Menggeser Unilever?

Seorang teman suatu saat mengirimkan sebuah email ke milis alumni jurusan. Isi emailnya biasa, lowongan kerja di sebuah instansi bisnis swasta, Unilever. Tunggu, Unilever? Unilever yang itu? Saya pun terbayang obrolan santai beberapa tahun lalu dengan seorang teman asal Surabaya, Rofik namanya. Teman saya ini bisa dibilang punya pemikiran luar biasa. Saat ngobrol dengan dia waktu itu, entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba dia nyeletuk: "Suatu saat saya pengen menggeser dominasi Unilever di Indonesia!"

Unilever, siapa yang tak kenal raksasa consumer goods di Indonesia ini. Sebutlah barang kebutuhan sehari-hari dan hampir bisa dipastikan produk Unilever ada di sana. Perusahaan multinasional ini memang canggih luar biasa. Bisnisnya apa-apa dan ada di mana-mana. Tak heran, bekerja di sini ibarat American Dream buat para mahasiswa beken. Konon, kalau seorang karyawan rela bekerja serius di sana, perusahaan pun akan rela memberi fasilitas plus remunerasi premium. Konon lagi, salah satu yang tertinggi di Indonesia. Lalu, angin dari mana sehingga teman saya ini berpikir menggeser Unilever dari kancah perbisnisan Indonesia?

Sampai sekarang saya belum tahu jawabannya. Tapi merujuk dari obrolan waktu itu, saya pun mengira-ngira pemikirannya. Mungkin saja isunya sederhana: nasionalisme. Bagaimanapun dan sebesar apa pun, Unilever adalah perusahaan asing. Belum lagi jika dikaitkan dengan isu agama. Saat saya jadi aktivis LDK dulu cukup santer kampanye boikot produk-produk dari perusahaan donatur zionis, termasuklah Unilever ini. Poinnya, sepertinya akan lebih 'baik' dan 'etis' jika perusahaan sekaliber Unilever ini: 1) dimiliki oleh manusia Indonesia 2) minimal tidak mendonasikan dana ke program zionis (setidaknya untuk anggapan waktu itu).

Sekarang setelah obrolan itu kembali terngiang, saya pun berpikir ulang, apa memang perlu Unilever ini digeser? Dalam perspektif berbeda dengan alasan di atas, saya pribadi tetap termasuk yang akan menjawab 'ya'. Tentu saja jawaban saya tidak mesti sama dengan jawaban sahabat pembaca. That's fine. Alasan saya sederhana, tujuan semacam itu akan menjadi checkpoint yang bisa memompa anak negeri (termasuk saya) untuk memaksimalkan etos kerja. Dengan kata lain, menggeser di sini tidak dimaknai dalam konteks menyingkirkan, tetapi dalam konteks berkompetisi (fastabiqul khoirot). Capaian Unilever saat ini kiranya patut dijadikan referensi dan ukuran bagi bisnis lokal yang dimiliki anak negeri, bil khusus kaum muslimin untuk digapai atau bahkan dilampaui. 

Selama ini kita berkutat pada sikap qonaah yang saya kira tidak pada tempatnya. Merasa cukup dengan standar kecil padahal sesungguhnya Alloh mengaruniai kita potensi untuk bisa jauh lebih besar. Bayangkan jika masyarakat Islam punya usaha sebesar Unilever, berapa banyak kesejahteraan yang bisa ditebarkan? Masjid yang bisa dimakmurkan? Orang-orang yang bisa dipekerjakan? Anak-anak miskin yang bisa disekolahkan? Amal usaha yang bisa disosialisasikan? Bayangkan kalau umat punya sumberdaya sebesar itu, bayangkan pula apa yang bisa dilakukan.

Sebagai penutup saya kira ada beberapa hal yang perlu sama-sama kita ingat lagi agar kita bisa membesar, besar sebesar Unilever. Pertama, kebesaran itu tidak datang dengan instan, tidak pernah. Ia datang dengan konsistensi, kesabaran, dan kerja keras. Umat harus didorong dan dibiasakan untuk itu agar bisa maju. I'malu fauqo ma 'amilu, bekerja di atas kerja orang lain. Kedua, kebesaran itu datang tidak karena satu sosok, tapi karena banyak sosok. Mustahil rasanya membangun kekuatan seorang diri. Oleh karenanya, umat harus didorong untuk bersatu, berjamaah, bersinergi, punya visi bersama, dan saling peduli, saling mendukung. Ketiga, kebesaran itu datang karena ilmu. Kebesaran adalah tempat di mana kecerdasan dan ilmu yang beraneka ragam itu berkumpul. Untuk itu, umat harus didorong untuk cerdas, cerdas dalam kapasitas tertingginya. 

Wallohua'lam

Comments

  1. Maaf sedikit meluruskan...

    Pastinya unilever itu perusahaan global, ada unilever belanda, inggris ataupun india, nah ada pula unilever indonesia..
    Yg jelas unilever sama sekali jauh dari hal hal berbau zionis, beda dengan produk P & G, nestle ataupun yg lainya, perusahaan zionis yg berdiri di indonesia dan di pimpin oleh owner ( pemilik ) yg sebenarnya cuma " calo " berdarah indonesia..

    Dan unilever indonesia sendiri, yg saya ketahui di miliki oleh orang indonesia yg beragama muslim taat dan tidak ada sangkut pautannya dengan zionis.. :)

    ReplyDelete
  2. maaf, saya juga dapet kabar kalo unilever adalah salah satu instansi besar yang menyumbangkan sebagian keuntungannya untuk zionis israel. cuman sejauh ini jarang sekali di poster2 boikot ada yg nyantumin logonya. nah mungkin kalo saudara ada yang punya info ato hasil searching yg meyakinkan ttg masalah ini?

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Mengapa Saya Berhenti Liqo? (II)

Mengenal Gerakan Islam di Indonesia

Mengapa Muhammadiyah?