Bertarung dengan Bara Api Sendiri

Nafsu diri bisa kita analogikan sebagai bara api. Ya, dalam tumpukan sekam yang tidak terlihat namun membakar. Bila ada bara api yang tak pernah kunjung padam maka nafsu lah bara api itu. Bara api itu akan menjadi sebuah anugerah ketika berada di bawah kendali kita. Sebaliknya, permasalahan akan terjadi ketika kitalah yang berada di bawah kendalinya. Dengan demikian, perlu ada perjuangan agar kita senantiasa berada di atas hawa nafsu kita sendiri.

Perjuangan melawan nafsu pribadi memang melelahkan. Tapi Alloh swt menjanjikan imbalan yang luar biasa besar bagi mereka yang bisa mengendalikannya. Ya, mengendalikan dan bukan mematikan. Jika nafsu mati, kita tentu tidak punya keinginan untuk makan bukan?. Perjuangan sekeras apapun tidak akan mampu memadamkan bara api hawa nafsu. Jika pun mati, maka seperti burung phoenix, ia akan selalu hidup kembali selama kita masih hidup. Mereka yang berhasil memenangkan pertarungan dengan nafsu ini adalah sebenar-benarnya orang yang kuat.

Namun demikian, bertarung dengan hawa nafsu bukanlah seperti adu panco yang hanya mengadu kuatnya satu lengan. Pertarungan ini lebih mirip pertempuran yang tidak hanya membutuhkan kekuatan, tetapi juga kelihaian strategi, kelincahan, dan komitmen. Kemenangan dalam pertarungan tersebut diindikasikan oleh bebasnya kita dari cengkramannya. Misalnya, ketika timbul malas dari hawa nafsu, kemenangan adalah ketika sikap tersebut tidak diperturutkan. Ketika sombong bergelayut, kemenangan adalah ketika pagar-pagar hati tidak rusak dibuatnya. Ketika syahwat gentayangan, kemenangan adalah ketika tubuh tidak meluluskan keinginannya.

Ada saat di mana kekuatan nafsu begitu luar biasa. Ibarat mikroba, ia membutuhkan nutrisi, pH, suhu, serta kondisi tersendiri untuk bisa hidup dengan optimal. Flu misalnya, akan menyerang ketika daya tahan tubuh berada pada tingkat yang rendah. Di sisi lain, mikroba caries akan leluasa dan mendapatkan kekuatan penuhnya ketika di mulut kita bertahan senyawa gula dan sejenisnya. Begitu pula dengan syahwat, kemalasan, kesombongan, ketakutan, dan lain-lain sebagainya. Dengan demikian salah satu siasat yang bisa kita lakukan untuk menghadapinya adalah dengan mencegah kondusi kondusif bagi tumbuh suburnya hawa nafsu dalam hati kita. Misalnya dengan tidak tidur terlalu malam, karena waktu larut malam adalah saat ketika tubuh memproduksi hormon tertentu yang akan meningkatkan syahwat kita. Atau dengan menghindari ruangan kamar tidur berventilasi buruk saat belajar karena akan merangsang munculnya kemalasan. Atau dengan menghindari pergaulan yang buruk, karena teman yang buruk dapat memacu kita untuk mengesampingkan pikiran jernih dari kepala kita.

Harus diakui, hawa nafsu tidak semata akan selesai urusannya begitu hal-hal seperti di atas dilakukan. Ada juga saat-saat di mana nafsu datang sendiri, atau kondisi berat tersebut terjadi seketika tanpa bisa dicegah, atau hal-hal lainnya. Mau tidak mau memang harus kita akui, bahwa dunia ini tidak akan pernah selalu steril. Dengan demikian hal selanjutnya yang perlu kita lakukan adalah membangun imunitas. Salah satu cara terbaik adalah dengan ilmu. Ya, dengan terus menerus belajar tentang Alloh, syariatnya, tanda-tanda kekuasaannya di alam, manusia serta sifat-sifanya, dan hal-hal lainnya, sedikit demi sedikit muncul khauf yang akan membantu kita melindungi diri dari serbuan hawa nafsu.

Dengan sangat indah, Alloh swt berfirman:
"Dan orang-orang yang takut akan kebesaran Tuhannya dan mampu menahan dirinya dari hawa nafsunya, maka surga lah tempat kembalinya..." (An Nazi'at)

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Mengapa Saya Berhenti Liqo? (II)

Mengenal Gerakan Islam di Indonesia

Mengapa Muhammadiyah?