Dari Penjara ke Penjara [Resensi]




Buku ini saya dapet dari cuci gudang Gramedia beberapa waktu yang lalu. Perspektif kesejarahan setelah membaca Bumi Manusia dan Hindia Belanda 1930, membuat saya tertarik untuk tahu lebih banyak tentang pemikiran, sudut pandang, dan situasi kebatinan para pelaku sejarah. Terlebih mereka-mereka yang memang include sebagai tokoh pergerakan. Maka ketika melihat buku ini ada di tumpukan buku-buku sejarah, tak butuh waktu lama bagi saya untuk memilih.

Pada intinya buku ini bercerita tentang “petualangan” Tan Malaka di beberapa fase penting dalam kehidupannya. Diawali dari cerita Tan Malaka yang melanjutkan sekolahnya di Belanda dengan beasiswa, kemudian pulang kampung dan menjadi semacam guru bantu di sekolah anak kuli perkebunan tembakau Deli. Beberapa waktu kemudian, ia merantau ke Semarang dan ikut membangun sekolah rakyat di sana. Di sinilah Tan Malaka mulai intens bergerak sebagai aktivis murba dan menjadi fungsionaris PKI saat itu. Merasa kehadiran Tan Malaka mengganggu, Pemerintah Hindia Belanda kemudian menangkapnya dan singkat cerita membuangnya kembali Belanda. Dari Belanda, ia memulai perjalanannya melintasi berbagai negara, mulai dari Jerman, Rusia, Filipina, Tiongkok, Myanmar, Malaysia, Singapura, hingga akhirnya kembali ke Indonesia setelah Hindia Belanda menyerah kepada Jepang di awal-awal Perang Dunia II.

Perjalanan melintasi berbagai negara inilah yang menjadi benang merah cerita dalam buku ini. Di setiap negara yang ia lewati, Tan Malaka selalu menceritakan pandangannya terkait kondisi sosiopolitik, sejarah perlawanan terhadap imperialisme, serta cara yang ia lakukan untuk bertahan hidup. Tentu saja semua perjalanan itu ia lakukan dalam konteks pelarian politik. Tan Malaka pernah beberapa kali ditangkap, kemudian kabur/dilepaskan lagi. Maka melakukan penyamaran, berganti-ganti identitas, sampai memalsukan dokumen administrasi sudah menjadi bagian “normal” dari kehidupannya. Karena cerita dalam buku ini ditulis sendiri oleh Tan Malaka, maka semua cerita itu adalah memoar yang orisinil. Membacanya seolah sedang membaca sebuah diari.
Ada beberapa hal yang saya rangkum dan barangkali bisa menjadi pelajaran.

Pertama, Tan Malaka adalah sosok yang luar biasa adaptif. Ia mudah belajar, mudah bergaul, dan peka terhadap situasi di sekitarnya. Di masa-masa awal, Tan Malaka mengaku hanya bisa berbahasa Melayu dan Belanda, namun ketika ia sadar butuh memahami bahasa Inggris diapun berhasil mempelajarinya dalam waktu singkat bahkan menjadi sumber penghidupan dengan menjadi pengajar bahasa tersebut. Hal yang sama juga berlaku di tempat lain. Tak heran Tan Malaka juga akhirnya dikenal menguasai sekurang-kurangnya bahasa Mandarin, Jerman, dan Tagalog yang terbukti sangat membantunya dalam masa pelarian. Ia juga bisa mencium situasi ketika dirinya dalam bahaya sehingga bisa menyusun rencana pelarian atau pembelaan diri.

Kedua, networking Tan Malaka benar-benar ajib untuk ukuran di masa itu. Di hampir semua negara yang ia lewati, Tan Malaka selalu punya relasi yang menjad asylum, setidaknya untuk sementara. Sembari dirinya mencari penghidupan, ia membangun relasi baru dengan warga lokal dan memperoleh simpati dari mereka. Pernah suatu ketika di masa-masa krisis di Singapura, Tan Malaka berhasil meyakinkan petugas imigrasi untuk memberikannya surat jalan, padahal surat jalan itu berasal dari negara yang tengah memburunya. Dengan networking pula Tan Malaka selalu punya cara untuk mencari nafkah selama masa pelarian, mulai dari menjadi juru tulis, kontributor pers, hingga pengajar di negeri orang.

Ketiga, selama lebih dari 20 tahun masa-masa petualangan yang diceritakan, Tan Malaka menunjukkan konsistensi atas pembelaan terhadap kaum murba (jelata). Barangkali spirit semacam itu yang membuatnya condong terhadap sosialisme-komuniesme dan menganggapnya sebagai antithesis dari imperialisme. Di sekolah anak kuli di Deli, Tan Malaka menggagas ide bahwa anak kuli butuh lebih dari sekedar ilmu tentang perkulian. Pendidikan harus ditujukan untuk mempertajam kecerdasan (intelektual), memperkokoh kemauan (self motivation), dan memperhalus perasaan (empati). Di sekolah rakyat Semarang, Tan Malaka juga mengganggap orientasi pendidikan tidak boleh sebatas mengajarkan kompetensi untuk menjadi juru tulis (profesi yang cukup beken saat itu bagi masyarakat pribumi), tapi juga harus mengajarkan spirit entrepreneurship agar mereka kelak bisa berdikari dan bebas untuk berjuang.

Sedikit memperpanjang di bagian ini, satu lagi contoh yang mungkin secara jelas menggambarkan kepedulian Tan Malaka, adalah apa yang diperbuatnya di pertambangan Bajah Kozan (sekarang Banten). Pertambangan itu dimiliki dan dikelola oleh orang Jepang dengan mempekerjakan romusha. Sebelumnya, di sana romusha diperlakukan ala kadarnya dan kurang dimanusiakan. Minim bahan pangan, minim sarana kesehatan, minim bahan pakaia. Bahkan sebagian romusha didatangkan dengan tipu muslihat. Oleh para pamong, para petani di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur dipanggil di sawahnya diiming-imingi untuk ikut pelatihan. Tanpa rincian informasi, tanpa bekal, bahkan tanpa informasi kepada keluarganya para petani yang sudah berkumpul ini lantas dibawa ke Banten tanpa tahu apa-apa. Di sana mereka dipekerjakan sebagai romusha. Mereka yang tidak terima kemudian ada yang kabur berusaha pulang kembali. Namun karena buta huruf dan tak punya keahlian, banyak dari mereka yang jatuh sakit dan meninggal di perjalanan.

Singkat cerita ketika Tan Malaka pulang ke Indonesia dan bekerja di pertambangan ini, ia pun berupaya mengubah situasi. Saat dipercaya menduduki posisi yang mengelola romusha, ia memperbaiki administrasi sehingga meminimalisir perilaku tipu muslihat dari para pamong. Selain itu dia juga mendirikan dapur umum untuk menjamin ketersediaan dan kualitas pangan, membuat bilik-bilik agar para romusha ini tidak tidur di tanah, menginisiasi kebun sayuran sendiri supaya pasokan gizi terpenuhi, bahkan membuat lapangan sepakbola dan pementasan sandiwara untuk sarana hiburan.

Keempat, Tan Malaka adalah pemikir ulung. Barangkali hal itu muncul dari luasnya pembacaannya terhadap sejarah dan filsafat. Ia bisa menjelaskan dengan baik bagaimana gerakan perlawanan rakyat Filipina terhadap penjajah Spanyol sekaligus menganalisa mengapa tiga serangkai yang menjadi motor perlawanan di awal, yakni Mabini, Bonifacio, dan Aquinaldo, justru berseteru di akhir. Demikian pula penjelasannya mengenai naik turunnya gerakan Kuomintang dan Sun Yat Sen di Tiongkok, sebab-sebab meredupnya pengaruh Kesultanan Malaka yang dulunya digdaya, hingga bagaimana model pasar bebas mempersempit ruang gerak bangsa Melayu di Singapura. Salah satu pemikiran Tan Malaka yang mungkin cukup menarik adalah soal perang, yang menurutnya sebagian besar adalah soal perebutan kuasa atas faktor produksi. Ini adalah latar yang paling dominan dari semua peperangan, sejak zaman sebelum masehi hingga zaman kiwari. Bukan idealisme personal. Terlepas dari kita sepakat atau tidak, pemikiran semacam ini sangat berhaga untuk memperoleh sudut pandang alternatif.

Kelima, Tan Malaka adalah sosok vokal dan kritis. Ini tentu sudah bukan perdebatan lagi. Tan Malaka terbiasa menulis bahkan membuat propaganda-propaganda perlawanan. Ia tidak pernah segan menyampaikan pemikirannya secara argumentatif. Dalam suatu pertemuan besar di Bajah Kozan yang dihadiri oleh para petinggi dari Jepang, secara terbuka ia menyampaikan bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia adalah syarat untuk bisa bekerjasama secara setara. Di lain kesempatan, Tan Malaka juga menunjukkan ketidaksetujuannya terhadap cara Bung Karno memposisikan Jepang. Bung Karno pernah bilang bahwa setetes keringat romusha adalah racun bagi sekutu. Bagi Tan Malaka retorika Bung Karno ini hanya sekedar bunga-bunga yang tidak berdasar pada realita. Demikian pula Tan Malaka juga mengkritik konsep koperasi ala Hatta yang menurutnya secara implementasi tidak mempertimbangkan relasi kuasa. Keluputan ini menyebabkan koperasi justru jadi media korupsi para pengurus yang lantas merugikan anggota-anggotanya.

Saya merasa memperoleh manfaat dari buku ini. Akan tetapi secara penulisan/penerbitan ada berbagai kekurangan. Satu kekurangan yang cukup mengganggu adalah kesalahan ketik yang cukup konsisten yakni kata “dari” kerapkali ditulis “dan”. Selain itu buku ini juga menggunakan gaya kesusastraan melayu lama, sehingga pembaca yang kurang familiar barangkali sedikit kesulitan untuk memahami beberapa bagian karena terasa seperti ada kata atau frasa yang kurang lengkap atau berbeda SPOK-nya dengan PUEBI yang baru. Kekurangan lainnya adalah adanya halaman yang hilang (Hal 560) yang untungnya untuk kasus saya penerbit menempelkan halaman yang hilang itu di balik cover belakang.

Akhir kata, buku ini cukup baik untuk menjadi tambahan referensi yang berharga bagi rekan-rekan yang menyukai buku bergenre sejarah. Karena bukan hanya sejarah Indonesia yang kita peroleh wawasannya, melainkan juga sekelumit sejarah di tempat-tempat yang Tan Malaka lewati. Bagi yang menggemari persoalan filsafat dan pemikiran, buku ini juga bagus karena memberikan pembacanya perspektif seorang yang berhaluan kiri. Terakhir, bagi yang tertarik dengan biografi para pejuang dan pahlawan nasional, buku ini barangkali salah satu bacaan penting karena akan banyak spirit yang bisa diteladani dari perjalanan Tan Malaka. Tak ada perjuangan tanpa pengorbanan, seperti kata Tan Malaka sendiri, “Siapa ingin merdeka, harus bersedia dipenjara.” Tentu petuah ini tidak harus kita maknai secara letterlijk. Namun setidaknya kita paham bahwa semakin bernilai sesuatu, semakin mahal pula harga yang harus kita bayar. Dan semakin tinggi hasil yang kita ingini semakin besar pula risiko yang perlu kita hadapi.

Wallohua’lam

Comments

Popular posts from this blog

Mengapa Saya Berhenti Liqo? (II)

Mengenal Gerakan Islam di Indonesia

Mengapa Muhammadiyah?