Posts

Melatih Diri Bersikap Objektif

Image
Island in the Sky : Natgeo Kadang mungkin kita tergoda untuk bersikap subjektif dan terpenjara oleh ‘keberpihakan’. Kita menjadi tidak bebas berpendirian. Tidak bisa berpikir kritis dengan merdeka. Contoh paling konkret mungkin adalah ketika kita lebih memperhatikan sebuah pesan berdasarkan siapa yang menyampaikan pesan itu ketimbang substansi pesannya. Saat kita tahu pesan itu berasal dari pihak yang kita tidak sukai, misalnya, maka ada kecenderungan untuk menolak. Paling tidak ada wanti-wanti atau prasangka negatif, meskipun mungkin tidak kita sadari atau akui. Namun sebaliknya apabila pesan itu berasal dari pihak yang kita sukai, ada kecenderungan untuk menerima. Prasangka kita cenderung baik terhadapnya. Suka atau tidak suka terhadap sesuatu tentu sah-sah saja. Itu hak setiap orang yang tak elok rasanya kalau dipaksakan. Namun ceritanya akan berbeda kalau keberpihakan seperti itu mempengaruhi objektifitas kita menilai persoalan. Persoalan yang dinilai dengan tidak objektif...

Tak Perlu Alergi dengan Asing

Image
A cherry tree sits under the stars : Natgeo Saya ingin beranalogi: Di suatu kampung, ada tanah kosong. Tanah itu kebetulan tandus. Karenanya, warga kampung yang mayoritas petani nggak tertarik menanaminya. Suatu hari ada orang kota yang ngeliat tanah itu menganggur, nggak diapa-apain. Sayang, pikirnya. Dia punya ide, gimana kalau seandainya tanah itu dijadiin kolam ikan. Dia ngerti tekniknya sementara warga kampung tidak. Singkat cerita, dia minta izin sama kepala kampung buat bikin kolam. Karena kepala kampung ini demokratis, dia minta pendapat warga. Sebagian warga setuju-setuju saja. Tapi sebagian besar menolak, dengan alasan tanah itu adalah tanah mereka. Mereka nggak ingin hasil dari tanah itu dinikmati orang kota, sementara mereka nggak dapat apa-apa. Maka si orang kota ini nawarin, nanti kalau kolamnya jadi dia janji bakal mempekerjakan pemuda-pemuda desa yang masing nganggur. Trus sebagian hasilnya nanti (ikan) bakal dijual ke warga desa dengan harga lebih murah. B...

Rumus Menyikapi Penghinaan*

Image
Cotton Grass: Natgeo *Oleh: Aa Gym ----- Mengapa kita merasa sakit hati? Karena kita terlalu tinggi menilai diri sendiri. ----- Kita akan merasa tidak nyaman Ketika ada orang menghina, mencela, dan menjauhi diri kita. Hati menganggap ini adalah kejadian yang tidak enak. Sebuah musibah dan bala ketika dihina orang. Hati menjadi jengkel, kecewa dan sedih. Rumusnya ketika orang lain menghina, maka segeralah menyimak penghinaan mereka. Bandingkan, apa yang dikatakan orang dengan apa yang Allah ketahui tentang kita. Maksiat mata, maksiat pikiran, maksiat mulut, maksiat yang diam-diam dan tersembunyi. Bandingkan dengan celaan yang menimpa diri kita, mana yang lebih buruk? Sebetulnya penghinaan orang kepada kita jauh lebih baik dibanding keburukan kita yang sebenarnya. Kalau hati lebih sibuk memikirkan perkataan orang daripada memikirkan apa yang Allah ketahui tentang kita, maka itulah musibah yang lebih besar. Lebih buruk daripada cemoohan dan penghinaan orang-orang. Cemo...

Dari Masa ke Masa

Image
Ranger Merah lagi pada ngumpul: sumber Dakwah itu... seperti film Power Rangers. Selalu saja ada dari masa ke masa. Kalau dihitung-hitung dari zaman Mighty Morphin (yg Ranger merah totemnya T-Rex) sampai sekarang, mungkin varian Power Rangers sudah ada puluhan. Padahal kalau dipikir-pikir cerita setiap episodenya hampir pasti itu-itu saja. Monster datang mengacau, lalu PR datang, awalnya PR kalah dulu tapi akhirnya si monster yg kalah. Lalu si Monster berubah jadi raksasa, lalu megazord datang, lalu si monster kalah lagi. Begitu terus, setiap edisi, setiap varian PR. Komposisinya juga tak berubah. Ada ranger merah, biru, kuning, pink (kadang diganti putih), dan hitam (kadang diganti hijau). Tiga laki-laki, dua perempuan. Sesekali ada tokoh pembantu yang 'minhum wa laisa fiihum', bukan PR tapi suka ngebantu PR. Yang berbeda? Judul tentu saja, lalu zords (totemnya), kostum, dan yang pasti pemerannya berganti. Si ranger merah, Jason diganti Tommy, lalu diganti Andros, t...

Kebaikan itu Berproses Bukan?

Image
One Tree, Four Seasons* Saya termasuk yang percaya bahwa menjadi baik itu butuh proses. Dan oleh karenanya butuh waktu. Jangan sampai upaya kita untuk mengubah seseorang justru membuat ia makin sulit berubah, hanya karena kita berkeinginan ia berubah seketika. Saya masih ingat suatu ketika pernah berada pada kondisi yang sedang berapi-api berdakwah di kampus. Waktu itu saya baru tingkat satu. Semester satu malah. Ya, masih anak baru. Kebetulan pada waktu itu ketika pemilihan perangkat kelas saya terpilih sebagai ketua rohis. Entah apa alasannya saya juga tidak tahu. Nah, karena waktu itu saya juga aktif sebagai anggota LDK, kultur LDK saya bawa mentah-mentah ke kelas. Terutama soal pemisahan tempat duduk. Di LDK, ada kultur pemisahan area ikhwan dan akhwat. Jadi kalau rapat (syuro) posisi duduknya umumnya terpisah, bahkan disekat dengan hijab sehingga peserta ikhwan tidak bisa memandang peserta akhwat. Begitu pula sebaliknya. Dus, sebagai ketua rohis, merasa punya wewena...

Investasi Rumah?

Image
##### Apa itu bubble? Dalam dunia keuangan bubble sering dianggap sebagai penggelembungan harga sebuah asset yang tidak dibarengi oleh peningkatan nilai fundamentalnya. Misalnya seperti fenomena bubble saham-saham dot com yang pernah muncul di awal dekade 2000-an. Karena orang-orang beranggapan millenium baru adalah era baru di mana dunia maya bisa jadi lahan basah untuk berbisnis, perusahaan-perusahaan berbasis web saat itu dipersepsikan punya prospek yang super tinggi. Investor pun ramai-ramai ingin membeli saham tersebut. Nah karena permintaan meningkat, harganya pun melonjak. Sampai pada suatu titik, harga keseimbangan saham-saham perusahaan berbasis web saat itu tidak bisa ditandingi harga saham di sektor lain.  Masalah muncul saat diketahui ternyata perusahaan-perusahaan itu tidak bisa merealisasikan profit sesuai ekspektasi investor. Dalam bahasa yang lebih sederhana, investor terbukti overestimate terhadap kinerja perusahaan itu. Investor sudah mbela-belain beli s...

Agar Setiap Harinya Berharga

Image
Berkali-kali saya nonton film Titanic (1997), baru kali ini saya sadar ada inspirasi bagus dari salah satu fragmennya. Yakni ketika Jack ditanyai salah seorang nyonya bangsawan, apakah ia puas dengan kehidupannya sebagai gelandangan tak jelas  Jack ketika diundang makan malam Ini jawabannya si Jack: Well, yes, ma'am, I do... I mean, I got everything I need right here with me. I got air in my lungs, a few blank sheets of paper. I mean, I love waking up in the morning not knowing what's gonna happen or, who I'm gonna meet, where I'm gonna wind up. Just the other night I was sleeping under a bridge and now here I am on the grandest ship in the world having champagne with you fine people. I figure life's a gift and I don't intend on wasting it. You don't know what hand you're gonna get dealt next. You learn to take life as it comes at you... to make each day count. (Terjemahan saya) Ehm, ya nyonya, saya puas. Saya merasa punya semua yang saya butu...