Konspirasi di Timteng

Saya bukan penggemar teori konspirasi. Tapi kalaupun ada teori konspirasi yang masuk di akal saya, maka itu adalah konspirasi pihak-pihak tertentu dalam menciptakan social unrest di Timur Tengah.

Social unrest di Timur Tengah sudah jamak kita dengar. Sejak kejadian WTC tahun 2001 dulu, satu demi satu wilayah Timur Tengah porak-poranda. Berawal dari upaya AS dan sekutu-sekutunya menggebuk Irak dengan dalih mencari senjata pemusnah massal, sampai akhirnya muncul Arab Spring yang menggoyang Tunisia, Mesir, Libya dan Suriah. Tak berhenti di situ. Yaman kena invasi Saudi, dan kini Qatar juga kena embargo yang lagi-lagi digawangi Saudi. Bukan bermaksud ingin menjelekkan Saudi, tapi di tengah segala jasanya, saya harus objektif bahwa tindakan Saudi mengembargo Qatar adalah tindakan yang membawa kawasan ini mundur ke belakang. 

Kembali ke topik. Kenapa saya berpikir ini semua konspirasi? Karena gejalanya konstan, melibatkan region yang captive yang sulit dijumpai di region lain, dan ada yang diuntungkan dengan situasi unrest semacam itu.

Bila kita lihat sekilas ke belakang, social unrest hampir selalu diikuti hal yang sama, yaitu tumbangnya Pemerintahan lama kemudian diikuti datangnya kekuatan militer asing pimpinan AS, baik langsung terlibat maupun tidak. Alasannya untuk menjaga keamanan dan meredam perang saudara. Kita lihat misalnya di Afghanistan, di Irak, di Libya, dan seterusnya. Maka saya bisa memahami kalau ada orang yang kemudian berspekulasi kehadiran AS itu adalah upaya untuk menancapkan pengaruh mereka lebih dalam lagi di Pemerintahan yang baru, agar kebijakan mereka menguntungkan AS secara ekonomi. Ini spekulasi yang wajar mengingat wilayah Timteng adalah wilayah yang kaya sumber daya alam, atau at least posisinya strategis untuk mendirikan base yang bisa digunakan untuk menekan negara lain di luar kawasan.

Dengan semakin kuatnya pengaruh AS di Temteng, mereka akan semakin leluasa. Pasokan minyak untuk kepentingan nasionalnya bisa mereka jaga, sekaligus potensi rival mereka dalam kekuatan ekonomi bisa diredam seminimal mungkin. Potensi rival yang saya maksud di sini adalah Negeri-negeri Timteng yang bersatu, kurang lebih seperti Uni Eropa. Melenceng sedikit, Uni Eropa sejauh ini adalah satu-satunya entitas yang secara ekonomi bisa menyaingi AS. Kalau Timteng bersatu, maka AS sebenarnya akan berkurang dominasinya di dunia, dan itu bukan hal yang baik bagi mereka.

Maka dibuatlah social unrest supaya hal itu tidak terjadi. Awalnya dan yang paling penting, adalah mencegah dua poros utama Timteng untuk berkoalisi, yakni Saudi dan Iran. Ini dua negara yang paling powerful di kawasan saat ini. Malangnya bagi Timteng, dan untungnya bagi AS, mereka tahu ada isu sentral yang bisa memisahkan dua kekuatan ini, yakni isu sunni dan syiah. Maka teruslah dibuat provokasi agar sunni membenci syiah dan syiah membenci sunni, tanpa terkecuali. Dibangunlah stigma bahwa sunni dan syiah tak bisa bekerjasama dalam hal apapun. Bahwa perbedaan di antara keduanya adalah perbedaan akidah, pokok sentral agama, hingga pada ujungnya yang satu menolak eksistensi yang lain.

Saya menulis ini dengan kesadaran penuh, sebagai seorang muslim sunni, yang mengakui kesesatan syiah (rofidhoh) sebagai ajaran. Namun sejak awal saya sudah merasa, isu perbedaan sunni syiah ini lebih dari urusan internal ummat Islam. Ia juga isu yang ditunggangi pihak-pihak tertentu, tujuannya ya untuk memecah poros kekuatan utama Timur Tengah itu. Ini saya rasakan dari tendensi menolak segala yang berbau syiah bertransformasi sedemikian rupa hingga sampai kepada tendensi menolak segala yang berbau Iran. 

Padahal saya pikir, kalau dengan orang kafir saja kita bisa berkesepakatan damai, berkerjasama dalam urusan dunia, kenapa dengan syiah yang lebih dekat kita tidak bisa? Oh, katanya karena sejak awal kehadiran syiah hanya akan membantai eksistensi sunni. Nah inilah pemikiran yang tidak saya sepakati. Kita boleh saja menilai sesat syiah, atau bahkan dalam hal-hal tertentu menganggap mereka keluar dari Islam (terutama syiah ghulat), namun ketika diikuti generalisasi bahwa semua mereka akan menghabisi sunni, ini adalah sikap yang berlebih-lebihan. Pemikiran seperti itu persis seperti latar belakang munculnya Islamophobia di Barat, bahwa Islam diyakini akan mendatangkan kehancuran di Barat. Pemicunya juga sama, yakni pembacaan atas teks/dalil yang tidak utuh, dipotong-potong, dan hanya dari satu pintu tanpa melibatkan subyak lain yang terlibat.

Setelah dua poros kekuatan Timteng itu terbelah, maka selanjutnya tugas semakin mudah. Alasan yang sama bisa digunakan untuk mensegregasi masyarakat di kawasan. Di Suriah, isu sunni syiah juga di bawa, sebagaimana di Yaman, dan di Irak saat itu. Sisanya, tinggal diciptakan isu lain, yakni kediktatoran, senjata pemusnah massal, atau terorisme seperti yang dibawa di Mesir dan Qatar saat ini.

Membayangkan bahwa dulu kawasan ini adalah satu kekhalifahan, membuat hati saya sedih sebenarnya. Era keemasan ummat yang ditandai masyarakat yang bersatu kini porak-poranda. Seperti buih. Dan saya berpikir sebetulnya upaya menciptakan social unrest ini tidak akan berhenti di sini. Kelak Saudi juga bisa jadi korban kalau mereka tak hati-hati.

Sebagai rakyat Indonesia, setidak-tidaknya saya mengimbau diri saya sendiri untuk melakukan 3 hal:
  1. Terus mendoakan kebaikan untuk saudara-saudara sesama muslim di manapun berada, berdoa agar suatu saat nanti kaum muslimin bisa bersatu tidak hanya dalam slogan tapi juga dalam perbuatan.
  2. Tidak memperkeruh perselisihan di antara anak bangsa, karena Indonesia sebenarnya berpotensi untuk menjadi kekuatan baru umat Islam di dunia, ketika masyarakatnya bersatu. Di antara bentuknya adalah tidak merongrong Pemerintahan apapun yang terpilih secara sah dan mendukung kerja mereka sepenuhnya bila itu dirasakan baik. Untuk jadi kuat, negara Indonesia ini harus maju terlebih dahulu. Tak ada negara yang kuat saat rakyatnya membelot, merecoki pembangunan, dan merongrong pemerintahannya.
  3. Terus berupaya berbuat itqon sesuai posisi yang sekarang dimiliki.
Wallohua'lam

Comments

Popular posts from this blog

Mengapa Saya Berhenti Liqo? (II)

Mengenal Gerakan Islam di Indonesia

Mengapa Muhammadiyah?