Kenapa Pulang?

Kenapa pulang?

Pertanyaan di atas cukup sering terngiang-ngiang di pikiran. Bukan kalimat mistik atau mantra-mantra sebenernya. Tapi kalimat yang sepertinya ada di banyak benak para kerabat maupun sahabat-sahabat dekat. Kenapa pulang? Pertanyaan itu seolah menganggap "pulang" sebagai perbuatan tak biasa menurut ukuran mereka.

Kuliah jauh-jauh di Bogor, menghabiskan biaya besar (sebenernya nggak juga sih), punya banyak channel di sana, prestasi lumayan oke, kok lulus malah pulang kampung? memangnya mau jadi apa kamu? Kalimat seperti itu memang tidak pernah secara langsung terdengar. Tapi selentingan-selentingan kabar dari orangtua, dari teman-teman, dan dari tetangga sudah cukup untuk menjelaskan kecenderungan umum, bahwa anak-anak sekolah agar sukses di masa depan. Sukses yang dimaksud di sini ditandai oleh diterimanya mereka bekerja di pusat-pusat kota, dengan gaji lumayan gede. Syukur-syukur kalau kerjanya di perusahaan besar atau perusahaan multinasional. Atau yah setidak-tidaknya bekerja di instansi pemerintah. Pulang ke daerah bukan jadi pilihan populer, bahkan untuk sekedar dilirik. 

Anyway, tak ada yang salah memang dengan parameter kesuksesan seseorang. Orang-orang bebas menentukan jalannya masing-masing sesuai passion-nya. Namun yang jadi masalah adalah ketika standar sukses mereka itu digunakan untuk mengukur atau bahkan menghakimi orang lain. Secara pribadi sebenarnya saya tidak terlalu peduli dengan celoteh orang-orang. Saya termasuk orang yang sepakat dengan Steve Jobs akan hal ini: "Hiduplah dalam hidupmu. Jangan hidup dalam hidup orang lain". Sederhana. Tapi agak susah juga jadinya jika penghakiman itu tidak cuma diarahkan ke saya, tapi juga ke keluarga. Saya merasa tidak boleh lagi tinggal diam. Hehehehe

Kenapa saya pulang dan memilih untuk berkarir di daerah? Jawabnya simpel, karena itu cita-cita saya. Cita-cita saya adalah membangun daerah lewat sektor ekonomi dan pendidikan. Dalam bahasa yang lebih awam, saya ingin jadi pengusaha sekaligus pendidik di daerah. Kenapa tidak di kota? Saya berpikir, andai semua pemuda potensial milik daerah menghaturkan dirinya di kota-kota, lantas siapa yang membangun daerah? Saya setuju dengan Aa Gym saat beliau menganalogikan kehidupan masyarakat ini seperti sebuah mobil. Ada yang jadi ban, ada yang jadi karburator, ada yang jadi rem, ada yang jadi spion, kemudi, dan seterusnya. Tidak ada bagian mobil yang terbaik. Yang terbaik adalah ketika semua bagian itu bekerja sesuai dengan fungsinya. Dan saya sudah memilih untuk menjadi sosok yang berkiprah di daerah. Sederhana bukan? 

"Lalu kok jadi pedagang? Kalau itu mah nggak perlu jauh-jauh sekolah di Jawa. Orang yang cuma lulus SD aja bisa jadi pedagang kok. Sia-sia kamu sekolah." Nah lho...gimana seandainya saya mendapat statemen seperti itu? Jawab saya juga sederhana: Selama saya meniatkan sekolah sebagai sarana menuntut ilmu, pengalaman, dan ibadah, saya tak pernah merasa sia-sia. Kalau si fulan memang merasa sia-sia, ya terserah lah. Setidaknya bagi saya, pendidikan bukan hanya seharga selembar ijazah. 

Saya kira orang-orang yang menghadapi fenomena serupa bukan cuma saya. Ada banyak orang yang   menghadapi hambatan eksternal ketika menentukan pilihan hidupnya. Tapi akhirnya semuanya berpulang pada values yang dianut oleh masing-masing pribadi. Values itulah yang akan menuntun jalan seseorang.

Lalu kenapa saya pulang? karena values yang saya miliki memang menuntut saya untuk pulang....


Comments

Popular posts from this blog

Mengapa Saya Berhenti Liqo? (II)

Mengenal Gerakan Islam di Indonesia

Mengapa Muhammadiyah?