Posts

Perang Coklat: Hershey vs M&M

Image
"Kita mungkin tak pernah sadar, bahwa dari sebatang atau sebungkus permen yang pernah kita makan, ternyata ada serangkaian kisah unik di belakangnya. Kisah yang tidak semata-mata tentang bisnis, tapi juga tentang harga diri dan mimpi."  Setidaknya itulah yang muncul di benak saya setelah melihat film dokumenter yang bertajuk "Perang Coklat" beberapa waktu yang lalu. Film dokumenter ini bercerita tentang persaingan dua perusahaan coklat raksasa Amerika, Hershey dan M&M, dalam usaha mereka menaklukkan dunia dan menjadi raja di dalamnya. Masing-masing dengan kelebihan dan kekurangannya, yang mencoba untuk saling mengisi dan mengungguli satu sama lain. Persaingan yang jika dilihat dari sisi emosional, sesungguhnya adalah persaingan antara impian para pendirinya. "It's not about business, it's about personal", begitu katanya...  Milton Hershey, mengawali bisnisnya di akhir dekade 1890-an dari permen karamel. Kelihaiannya dalam memegang usa...

Extended Marketing Mix

Bagi orang-orang yang bergelut di dunia pemasaran, istilah marketing mix ini tentunya sudah tidak asing lagi. Istilah yang sering diterjemahkan menjadi 'bauran pemasaran' ini adalah sebuah konsep yang meliputi dimensi utama yang perlu dipertimbangkan oleh produsen atau pebisnis sebelum sebuah produk dilepas ke pasar. Dimensi itu sering juga disebut 4P, yakni product, price, promotion, dan place. Product dalam bauran pemasaran berarti objek dagangan itu sendiri, yang bentuknya bisa berupa barang, jasa, kegiatan, pengalaman, ide, dan seterusnya. Saat berbicara produk, para pebisnis tidak hanya berpikir tentang apa produk yang hendak mereka jual, bagaimana bentuknya, dan seberapa banyak dihasilkan. Mereka tentunya juga akan berpikir tentang manfaat apa yang bisa dihasilan dari produk itu bagi konsumen, bagaimana properties -nya, apa keunggulannya dibandingkan dengan produk lain, untuk konsumen yang bagaimana produk itu ditujukan, dan seterusnya. Kecerdasan seorang pebisnis m...

Building Personal Branding

Asto Hadiyoso Graduate Student of Management and Business Program, Calss of R49 Bogor Agricultural University Marketing Class Notes, 31 Jan 2013 Lecturer: Prof. Dr. Ujang Sumarwan, MSc ------------------------------------------- Personal Branding Apa yang ada di benak kita ketika mendengar nama Andres Iniesta? Penggemar sepak bola tentu tak asing lagi. Dialah salah satu pemain handal yang dimiliki klub raksasa Barcelona, sekaligus punggawa lapangan tengah tim nasional Spanyol. Ia juga menjadi salah satu kandidat penerima pengharagaan Ballon d'Or, alias penghargaan prestisius bagi pemain sepakbola terbaik versi FIFA tahun 2012 yang lalu. Ya, sepak bola, sepak bola, dan sepak bola. Itulah asosiasi dominan yang muncul di benak kita bersamaan dengan disebutnya nama Iniesta. Mengapa? Bisa jadi, karena interaksi kita dengan nama Iniesta hanya ketika kita berhadapan dengan dunia sepakbola. Mungkin tak banyak dari kita yang tahu keseharian Iniesta di luar lapangan yang ternyata...

Waktu Bikin Kita Harus Milih

Image
"Kalaupun kita memang memaksakan diri untuk menggeluti semuanya, mungkin kita 'hanya' akan jadi seorang generalis saja, seperti yang teman saya pernah bilang, "Tahu semuanya, tapi tak tahu sesuatu..." ----------- Namanya Pak Kudang Boro Seminar, salah satu dosen pengajar di kelas magister saya. Ini bukan pertama kalinya interaksi saya dengan beliau. Saat masih di LDF (Lembaga Dakwah Fakultas) dulu, beliau pun kerap menjadi narasumber untuk beberapa acara kajian yang kami laksanakan. Pasalnya, si Bapak memang bukan dosen "biasa". Beliau ada seorang hafizh, alias hafal Al Qur'an 30 juz. Istimewa memang, mengingat status itu beliau dapatkan ketika telah menjadi dosen. Sama sekali tidak mudah menurut saya, meluangkan waktu di tengah kesibukan sebagai dosen untuk konsen menghafal Qur'an hingga tamat. Makanya, saya merasa beruntung bisa diajari langsung oleh beliau. Hitung-hitung bisa punya benchmark yang sip, yang bisa menyemangati diri buat...

Tak Selalu Hebat dari Awal

Image
Umumnya, biografi para tokoh dan ulama yang sering kita baca menggambarkan mereka telah hebat sejak belia. Ketika usia balita telah mampu menghafal Al Qur'an, masa kanak-kanak yang dihiasi dengan thalabul 'ilmi, dan kecerdasan yang telah nampak sejak usia dini. Bagi orang-orang yang 'terlanjur' dewasa, kisah seperti itu terkadang hanya sebagai hiburan dan hanya bisa menikmati kekaguman terhadap figur ulama. Sebagian lagi menjadikannya motivasi dalam mendidik anak-anaknya. Yang paling disayangkan, kisah-kisah seperti itu malah membunuh motivasi sebagian orang dewasa yang merasa masih biasa-biasa saja dan tak memiliki kemampuan istimewa. Timbul rasa pesimis di benaknya, "Masa kecilku tak sehebat mereka, masa mudaku tak sebrilian mereka, kini aku sudah tua, tak mungkin lagi bisa hebat seperti mereka." Motto salah alamatpun sering dijadikan alasan. "Belajar di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu, belajar di usia dewasa bagai mengukir di atas ai...

Jejak di Tahun 2012

Sebuah cita-cita hanya akan diperoleh dengan perjuangan. Sedangkan tabiat perjuangan selalu menuntut pengorbanan. Lantas, jika selama ini kita merasa tidak berkorban apa-apa, jangan-jangan kita memang tidak pernah beranjak ke mana-mana . Tahun 2012 memasuki detik-detik terakhir di kalender penanggalan Masehi. Bumi hampir menyelesaikan satu periode revolusinya mengelilingi matahari. Sedangkan waktu pun terus beranjak maju dan tak akan pernah kembali. Nah, waktu yang maju apakah sudah diimbangi dengan kondisi diri yang juga semakin maju? Bertambahnya usia apakah sudah diiringi dengan penambahan kontribusi positif buat umat manusia? Rasa-rasanya pertanyaan model muhasabah seperti ini perlu saya tujukan untuk diri pribadi. Sudah ngapain saja saya selama ini? :-) Apa pun itu, takdir Alloh sudah tertuang. Mungkin ada yang perlu disesali atas kelalaian menggunakan waktu. Tapi begitu pun apa yang sudah dijalani pun sudah sepatutnya disyukuri. Karena bagaimana pun semua takdir Alloh p...

Mengapa Muhammadiyah?

Pertanyaan ini pernah saya terima suatu hari dari seorang rekan. Pasalnya, saya memang orang yang awalnya sama sekali tidak punya latar belakang kemuhammadiyahan. Saya dari TK sampai kuliah, sekolah di sekolah umum, bukan sekolah Muhammadiyah. Saya biasa sholat di masjid biasa, bukan masjidnya Muhammadiyah. Keluarga saya pun tidak satu pun yang berafiliasi ke Muhammadiyah. Hingga saya kuliah, saya juga tidak ikut pembinaan yang dikelola Muhammadiyah. Persinggungan saya dengan Muhammadiyah hanya dari beberapa tetangga dan rekan yang jumlahnya tidak seberapa. Nah, lantas kenapa kemudian saya memilih Muhammadiyah? Di artikel terdahulu saya pernah mengemukakan alasan mengapa saya berhenti liqo. Sebagaimana kita tahu, liqo dalam konteks ini adalah sistem kaderisasi yang dimilik harokah Tarbiyah (Partai Keadilan Sejahtera). Nah, apakah lantas saya bergabung ke Muhammadiyah itu sebagai kompensasi atas keluarnya saya dari harokah tersebut? Jawabannya adalah: Ya! Sebagai seorang yang puny...