Apa Yang Bisa Kita Pelajari dari Peristiwa 1 Muharram?


Tulisan ini juga dimuat dengan judul yang sama di hidayatullah.com, tanggal 28 November 2011

1. Kita perlu berubah
2. Kita perlu bersatu
2. Kita perlu cerdas dan cerdik
3. Kita perlu lebih dekat lagi dengan kalender islam

Tiga belas tahun di Makkah, bukanlah waktu yang singkat yang dijalani Rosululloh dan para sahabatnya dalam berdakwah terlebih karena dakwah itu tidak sama atmosfernya seperti sekarang ini. Jika sekarang di Indonesia, orang-orang sudah bisa dengan cukup leluasa mengekspresikan keislamannya, maka tidak demikian halnya Rosululloh dan para sahabat dahulu. Mereka harus menghadapi boikot, penolakan, cemoohan, fitnahan, ancaman pembunuhan, hingga siksaan fisik saat mengekspresikan keimanannya. Dahulu, kaum muslimin di Makkah adalah golongan minoritas. Minoritas dalam hal kuantitas maupun sumberdayanya. Minoritas pula dalam hal kekuatannya. Itulah sebabnya mengapa Rosululloh dan sahabatnya belum mampu berbuat banyak ketika keluarga Yasir disiksa. Isteri Yasir, dan Yasir sendiri akhirnya menemui syahid mempertahankan keislaman mereka. Namun kurun 13 tahun itulah periode pematangan dakwah, hingga akhirnya suatu hari mereka (kaum muslimin) menjadi sebuah kekuatan raksasa, tidak hanya untuk ukuran chiefdom seperti Makkah, tapi juga raksasa untuk ukuran kingdom seperti Romawi dan Persia. Lalu apa yang menjadi titik balik perubahan mereka? Benar sekali, peristiwa Hijrah!
Hijrah menandai awal dari fase perubahan kaum muslimin ke arah yang lebih baik dan digdaya. Peristiwa ini, jika dilihat dari perspektif teorinya Malcolm Gladwell, menjadi sebuah tipping point lahirnya kekuatan kaum muslimin. Masyarakat muslim Makkah pindah menuju Madinah, tempat yang dihuni muslimin lainnya untuk membentuk sebuah koloni baru dengan atmosfer dan kondisi sosial yang lebih baik tentunya. Kepindahan itu setidaknya menyiratkan satu hal, yakni sikap proaktif untuk keluar dari zona status quo yang mengekang. Kaum muslimin pada saat itu tak boleh terus tertindas, tak boleh terus terjajah. Patut diakui bahwa pada saat itu tak sedikit kaum muslimin yang sebenarnya berada pada posisi aman karena punya kedudukan sosial yang dihormati plus ekonomi yang mapan. Sebutlah misalnya Abu Bakr, Saad bin Abi Waqash, dan Utsman bin Affan. Namun kondisi aman itu tak membuat mereka stagnan dan mempertahankan status quo. Saat ada perintah hijrah, para konglomerat itu tak segan-segan meninggalkan hartanya dan mengambil resiko untuk memulai semuanya dari nol lagi. Alih-alih mementingkan diri sendiri, ada sebuah solidaritas sosial yang menuntut untuk memperhatikan muslim lainnya yang tak seberuntung mereka.
Dalam peristiwa hijrah, ada fenomena luar biasa di mana dua masyarakat yang terpisah begitu jauh, muhajirin dan anshor, yang punya perbedaan suku dan latar belakang serta kebiasaan, mampu bersatu membentuk sebuah komunitas baru yang utuh hanya dalam waktu sekejap. Ya, hanya sekejap. Saat itu dua orang yang bahkan tak saling mengenal mampu berbuat layaknya orang yang sudah bersahabat puluhan tahun. Dalam hal itu, kisah Sa’ad bin Rabi dan Abdurrahman bin Auf mungkin menjadi kisah yang cukup legendaris. Ketika Abdurrahman bin Auf datang ke Madinah dan dipertemukan dengan Sa’ad, Sa’ad pun berujar bahwa ia memiliki beberapa petak tanah dan rumah. Sa’ad meminta Abdurrahman untuk memilih petak tanah dan rumah yang ia sukai karena Sa’ad hedak memberikannya secara cuma-cuma. Bahkan Sa’ad yang memiliki dua isteri pun berujar pada Abdurrahman yang lajang untuk memilih satu dari dua isterinya itu agar ia bisa menceraikannya dan menikahkannya pada Abdurrahman. Namun Abdurrahman ternyata bukan sosok pragmatis yang aji mumpung sebagaimana para pejabat kita saat ini. Abdurrahman justru dengan lembut menolak penawaran Sa’ad dan lebih memilih untuk ditunjukkan saja jalan ke pasar agar ia dapat berniaga. Kisah ini mewakili fenomena unik dalam sebuat masyarakat yang mampu koheren sebegitu kuat dalam waktu cepat. Tak ada hal lain yang mendasari koherensi secepat dan sekuat itu selain kesamaan iman mereka, Islam
Tidak heran kemudian jika persaudaraan yang sudah begitu erat sejak awal mampu menjadi tumpuan kekuatan dalam sektor ekonomi, politik, hingga hankam. Salah satu puncak dari kekuatan itu ditunjukkan oleh kemenangan kaum muslimin pada perang Badr kubra serta penaklukkan Makkah, negeri yang dahulu menindas mereka. Maka benar kiranya pernyataan almarhum KH Zainudin MZ bahwa jika kita menghendaki kemenangan, maka perlu kekuatan. Jika kita menghendaki kekuatan, maka perlu persatuan. Itu artinya jika kaum muslimin hendak mengembalikan kejayaannya, maka persatuan menjadi sesuatu yang mutlak ada. Selama kaum muslimin masih terganggu oleh perpecahan sektarian, mazhab, harokah dan tak mampu bersinergi satu sama lain, maka selama itu pula lah kaum muslimin akan lemah dan kalah.
Kesuksesan maupun efek peristiwa hijrah bukanlah hasil dari aktivitas yang dilakukan secara acak melainkan dilakukan dengan penuh strategi dan kecerdikan. Itu ditandai sejak awal perjalanan ketika Mus’ab bin Umair beserta beberapa orang sahabat yang cerdas diperintahkan Rosululloh untuk datang ke Madinah. Mereka datang beberapa bulan sebelum hijrah akbar dilaksanakan untuk berdakwah di sana, menyebarkan kabar gembira, dan membuat kondisi sekondusif mungkin untuk tempat bernaung kaum muslimin. Kecerdikan berikutnya diperlihatkan ketika Ali bin Abi Thalib menggantikan posisi Rosululloh di tempat tidur. Saat kabar tentang hijrah kaum muslimin didengar oleh kaum musyrikin Makkah, mereka pun bergegas mengepung kediaman Rosululloh untuk mencegah beliau keluar dari Makkah. Mereka mengawasi dan memastikan bahwa beliau masih di dalam rumahnya. Beberapa lama ketika tak melihat Rosululloh keluar, mereka pun masuk ke dalam rumah dan ternyata mendapati Ali yang tengah ada di sana, bukan Rosululloh. Rosululloh ternyata sudah pergi sebelumnya bersama Abu Bakr. Tak sampai di situ, kecerdikan berikutnya pun terlihat dari siasat Rosululloh yang menggunakan rute memutar untuk sampai ke Madinah. Madinah ada di utara Makkah, namun Rosululloh menempuh jalan lewat selatan Makkah dan baru memutar ke utara setelah melalui Gua Tsur. Ini bentuk pengelabuan yang cerdas terhadap orang-orang musyrik Makkah yang tergesa-gesa mengejar beliau. Tiga kecerdikan di atas setidaknya mampu mewakili pesan yang tersirat bahwa kaum muslimin sebenarnya dituntut untuk cerdas mengelola situasi dan punya perencanaan yang matang. Kaum muslimin tidak layak menjadi kaum yang bodoh dan mengabaikan kecerdasan. Semakin cerdik kaum muslimin mengelola situasi, semakin baik pula hasil yang ditemui.
Peristiwa 1 Muharram 1433 tahun yang lalu juga mengingatkan kita bahwa hijrah menjadi pembuka identitas kaum muslimin terkait waktu dan penanggalan. Peristiwa hijrah menandai awal tahun qomariyah yang sekarang juga dikenal dengan tahun hijriyah. Sebelumnya, tidak ada kalender khusus bagi kaum muslimin. Namun seiring berjalannya waktu kaum muslimin pada saat itu menganggap penting adanya sebuah sistem penanggalan yang independen. Independen dalam arti mampu digunakan kaum muslimin, tidak hanya sebagai acuan waktu ibadah, puasa, haji, dan sebagainya namun juga sebagai sebuah identitas yang menunjukkan bahwa kaum muslimin adalah sebuah masyarakat besar.
Yang terjadi saat ini adalah masyarakat muslim masih cenderung abai terhadap identitas waktu tersebut. Meski tidak ada salahnya menggunakan sistem penanggalan Masehi, penggunaan sistem penanggalan hijriyah sudah patut desemarakkan dan akan lebih baik lagi jika dipakai secara luas. Hal ini dalam rangka memperkuat identitas kaum muslimin disamping penanggalan tersebut juga terkait dengan waktu ibadah yang terinternalisasi dalam ajaran Islam. Analoginya, sistem penanggalan hijriyah ibarat bahasa Arab dalam Islam. Bahasa Arab lah yang digunakan untuk memahami sumber otentik islam dan dan sistem penanggalan hijriyah lah yang digunakan untuk mengaktualisasikan konsep waktu dalam Islam. Maka momen 1 Muharram menjadi momen yang cukup baik untuk memaknai dan menggembirakan kembali penggunaan penanggalan Islam.

Comments

Popular posts from this blog

Mengapa Saya Berhenti Liqo? (II)

Mengenal Gerakan Islam di Indonesia

Mengapa Muhammadiyah?