Menyikapi Kontroversi



Ketika masih di bangku SMA kelas 2, saya pernah diminta oleh guru Bahasa Indonesia untuk ikut kompetisi debat. Bersama dua orang rekan yang lain kami disiapkan untuk bertanding di sebuah event, kalau saya tidak salah ingat waktu itu untuk melawan SMA Negeri 3 Pematang Siantar. 

Kompetisi debatnya cukup unik. Kedua tim yang bertanding baru diberitahu tentang tema yang diperdebatkan sesaat sebelum debat dilakukan. Kemudian dilakukan pengundian, mana tim yang jadi tim positif dan mana pula yang jadi tim negatif. Tim positif berarti tim itu harus berposisi mendukung tema, sebaliknya tim negatif berarti harus selalu jadi pihak yang tidak setuju pada tema. Jadi tidak peduli bagaimana pandangan pribadi kami tentang tema tersebut, yang jelas suara kami harus konsisten dengan hasil undian. Tentu saja semua penyuaraan yang disampaikan dalam debat harus disertai argumen seilmiah mungkin, karena kemampuan berargumen itulah yang jadi poin penting dalam penilaian debat. Kebetulan saya lupa tema apa saja yang didebatkan waktu itu. Tapi cukup seru dan asyik juga. Kami dipaksa berpikir keras dalam membangun argumen.

Saya kembali teringat pengalaman ini setelah mencermati wacana yang beredar di publik terkait kontroversi perhelatan Miss World 2013 di Indonesia. Sebagian pihak bersikap pro dengan alasan acara ini cukup positif dalam mempromosikan pariwisata plus budaya Indonesia di kancah global. Sesi bikini yang biasanya diadakan juga diganti dengan 'busana lain' yang dianggap lebih sopan dan sesuai dengan kultur negara tuan rumah. Sementara pihak yang lain bersikap kontra dengan beralasan pada norma agama ataupun moral. Dalam perspektif agama, khususnya Islam, kompetisi semacam ini dianggap tidak pantas karena jelas bentuk tabaruj dan mempertontonkan aurat di ranah publik. Dalam perspektif moral, kompetisi ini juga dinilai eksploitatif terhadap tubuh perempuan, mengesampingkan unsur lain yang lebih esensial sehingga sekedar menjadikan mereka sebagai pajangan publik. 

Kontroversi bagi saya adalah suatu hal yang lumrah dan mengiringi hampir semua hal di dunia. Tak hanya Miss World, hal lain seperti pemberian vaksin meningitis bagi jamaah haji, kebijakan Keluarga Berencana, kebijakan kenaikan BBM, sampai larangan pembajakan film dan game selalu memunculkan pihak yang pro maupun kontra. Umumnya, kontroversi muncul karena dua hal: si subjek memang punya kepentingan khusus, atau dua belah pihak punya acuan/dasar yang memang berbeda. Sampai di sini biasanya semua tetap baik-baik saja sampai ada pihak yang berupaya memaksakan pendapatnya pada pihak lain dengan cara-cara tercela. Misalnya dengan mencela, memfitnah, bahkan melakukan tindakan kekerasan.

Contoh yang relevan mungkin bisa dilihat pada tragedi berdarah terkait protes massa untuk menolak Miss World di Nigeri tahun 2002. Saat itu tak kurang dari 200 orang tewas dan ribuan lainnya luka-luka. Pada awalnya, protes berupa demonstrasi berlangsung damai. Namun setelah seorang penulis surat kabar, Isioma Daniel, merespon protes tersebut dengan memberikan pernyataan provokatif dan berbau SARA lewat tulisannya, kerusuhan pun meletus. Masyarakat pendemo yang emosi kemudian bertindak anarkis. Pasalnya, penulis tersebut secara satir mengatakan bahwa andai Nabi Muhammad saw masih hidup, tentu beliau akan mengambil salah seorang kandidiat MW untuk dijadikan isteri. Subhanalloh, terlalu tinggi akhlak beliau untuk melakukan hal seperti yang ia sangka-kan.

Ketika kontroversi terjadi, penyikapan terbaik yang bisa dilakukan setidaknya ada dua hal: pertama, tetap menghargai pendapat pihak yang berlawanan dengan tidak memaksakan kehendak dengan cara-cara tercela. Kedua, menyampaikan argumen sebaik mungkin dan biarkan publik menilai sendiri pilihan mereka. Sikap pertama dilakukan untuk menghindari konflik dan munculnya mudharat yang lebih besar. Sedangkan sikap kedua lebih kepada bentuk edukasi pada publik untuk menilai argumen secara objektif dan membiarkan mereka bertanggung jawab terhadap pilihan yang mereka ambil. Sikap kedua ini saya kira relevan dengan pesan Alloh pada Rosululloh saw ketika berdakwah, yakni bahwa kewajiban Rosul hanya menyampaikan risalah sebaik-baiknya. Beliau sama sekali tidak bertanggung jawab sebagai penjaga mereka.

Berkaca pada pengalaman kompetisi debat yang pernah saya lakukan dulu, semua hal memang lagi-lagi seringkali bisa dilihat dari dua sisi yang berlawanan. Pro ataupun kontra sama-sama bisa dibangun argumennya. Tugas para sosok terdidik kemudian adalah membangun argumen seobjektif mungkin,  sekuat mungkin, lalu membiarkan masyarakat menilai dengan pikiran terbuka. Disertai doa, semoga Alloh membimbing pada pendapat yang paling benar menurut-Nya.

Wallohua'lam

Comments

Popular posts from this blog

Mengapa Saya Berhenti Liqo? (II)

Mengenal Gerakan Islam di Indonesia

Mengapa Muhammadiyah?