CEO Forum: Petrus Gandamana

CEO Forum, 28 Mei 2013 
Bersama Bapak Petrus Gandamana, Chief Editor Bakery Magazine 


“Kalau tidak langsung involved di bisnis, bisnis Anda tidak akan jalan” 


    Bapak Petrus Gandamana adalah sosok profesional muda yang pernah menempa pengalaman bersama PT Bogasari sebagai Sales Manajer. Tidak heran beliau telah merasakan interaksi yang begitu intens dengan industri bakery dan cake sebagai pengguna utama terigu. Pengalaman itu pula yang membuat beliau cukup banyak memahami seluk beluk dunia industri ini dari A sampai Z, dari persoalan proses produksi hingga persoalan regulasi. Dari persoalan sistem manajerial hingga sumberdaya manusia. Intinya, karir profesional tersebut berhasil membuat seorang Petrus belajar banyak hal. 

      Posisi sebagai sales manajer yang memang harus selalu tanggap terhadap pasar sedikit banyak membuat beliau tersadar bahwa dari waktu ke waktu, jumlah perusahaan bakery dan cake semakin tinggi akibat membaiknya situasi ekonomi Indonesia secara makro. Selera pasar akan produk-produk tersebut semakin besar, daya belinya semakin tinggi, dan persaingan antar pelakunya pun semakin kompetitif. Selain itu pelaku bisnis terigu, dalam hal produsennya, juga meningkat signifikan jumlahnya. Tidak lagi hanya Bogasari yang menjadi pemain tunggal. Dampaknya, beliau dan timnya semakin lama pun harus semakin berupaya keras untuk memperoleh pelanggan. Ini disadari betul, bahwa bagi dirinya, ada peluang lain yang lebih baik untuk dikerjakan., yakni menjadi konsultan. Pak Petrus bisa memanfaatkan skill yang sudah dimilikinya di bisnis bakery dan cake untuk malayani usahawan-usahawan baru yang terus bermunculan sebagai pasarnya. 

     Keputusan untuk berbisnis secara mandiri pun dibuat, Pak Petrus mengundurkan diri dari Bogasari dan mulai mendirikikan usaha jasa konsultan untuk produk-produk pangan dan bakery serta cake. Beliau pun sadar bahwa untuk menjadi konsultan, reputasi mutlak diperlukan. Oleh karena itu bersama dengan jasa konsultan yang didirikannya, ia pun mendirikan perusahaan Bakery Magazine, perusahaan yang menerbitkan majalah Bakery dan Cake yang menyasar segmen industri. Dari majalah itulah Pak Petrus kemudian membangun personal branding, bahwa seorang Petrus Gandamana adalah seorang spesialis bisnis pangan, khususnya bakery dan cake. 

     Reputasi beliau pun terbukti melejit. Sejak diterbitkannya majalah itu, beliau semakin sering diundang sebagai narasumber untuk menjadi pembicara di berbagai seminar tentang pangan, bahkan hingga ke mancanegara. Rencana beliau berhasil. 

     Meski demikian, bukan bisnis namanya jikalau tidak ada tantangannya. Beliau menceritakan bagaimana majalahnya yang menyasar segmen yang kecil (niche market) ini harus terus berjuang untuk tetap hidup. Meskipun segmen yang kecil itu sengaja disasar untuk menghindari persaingan langsung, menjaga eksistensi bisnis permajalahan tetap tidak selalu gampang. Menyusun tema yang spesifik dan berbeda dari waktu ke waktu dan menyajikan informasi yang memang diperlukan bagi industri bakery dan cake menjadi kewajiban bagi majalahnya, disamping desain yang eksklusif tentunya. 

     Beliau menceritakan bahwa harga majalah per eksemplar sebesar Rp 40.000, sesungguhnya tidak memberikan keuntungan finansial apa pun bagi perusahaan. Beliau secara jujur mengatakan, harga sebesar itu hanya cukup untuk BEP, atau kalaupun ada selisih keuntungan, nisbahnya teramat kecil untuk dijadikan sumber pendapatan. Sumber pendapatan utama kata beliau adalah iklan. Oleh karena itu perjuangan terbesar dari majalah ini sesungguhnya bukan pada mencari seberapa besar pembaca (meski itu juga penting) namun pada mencari perusahaan atau instansi agar berminat memasang iklannya di majalah ini. Satu orientasi mendasar untuk melakukannya adalah, majalah ini harus bisa menjawab pertanyaan, “Mengapa perusahaan saya harus memasang iklan di majalah ini?”. Selama pertanyaan itu belum bisa dijawab, selama itu pula majalah ini akan berhadapan dengan keruntuhannya. Untuk menjawab itu, mau tidak mau, majalah ini harus bisa memandang situasi dari kacamara produsen. 

     Dalam rangkaian pemaparannya pada kesempatan CEO forum kali ini, ada dua hal penting yang perlu diperhatikan dan dijadikan renungan untuk diambil pelajaran. Pertama, sebagai seorang profesional sekaligus usahawan, beliau mengatakan bahwa dunia bisnis menuntut keterlibatan intensif dari pemiliknya. Tanpa hal itu, bisnis menurut beliau tidak akan mampu berkembang dengan baik. Adalah keliru, jika ada seseorang yang hendak berbisnis, namun keterlibatannya tidak lebih dari sekedar memberi pemodalan saja. Sementara dalam hal-hal lain, ia menggantungkan sepenuhnya pada orang lain yang notabene berbeda harapan, passion, dan hasrat pada bisnis tersebut. Pengawasan intensif, menjadi hal minimal yang harus dilakukan oleh pemilik bisnis. 

      Kedua, bisnis butuh sistem yang kokoh. Kegagalan banyak industri kecil atau menengah untuk membesar adalah kurang bisanya mereka menerapkan sistem yang baik, semisal SOP tidak jelas dan lengkap, struktur gaji dan sanksi yang juga tidak jelas (khususnya untuk perusahaan keluarga), penggunaan dana yang masih campur baur antara dana pribadi dan dana usaha, hingga ketidakpatuhan pada regulasi standar. 

      Pada akhirnya perlu disadari bersama bahwa bisnis yang sungguhan memang bukan permainan. Bisnis jika memang ingin berkembang harus diseriusi apa yang memang perlu diseriusi. Oleh karena itu pelakunya selain butuh passion, gairah, dan hasrat untuk memajukan usahanya, juga perlu cerdas dan kompeten. Karena sekali lagi, bisnis yang berkembang adalah bisnis sungguhan. Bukan bisnis main-main. 

 Wallohua’lam

Comments

Popular posts from this blog

Mengapa Saya Berhenti Liqo? (II)

Mengenal Gerakan Islam di Indonesia

Mengapa Muhammadiyah?