Agama ibarat Oksigen

Ada beberapa fragmen yang menarik dari novel Negeri 5 Menara karangan Ahmad Fuadi. Salah satu fragmen menarik tersebut adalah sistem pengajaran agama (dalam hal ini Islam) yang diterapkan di pondok Madani. Pendidikan agama di sana tidak semata membaca kitab kuning di masjid, tabligh akbar dan semacamnya, tapi lewan disiplin dan perilaku keseharian di dalam Pondok Madani. Sebuah istilah mengutarakan bahwa Islam itu ibarat oksigen dalam kehidupan yang tidak bisa lepas, dibutuhkan, dan berada di sekitar manusia.

Seperti itulah selayaknya agama dimaknai. Di salah satu bagian dunia ini, tidak jarang ditemui ko
 ndisi sebaliknya. Bila hidup dianalogikan sebagai sebuah bangunan rumah, maka agama seolah berupa suatu ruangan sedangkan pergaulan, sistem ekonomi, politik, pendidikan, dan lain-lain berupa ruangan lain yang terpisah. Agama merupakan bagian yang berbeda dari itu semua.

Keberadaan agama selayaknya dimaknai sebagai sebuah dasar yang menjadi pondasi dari seluruh aktivitas manusia. Hal itu mengingat agama merupakan produk ilahiyah yang memang diturunkan Tuhan semesta alam untuk menjadi OS (operation system) manusia. Ketika kita sadar bahwa hidup kita diberikan oleh Alloh, tidak datang dengan sendirinya, sudah menjadi konsekuensi bagi kita untuk menyadari bahwa penciptaan kita di dunia bukan tanpa maksud. Dalam agama Islam, jelas maksud penciptaan manusia adalah mengabdi kepada Alloh dalam menjalankan perannya di muka bumi sebagai khalifah. Merintangi fungsi agama sebagai OS manusia hanya berarti menyalahi maksud penciptaan itu. Tidak layak di saat tertentu kita bertakwa pada Alloh namun di saat lain kita sengaja meninggalkan-Nya.

Terkadang hanya butuh sedikit kesabaran untuk bisa menyaksikan keindahan yang Alloh turunkan dalam kehidupan dengan keberagamaan yang semestinya. Agama diwujudkan dengan ibadah langsung yang bersifat pribadi; sholat, puasa, zakat, dzikir, memakmurkan mesjid sekaligus diwujudkan dalam akhlak keseharian; senyum, menolong sesama, belajar, bahkan makan. Bila keindahan itu tidak kunjung kita temukan, tetaplah bersabar karena hawa nafsu masih memainkan perannya yang dominan dalam diri kita. Suatu saat dengan kesabaran kita, keindahan itu akan datang. Cepat atau lambat. Alloh menyukai hamba-hambanya yang sabar.

Comments

Popular posts from this blog

Mengapa Saya Berhenti Liqo? (II)

Mengenal Gerakan Islam di Indonesia

Mengapa Muhammadiyah?