Posts

Banyak Impor berarti Tidak Berdaulat?

Saya termasuk orang yang berpikir berdaulat atau tidaknya suatu negara, atau suatu organisasi, atau suatu entitas tidak tergantung pada apakah dia mampu subsisten atau tidak. Bila kembali ke definisi berdaulat itu sendiri, yang perlu ditinjau sebenarnya apakah dia punya kuasa untuk mengambil keputusan tanpa intervensi dan ketergantungan dengan pihak lain. Di era sekarang di mana barang dan jasa yang kita butuhkan sudah sedemikian beragam, akan selalu ada hal yang tidak bisa kita penuhi sendiri. Contoh paling mudahnya adalah rumah tangga. Bisa kita hitung dari semua hal yang kita konsumsi, seberapa banyak yang kita produksi sendiri? Nyaris nihil. Hampir semuanya kita beli. Kadang kita juga lebih suka pakai jasa orang lain ketimbang kita handle sendiri. Yang kita lakukan hanya bekerja, sehingga kita punya income yang menjadi power kita untuk memenuhi kebutuhan. Kalau konteksnya diperluas, negara sebenarnya tak ubahnya rumah tangga. Maka mendatangkan sesuatu dari luar sistem rumah ta...

Menyoal Toleransi Ust Abdul Somad

Suka atau tidak suka, kita harus akui. Di dunia ini akan selalu ada pihak yang tidak sekeyakinan dengan kita, yang menganggap Tuhan kita bukan Tuhan, menganggap Nabi kita bukan Nabi, agama kita nista dan sesat, dan kita kelak akan berada di neraka. Lantas apakah kita harus selalu tersinggung dengan kenyataan semacam ini? Realitanya selama ini kita semua tetap bisa hidup berdampingan dengan baik bukan? Kerja bareng, ketawa bareng, pusing bareng. Meskipun tahu sama tahu masing-masing tetap dengan keyakinannya sendiri-sendiri. Kenapa bisa gitu? Karena kita menjaga ekspresi berbeda itu di ruang privat. Di kamar kita sendiri. Batasan soal mana ruang privat dan mana ruang publik bisa jadi agak kabur, dan ini bisa didiskusikan lebih lanjut. Namun prinsipnya, ruang di sini melekat pada konteks saat pesan itu disampaikan, bukan pada saat pesan itu didengar, atau dibaca. Itu pulalah yang terjadi di kasus Ust. Abdul Somad yang lagi ramai ini. Beliau ceramah di masjid, di hadapan...

The Life Changing Magic of Tidying Up [Resensi]

Image
Sejujurnya saat pertama kali melihat buku ini beberapa tahun lalu saya kurang tertarik. Temanya terlalu remeh temeh, pikir saya. Namun karena makin kesini saya dapet banyak cerita tentang orang-orang yang berubah setelah membacanya, saya jadi ingin tahu. Ditambah lagi sekarang ada status New York Best Seller yang disandangnya, jadi bikin saya makin penasaran. Q odarulloh beberapa hari yang lalu saya dihadiahi mas Iqbal Akhirudin buku tersebut (semoga Alloh merahmatinya). Jadilah saya pembacanya. Apakah buku ini memang serevolusioner yang saya duga? Barangkali iya. Meski topiknya sederhana, yakni tentang cara berberes rumah, tapi esensinya ada di level paradigma. Dia membahas bagaimana cara kita memandang barang-barang di sekeliling kita. Dan karena yang dipengaruhi adalah paradigma, dia berpotensi mempengaruhi hal-hal lainnya dalam kehidupan kita. Intinya, dalam berbenah hanya ada dua aspek: membuang dan menyimpan. Kata yang pertama lebih penting daripada yang kedua...

Tas Tertukar

Image
Pagi ini saya menjalani rutinitas seperti biasa. Pulang subuhan, lanjut minum kopi bikinan istri, lalu diantar ke stasiun, dan naik krl bersiap-siap untuk jadwal pemberangkatan ke Jakarta jam 05.40 dari St. Bogor. Posisi gerbongnya pun langganan. Gerbong ketiga dari belakang, sisi pintu sebelah kanan, menghadap kursi. Beberapa saat sebelum pintu kereta tertutup, petugas mengumumkan kembali lewat pengeras suara rute kereta agar penumpang tidak salah naik. Lalu seorang Bapak yang duduk persis di depan saya beranjak, mengambil tas di rak atas kursi lalu keluar gerbong. Sepertinya beliau salah jurusan. Selepas pintu gerbong menutup, HP saya simpan, lalu bersiap-siap mengambil mushaf. Alangkah terkejutnya saya ternyata tas saya tidak ada di tempatnya. Sebagai gantinya ada tas lain, yang bukan punya siapa-siapa di gerbong itu. Saya menyangka jangan-jangan tas ini tertukar dengan tas yang dibawa si bapak yang barusan turun. Berusaha husnuzhon, barangkali terbawa tanpa sengaja. ...

Tentang Maaf

Image
Tao Ming Se di film Meteor Garden punya quote yang cukup fenomenal: "Kalau minta maaf ada gunanya, untuk apa ada polisi?"  Kalau kita simak cerita filmnya, quote ini muncul dari seorang karakter yang arogan, merasa dirinya punya kuasa dan superior dibandingkan yang lain. Baginya tidak ada kata maaf. Semua kesalahan harus berakhir dengan hukuman. Hukuman ini kemudian menjadi legitimasi bahwa pihak yang kontra terhadapnya adalah pihak yang salah. Di sisi lain kita diajarkan budi pekerti bahwa minta maaf dan memberi maaf itu memang ada gunanya. Banyak teks-teks agama baik di Al Qur’an maupun Hadits yang menganjurkan memberi maaf dan keutamaan orang yang melakukannya. Bahkan kisah Rosululloh shollallohu‘alaihi wasallam dan para sahabatnya penuh dengan cerita-cerita semacam itu. Sebut saja dua diantaranya yakni doa beliau di Thaif setelah diusir dan dipersekusi, dan ucapan beliau ketika Fathu Makkah. Lalu sebagian kita mencoba mengompromikan pendekatan ala Tao Ming...

Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat [Resensi]

Image
Bagian terbaik dari buku ini ada di bagian akhirnya. Inti yang saya tangkap dari seluruh pembahasannya adalah tuntunan untuk fokus pada apa yang penting. Masa bodo dengan hal-hal yang gak penting. Penting atau gak penting lantas diperoleh dari refleksi kita atas kematian. Karena ujung-ujungnya kita bakal mati, maka menyibukkan diri dengan urusan remeh temeh itu jadi gak relevan. Menangisi nasib dan gak kunjung move on itu jadi gak relevan. Mencari pelarian dengan obat-obatan dan pergaulan bebas itu jadi gak relevan. Karena ujung-ujungnya kita bakal mati, maka hiduplah dengan bermakna. Sejujurnya saya gak nyangka buku ini bisa sampai ke kesimpulan sedalam ini. Soalnya, sejak awal narasi yang penulis kedepankan seolah lepas dari hal-hal yang berbau norma, moral, dan semacamnya. Lihat saja judul aslinya, A Subtle Art of Not Giving a F*ck. Saya yakin, buku edisi terjemahan yang saya baca ini banyak menyensor beberapa istilah asli yang penulis gunakan. Tapi isi pesannya memang...

World Without Islam [Resensi]

Image
Apa yang terjadi andai Islam tidak pernah ada? Apakah dunia akan tetap seperti sekarang ini? Apakah "clash of civilization" sebagaimana tesisnya Samuel Huntington itu bisa dihindari? Apakah Timur Tengah akan lebih damai? Apakah terorisme di abad ke 21 bisa dicegah? Buku ini mencoba menawarkan perspektif alternatif, bahwa tanpa Islam pun kondisi dunia sebenarnya akan sama saja. Alasannya sederhana: agama bukanlah faktor yang menyebabkan itu semua. Pemicu utamanya adalah kondisi geopolitik dan sosial, hegemoni yang mengesaimpingkan hak-hak komunal, serta kepentingan-kepentingan lain yang sepenuhnya sekuler. Agama, dalam konteks ini sekedar justifikasi, atau alat agitasi. Penulis membangun tesis seperti itu dengan mengajak pembacanya untuk tidak menjadikan peristiwa 9/11 sebagai titik mula sejarah. Relasi Timur dan Barat, gejolak di Timur Tengah, dan peristiwa-peristiwa perlawanan harus dilihat secara runut jauh ke belakang bahkan sebelum Islam "lahir...