Memilih yang Lebih Baik

Sumber: pixabay.com


Seringkali pilihan itu bukan antara yang baik dan buruk, tapi antara yang baik dengan yang lebih baik. Atau antara yang buruk dengan yang lebih ringan keburukannya. Kali ini saya mau share sedikit pengalaman di Ramadhan 1437 H. 


Di Ramadhan ini, saya berniat pasang target yang lebih ketimbang Ramadhan sebelumnya. Di Ramadhan ini saya pengen semua sholat fardhu yang saya lakukan 100% dilakukan berjamaah di masjid, plus menjaga sholat rowatibnya. Qobliyah dan ba'diyah. Tapi ternyata itu tak mudah. Yang jadi persoalan adalah "tanggung"-nya jam pulang kantor saya dengan waktu ashar.

Jadwal pulang kantor selama Ramadhan adalah pukul 15.00 WIB, satu jam lebih cepat ketimbang hari biasa. Sementara waktu ashar adalah sekitar pukul 15.15 WIB. Di Ramadhan sebelumnya, saya selalu pulang naik bis jemputan yang jadwal berangkatnya menyesuaikan dengan jam pulang kantor. Tapi karena di Ramadhan ini saya beritikad untuk gak meninggalkan sholat berjamaah ashar di masjid kantor plus rowatibnya, kebiasaan naik bis itu saya tinggalkan. Saya memilih naik KRL saja, seperti hari-hari biasa.

Dan ternyata, apa yang saya anggap seperti biasanya itu tidak seperti biasa sama sekali. Ketika saya selesai sholat, sekitar pukul 15.30, jalanan sudah mulai macet. Padat. Saya baru kepikiran karena ini Ramadhan, orang-orang berkeinginan pulang lebih cepat supaya bisa berbuka di rumah. Maka perjalanan dengan kendaraan umum ke stasiun KRL yang biasanya bisa ditempuh 15-20 menit, menjadi 2-3 kali lipat lebih lama. Tak hanya itu, sesampainya di stasiun, penumpang pun lebih banyak ketimbang biasa. Itu lantas mengurangi peluang saya untuk bisa langsung naik saat KRL tiba (sebagian pembaca mungkin sudah paham, betapa melegendanya kepadatan KRL saat jam pulang kantor). 

Kilas balik ke hari pertama Ramadhan, saya harus menunggu setidaknya 5 KRL sampai saya bisa masuk. Itu pun karena faktor luck, karena qodarulloh ada sedikit penumpang yang turun di stasiun tersebut. Tapi mengharapkan luck terus menerus saya kira bukan hal yang bijak. Maka di hari kedua Ramadhan saya memutuskan untuk naik KRL ke arah sebaliknya (yang karena mengarah ke pusat kota jadi lebih sepi penumpang), lalu turun di stasiun Manggarai yang menjadi "intersection" jalur KRL Jabodatebek, demi mendapat kepastian tempat di KRL. 

Pilihan ini kemudian membawa konsekuensi wajar: waktu tempuh perjalanan pulang saya menjadi lebih lama. Di hari pertama, saya menghabiskan waktu 3 jam di perjalanan. Di hari berikutnya, angkanya sedikit lebih baik: dua setengah jam

Tapi persoalan utamanya sebenarnya bukan di lama perjalanan itu, melainkan di waktu tiba saya di kota tujuan. Dari dua perjalanan itu, maghrib saya lewati di KRL. Itu artinya misi saya gagal. Saya berhasil menjaga sholat rowatib qobliyah dan fardhu ashar, tapi saya jadi melewatkan sholat rowatib qobliyah-ba'diyah dan fardhu maghrib.

Padahal, berdasarkan pengalaman di Ramadhan sebelumnya itu belum pernah terjadi. Dengan pulang naik bis jemputan saya bisa tiba di rumah 30-60 menit sebelum adzan maghrib. Tapi tentu saja dengan jadwal keberangkatan bis yang mepet dengan jam pulang kantor, saya jadi mengorbankan waktu ashar. 

Ini pilihan yang agak dilematis. Mau mendapatkan amalan utama di waktu ashar, saya jadi mengorbankan amalan utama di waktu maghrib. Sebaliknya mau mendapatkan amalan utama di waktu maghrib, saya jadi mengorbankan amalan utama di waktu ashar.

Sebenernya kalau mau ekstrim, saya bisa mendapatkan dua-duanya dengan mengubah strategi. Pertama, stay di kantor sampai selesai sholat tarawih. Dengan begitu saya bisa memastikan dapet waktu ashar, maghrib, dan isya sekaligus. Kedua, tetap naik KRL tapi 15 menit menjelang berbuka saya berhenti di stasiun manapun yang kebetulan berhenti, cari masjid. Setelah sholat lalu perjalanan dilanjutkan kembali. Tapi kedua strategi itu tidak preferable buat saya karena akan sangat melelahkan. Kalau saya lakukan, khawatir malah jadi orang yang ghuluw dalam beragama dan termasuk yang Rosululloh saw anggap sebagai orang yang berlebih-lebihan.

Akhirnya saya harus memilih. Saya harus menggunakan tool manajemen dalam pengambilan keputusan (jiah...). Cost benefit analysis (gaya bangeeet). 

Singkat cerita, pilihan saya jatuh ke memilih maghrib, dengan pulang naik bis. Minusnya saya memang harus mengorbankan sholat berjamaah dan rowatib di waktu ashar. Tapi itu bisa dikompensasi, dengan mencari masjid lalu sholat berjamaah dengan para masbukers (istilah saya untuk menyebut orang yang sama-sama ketinggalan jamaah utama). Selain itu mudah-mudahan kehilangan satu set rowatib di waktu ashar lebih ringan ketimbang kehilangan dua set rowatib di waktu maghrib. Belum lagi dengan tiba di rumah sebelum maghrib, saya jadi lebih punya energi untuk sholat tarawih sehingga tidak mengantuk dan siap menjalani esok hari dengan lebih ceria.

----
Kadang Alloh memang memberikan situasi yang serba tidak ideal. Tapi imho justru di tengah ketidakidealan itu Alloh hendak menguji respon kita. Menguji seberapa baik pilihan yang kita ambil. Wallohua'lam

Comments

Popular posts from this blog

Mengapa Saya Berhenti Liqo? (II)

Mengenal Gerakan Islam di Indonesia

Mengapa Muhammadiyah?