Bahaya Covid-19



Menurut saya ada sedikit hal yang misleading terkait penilaian seberapa berbahayanya covid-19.
Sebagian pihak hanya melihat pada persentase mortalitas yang relatif kecil, yakni di kisaran 3% untuk kejadian di seluruh dunia. Oleh karenanya kita dianggap tidak perlu terlalu khawatir, toh banyak penyakit lain yang persentasenya di atas itu.

Tapi tentu kita tidak bisa hanya melihat itu. faktor "pertumbuhan" penularan yang jauh lebih cepat ketimbang penyakit lainnya juga harus masuk dalam fungsi perhitungan.
Analoginya, dalam bisnis ada margin dan ada faktor pengali. Margin boleh tipis, tapi kalau turnovernya gede, cuannya bisa gede. Demikian pula wabah, persentase mortalitasnya bisa jadi kecil tapi kalau penyebarannya cepat, death tollnya juga gede. At the end, death toll inilah yang harusnya jadi tolok ukur. Dan itu sudah terjadi, bahwa angka kematian covid-19 sudah di atas wabah-wabah sebelumnya.

Kita jangan cuma berpikir individualistis, "kalau saya kena seberapa besar kemungkinan saya mati?", tapi pikirkan juga society, "seberapa besar kemungkinan saya dan orang-orang terdekat saya kena?". Kalau society kena, mereka akan berhadapan dengan risiko yang tak seharusnya mereka hadapi (karena bisa dimitigasi sejak awal).

Oleh karena itu mari kita dukung imbauan ulil amri, entah Pemerintah Pusat ataupun Pemda yang meminta agar kita membatasi aktivitas sementara waktu.
Takut mati itu aib, tapi jumawa juga aib. Sikap ideal adalah yang ada di antara keduanya: logis-rasional namun tetap tawakkal, tidak panik namun tetap waspada.

Wallohua'lam.

Comments

Popular posts from this blog

Mengapa Saya Berhenti Liqo? (II)

Mengenal Gerakan Islam di Indonesia

Mengapa Muhammadiyah?