan) di bagian depan, colokan listrik dan semacam lemari kecil di sebel...

Liburan ke Kolam Renang Fishing Valley [Review]

Image
Salah satu spot di kolam renang Fishing Valley Berenang bisa jadi salah satu alternatif mengisi liburan buat anak-anak. Selain nature-nya anak-anak yang kebanyakan suka main air, berenang juga melatih kebugaran dan motorik mereka. Selain itu di daerah perkotaan sekarang sudah cukup banyak alternatif tempat main air yang tersedia, jadi orangtuanya juga punya lebih banyak pilihan. Dari sekian banyak pilihan itu, saya pribadi punya preferensi tempat yang tidak terlalu ramai, dikelola secara professional, fasilitasnya memadai, dan harganya terjangkau. Singkat cerita, setelah browsing-browsing pilihan kami liburan jatuh kepada kolam renang yang ada di area Fishing Valley, Karadenan, Bogor. Kolam renang di tempat ini adalah satu di antara obyek rekreasi yang ada di sana, selain tempat pemancingan tentu saja (sesuai namanya), tempat untuk outbond, dan restoran. Areanya sendiri cukup sederhana, dan yang saya suka adalah areal parkirnya yang luas dan lega. Tiket masuk kolam renan...

Membayar Terlalu Mahal

Image
Beberapa waktu lalu ada diskusi santai antara saya dan seorang sahabat karib. Topiknya adalah sejauh mana seorang pedagang layak mengambil margin profit dari customernya. Di sana kami sepakat bahwa tidak ada aturan yang melarang mengambil profit setinggi-tingginya. 20%, 50%, bahkan di atas 100% pun sah-sah saja. Saya lalu teringat pengalaman beli Pop Mie di Bandara Ambon. Waktu itu memang lumayan lapar, dan qodarulloh Bandaranya lumayan baru dan gak banyak opsi penjual makanan yang tersedia. Di sana Pop Mie yang kalau di warung harganya cuma Rp 4500-an, harus saya beli dengan Rp 20.000. Saya sadar dan ridho. Namanya juga Bandara, ada alasan rasional kenapa dia dijual mahal. Namun ada pula pengalaman lainnya. Seorang teman pernah kelihatan agak kesal, karena dia tahu gergaji yang dijual di pasar kaget belakang kantor ternyata jauh lebih murah ketimbang gergaji yang baru saja dia beli online. Padahal katanya spec, kemasan, fitur, dan semuanya sama. Di cerita pertama, pel...

Banyak Impor berarti Tidak Berdaulat?

Saya termasuk orang yang berpikir berdaulat atau tidaknya suatu negara, atau suatu organisasi, atau suatu entitas tidak tergantung pada apakah dia mampu subsisten atau tidak. Bila kembali ke definisi berdaulat itu sendiri, yang perlu ditinjau sebenarnya apakah dia punya kuasa untuk mengambil keputusan tanpa intervensi dan ketergantungan dengan pihak lain. Di era sekarang di mana barang dan jasa yang kita butuhkan sudah sedemikian beragam, akan selalu ada hal yang tidak bisa kita penuhi sendiri. Contoh paling mudahnya adalah rumah tangga. Bisa kita hitung dari semua hal yang kita konsumsi, seberapa banyak yang kita produksi sendiri? Nyaris nihil. Hampir semuanya kita beli. Kadang kita juga lebih suka pakai jasa orang lain ketimbang kita handle sendiri. Yang kita lakukan hanya bekerja, sehingga kita punya income yang menjadi power kita untuk memenuhi kebutuhan. Kalau konteksnya diperluas, negara sebenarnya tak ubahnya rumah tangga. Maka mendatangkan sesuatu dari luar sistem rumah ta...

Menyoal Toleransi Ust Abdul Somad

Suka atau tidak suka, kita harus akui. Di dunia ini akan selalu ada pihak yang tidak sekeyakinan dengan kita, yang menganggap Tuhan kita bukan Tuhan, menganggap Nabi kita bukan Nabi, agama kita nista dan sesat, dan kita kelak akan berada di neraka. Lantas apakah kita harus selalu tersinggung dengan kenyataan semacam ini? Realitanya selama ini kita semua tetap bisa hidup berdampingan dengan baik bukan? Kerja bareng, ketawa bareng, pusing bareng. Meskipun tahu sama tahu masing-masing tetap dengan keyakinannya sendiri-sendiri. Kenapa bisa gitu? Karena kita menjaga ekspresi berbeda itu di ruang privat. Di kamar kita sendiri. Batasan soal mana ruang privat dan mana ruang publik bisa jadi agak kabur, dan ini bisa didiskusikan lebih lanjut. Namun prinsipnya, ruang di sini melekat pada konteks saat pesan itu disampaikan, bukan pada saat pesan itu didengar, atau dibaca. Itu pulalah yang terjadi di kasus Ust. Abdul Somad yang lagi ramai ini. Beliau ceramah di masjid, di hadapan...

Catatan Cinta dari Makkah [Resensi]

Image
Alhamdulillah pekan lalu Alloh berikan saya kesempatan menamatkan buku ini. Buku ini saya pinjam dari seorang teman dan berdasarkan endorse dari beliau, katanya sih bagus. Secara ringkas ini adalah buku tausiyah. Jadi kalau kita sering liat temen yang biasa posting status tausiyah rada panjang di fb, nah kita akan menemukan hal yang kurang lebih sama di buku ini. Karena memang buku ini adalah kompilasi dari postingan-postingan status fb penulisnya. Tapi kata orang-orang tua dulu, lain lubuk lain ikannya. Lain penulis, lain pula cara penyampaian tausiyahnya. Cara Mas Awy (penulisnya) menyampaikan tausiyah adalah dengan menceritakan sekelumit fragmen pengalaman hidup dirinya dan orang-orang di sekelilingnya, untuk kemudian diambil ibroh atau pelajaran darinya. Simpel, tapi cukup efektif mengena, karena kisah itu memberikan konteks sehingga pesan yang disampaikan terasa dekat dengan kehidupan kita. Terlebih tausiyahnya disampaikan dengan santai. Kisahnya juga beragam, dari y...

Gang Leader for a Day [Resensi]

Image
Alhamdulillah pekan ini Alloh berikan kesempatan saya menamatkan buku yang jadi salah satu rekomendasi om Mark Zuckerberg. Masuk sebagai salah satu New York Times best seller, dan terbit sudah cukup lama tahun 2008, buku ini bercerita tentang pengalaman Sudhir Venkatesh (si penulis sendiri), seorang mahasiswa sosiologi University of Chicago, saat ia masuk dan berinteraksi dengan komunitas masyarakat kulit hitam di Robert Taylor Housing Project.   Robert Taylor Housing Project, yang kemudian diistilahkan dengan “project” dalam buku ini, adalah program pemerintah negara bagian Chicago yang menyediakan hunian bagi masyarakat miskin kulit hitam yang dikemas bersama dengan program subsidi dan bantuan-bantuan sosial lainnya. Hanya saja, karena kondisi sosiokultural saat itu yang masih kental nuansa rasismenya, proyek ini lebih mirip “ghetto” ketimbang public housing. Lokasinya terpencil dan terpisah secara geografis dari pemukiman kulit putih, sarana publiknya pas-...

Review Thor: Ragnarok

Image
Dari semua karakter hero Marvel yang pernah muncul di film, Thor sebenarnya bukan karakter yang cukup menarik buat saya. Karena gak cukup menarik, saya tak pernah nonton film Thor di bioskop. Pengecualian untuk Thor: Ragnarok ini. Alasan saya nonton sebenarnya hanya karena penasaran saja. Pertama, banyak reviewer yang bilang film ini istimewa. Temen saya pas ditanya gimana responnya sama film ini dia juga bilang bagus. Kedua, dari judulnya, saya bertanya-tanya bagaimana peristiwa Ragnarok, sebagai salah satu peristiwa epic dalam mitologi orang Nordik, digambarkan dalam sebuah film superhero. Itu saja. Helmnya si Hulk (sumber: IGN ) Setelah saya nonton, penilaian saya film ini standard aja sebenarnya. Di bawah ekspektasi malah, meski gak bisa dibilang jelek juga. Betul bahwa kualitas gambar, suara dan acting pemainnya bisa diacungi jempol lah. Aspek humornya pun banyak dan bikin film ini cukup menyenangkan buat ditonton. Tapi kalau bagi saya pribadi, dua aspek itu bukan ha...

Teknik Membaca Cepat

Saya cukup terkesan ketika seorang teman bercerita ia sanggup mereview 41 buku hanya dalam waktu 6 bulan. Itu artinya dalam 1 bulan dia menghabiskan kurang lebih 6-7 buku, atau dengan kata lain sebuah buku bisa dia selesaikan dalam waktu kurang dari 1 pekan. Dan itu dia lakukan tidak dalam kondisi menganggur. Teman saya ini adalah karyawan di sebuah lembaga dan salah seorang dosen yang juga punya aktivitas keseharian yang banyak. Ia mengaku pembacaan dan review buku itu semua bisa dilakukan tanpa mengubah rutinitas kesehariannya. Apa rahasianya? Ternyata teknik membaca cepat. Materi tentang teknik membaca cepat memang bukan sesuatu hal yang baru. Beberapa tahun lalu sempat marak beredar buku yang membahas tentang itu di toko-toko buku. Trainingnya juga ada. Hanya saja selama ini saya termasuk yang skeptis dengan itu. Apa iya teknik membaca cepat ini serius dan efektif? Apa iya teknik membaca cepat ini bisa membantu kita membaca dengan pemahaman yang baik? Atau sekedar teknik self...

Tentang Stigma

Dari dulu saya termasuk yang tidak setuju penyematan stigma tertentu kepada orang-orang. Cebong lah, wahabi lah, kaum bumi datar lah, hedon lah, dan lain sebagainya. Alasannya ada tiga. Pertama, karena stigma biasanya dipakai cuma untuk menunjukkan bahwa "mereka bukan kita" dan itu membuat kita tidak objektif memandang persoalan. Saat ada satu isu yang direspon oleh pihak yang kita beri stigma, di kita langsung muncul prasangka. Kedua, karena stigma tak jarang berujung pada generalisasi yang tidak benar. Kadang tidak jelas indikatornya kenapa seseorang diberi sebutan tertentu. Mengkritik Pemerintah dianggap belum move on, bahas pelanggaran HAM era Orba dianggap dukung PKI, celana cingkrang dibilang wahabi. Ini juga bikin kemampuan kita mencerna persoalan secara jernih jadi berkurang. Ketiga, dan ini yang paling penting menurut saya, karena stigma bisa membuat seseorang jadi benar-benar menjadi apa yang distigmakan. Orang yang sering dapet stigma li...

Ini Soal Empati Sebenarnya

Urus aja urusan negerimu sendiri, gak usah urus urusan negeri orang lain ---- Sering ya baca komentar begitu. Rasanya getir-getir pedas. Biasanya dia muncul kalau ada isu-isu tentang Palestina. Sekarang dia muncul lagi saat ada isu tentang Rohingya. Saya yakin komentar itu muncul dari rasa sinis saja, bukan dari kecintaan yang menggebu-gebu pada negerinya (seperti orang kasmaran yang gak mau perhatian pada kekasihnya dibagi dua). Dan saya juga yakin yang komentar sebenarnya j uga gak konsisten-konsisten amat dengan logika argumennya. Terbukti, dia sendiri lebih memilih mengomentari statemen orang lain ketimbang mengurus mulut atau jarinya sendiri. Kalau mau diseriusin, komentar senada itu sebenernya mudah dibantah. Dari mulai jawaban ngeyel semisal, "Mulut-mulutku, ya sukak-sukak ku lah", sampe yang argumentatif semisal "mengurus urusan negara lain tak otomatis mengabaikan urusan negara sendiri, Neng". Atau "Kekerasan di sana akan bera...

Dua Sisi

Pada suatu hari saya bertanya pada teman-teman di laman facebook saya. Kira-kira kalau kita menggunakan fasilitas wifi kantor untuk hal-hal yang tak terkait langsung dengan pekerjaan kita, apakah bisa digolongkan perbuatan koruptif? Pertanyaan itu kemudian mendapat respon dari beberapa rekan dengan jawaban yang beragam. Tapi kalau disarikan, setidaknya ada 3 jawaban yang mengemuka. Pertama, yang menjawab bahwa perbuatan itu tergolong koruptif sehingga tak boleh dilakukan. Kedua, yang menjawab bahwa perbuatan itu bukan tergolong koruptif sehingga tidak apa-apa dilakukan. Ketiga, yang menjawab bahwa boleh tidaknya ditentukan dengan aturan, kalau aturannya melarang artinya tidak boleh dan kalau aturannya tidak melarang maka boleh. Niat saya mengajukan pertanyaan semacam itu sebenarnya hanya untuk mendengar pandangan orang-orang sekaligus untuk menunjukkan bahwa hampir segala hal selalu punya dua sisi. Atau lebih. Ada yang pro dan ada yang kontra, dan kadang ada juga yang netral-netr...

Konspirasi di Timteng

Saya bukan penggemar teori konspirasi. Tapi kalaupun ada teori konspirasi yang masuk di akal saya, maka itu adalah konspirasi pihak-pihak tertentu dalam menciptakan social unrest di Timur Tengah. Social unrest di Timur Tengah sudah jamak kita dengar. Sejak kejadian WTC tahun 2001 dulu, satu demi satu wilayah Timur Tengah porak-poranda. Berawal dari upaya AS dan sekutu-sekutunya menggebuk Irak dengan dalih mencari senjata pemusnah massal, sampai akhirnya muncul Arab Spring yang menggoyang Tunisia, Mesir, Libya dan Suriah. Tak berhenti di situ. Yaman kena invasi Saudi, dan kini Qatar juga kena embargo yang lagi-lagi digawangi Saudi. Bukan bermaksud ingin menjelekkan Saudi, tapi di tengah segala jasanya, saya harus objektif bahwa tindakan Saudi mengembargo Qatar adalah tindakan yang membawa kawasan ini mundur ke belakang.  Kembali ke topik. Kenapa saya berpikir ini semua konspirasi? Karena gejalanya konstan, melibatkan region yang captive yang sulit dijumpai di region lai...

Belajar dari Anime Jepang

Image
Saya termasuk penyuka anime-anime Jepang. Mungkin karena waktu masih kecil dulu sudah akrab dengan kartun-kartun itu tiap Ahad pagi. Dan makin kesini saya makin tahu kalau anime itu bukan semata-mata tontonan untuk anak-anak. Anime adalah ekspresi budayanya orang Jepang, wadah mereka menyalurkan ide, dan cara mereka memotret realitas dengan kreatif. Itu mungkin sebabnya kenapa anime punya banyak genre. Dan jujur, dari semua anime Jepang yang ada, "tontonan anak-anak" hanya sebagian kecilnya saja. Sebagian besar anime menurut saya malah justru sasarannya untuk orang dewasa. Istilah "untuk orang dewasa" di sini tidak selalu merujuk ke hal-hal yang berbau porno, tetapi lebih ke suguhannya yang memang dirasa lebih pantas untuk orang dewasa, semisal karena ada adegan-adegan yang gruesome dan berdarah-darah, atau karena alur ceritanya yang rumit yang susah dipahami anak-anak, atau karena adanya bumbu-bumbu politik dan konflik. Dari kegemaran menonton anime ini, a...