-->
(Sambungan dari Mengapa Saya Berhenti Liqo (I))

Bagi saya, tampak jelas sudah sikap diskriminasinya. Mentoring yang saya lihat bukan hanya sekedar aktivitas pembinaan keislaman seseorang, namun sudah terkooptasi sebuah hegemoni yang eksklusif –terlepas dari baik tidaknya niat pelaku hegemoni tersebut. Itu yang menjadi salah satu alasan saya mengapa akhirnya berhenti dan mencari aktivitas pembinaan di tempat lain.

Alasan berikutnya adalah keterkaitan mentoring di kampus saya dengan Partai Keadilan Sejahtera. Ya, PKS adalah partai politik yang kita kenal lewat slogannya, bersih, profesional, dan peduli. Lalu apa keterkaitannya? Awalnya saya juga merasa mentoring dan PKS adalah dua entitas yang terpisah, meski sudah sejak lama saya tahu orang yang berkecimpung di dalamnya ya itu-itu juga. Mereka yang aktif mengelola mentoring nyaris semuanya berafiliasi ke PKS. Nah, jika cuma itu kondisinya, saya tidak akan terlalu peduli dan tidak akan saya permasalahkan di sini. Pada kenyataannya, kondisinya ternyata memang lebih daripada itu. Lebih dari sekedar orang-orang yang berkecimpung di mentoring punya afiliasi dengan PKS. Kondisinya yang saya lihat adalah: mentoring dijadikan sebuah pintu masuk untuk menjadi kader parpol PKS. Ya, orang yang ikut mentoring diproyeksikan untuk menjadi kader PKS di kemudian hari.

Pada masa kampanye pemilu DPR tahun 2009, ketika khusyuk mengikuti agenda mentoring/liqo, tiba-tiba murobi saya berpesan pada saya bahwa pertemuan yang akan datang tidak dilakukan di masjid kampus seperti biasa, tapi di sebuah masjid di suatu tempat. Singkat cerita, pergilah saya ke sana dengan semangat 45, berpikir mungkin akan menerima taujih/nasehat dari seorang ustad yang lebih tinggi ilmunya ketimbang murobi saya. Setibanya di sana, ternyata ada agenda lain yang tak saya duga: agenda konsolidasi kampanye dan training motivasi untuk direct selling PKS ke warga! Wow, dan saya memang tidak sendirian. Beberapa teman yang saya kenal ikut mentoring juga ada di sana, dan menerima agenda yang sama. Meski saya punya sifat pelupa, tapi saya ingat dengan jelas bahwa sebelumnya murobi saya tak pernah sekalipun menawari saya untuk jadi kader partai. Tak sekalipun. Apakah ini disengaja atau tidak? Saya kurang tahu. Yang jelas, ketika murobi saya mengumumkan untuk liqo di tempat itu lagi, saya tak pernah lagi bersedia.

Kisah lainnya, di akhir tahun ketiga keikutsertaan saya di mentoring, ada beberapa kali agenda tatsqif di mana saya diajak ikut serta. Tatsqif di sini bentuknya mirip pengajian yang dilakukan di masjid-masjid pada umumnya. Materi yang disampaikan juga umumnya materi keislaman secara umum, bukan materi kepartaian. Sesekali memang ada topik kepartaian, tapi sifatnya tidak dominan. Namun yang menarik, sebelum mengikuti kegiatan, ada semacam daftar hadir yang perlu diisi. Di salah satu kolom daftar hadir itu ada judul: kecamatan. Maksudnya, kita diminta mengisi keterangan liqo yang kita ikuti berada di bawah DPC mana. Tentu DPC yang dimaksud disini adalah DPC PKS. Ya, mentoring atau liqo itu ternyata dikelola di bawah sebuah struktur eksternal kampus.

Saya juga mengakui, bahwa semakin lama liqo saya ikuti, pembina/murobi yang mengelola kelompok pun diganti dengan sosok yang lebih tinggi levelnya dan lebih dalam keikutsertaanya dalam gerakan. Materi yang dibahas semakin berat, dan topik kepartaian pun pelan-pelan dimasukkan dalam taujih yang diberikan. 

Maka dari pengalaman yang saya alami sendiri, saya jadi yakin, bahwa mentoring bukan sekedar aktivitas pembinaan keislaman semata yang berdiri sendiri. Ia disokong dan memiliki keterkaitan dengan PKS. Dan saya yakin pula bahwa kondisi seperti itu tidak kasuistik di kampus saya saja, tapi juga terjadi di beberapa kampus yang mengadopsi sistem serupa.

Karena saya tidak ingin menjadi kader parpol, akhirnya saya memutuskan untuk keluar dari liqo. Saya pernah mencoba mencari dan bertanya pada salah satu kader PKS, adakah gerangan liqo yang tidak membahas-bahas partai dan tidak mengikutsertakan saya ke dalam partai, murni pembinaan keislaman semata? Sayangnya beliau jawab tidak ada. Materi atau mekanisme dalam mentoring/liqo itu sendiri memang didesain untuk mendukung ide atau pemikiran yang diusung PKS. Dalam pemikiran tersebut, memperjuangkan Islam harus mengikutsertakan politik praktis. Dan dalam aktivitas PKS kemudian, para peserta liqo itulah yang diharapkan mampu menjadi pengusung utamanya. Apakah pernyataan yang disampaikan beliau itu memang mewakili kondisi sebenarnya? Saya kurang tahu. Atau apakah itu mewakili pendapat kader PKS yang lain? Saya juga kurang tahu. Yang saya tahu, beliau adalah kader yang punya pengalaman banyak, baik di pengelolaan mentoring di kampus dulu maupun di partai politik secara langsung.

Adanya sistem eksklusif diskriminatif dan keterkaitan dengan parpol itulah yang menjadi alasan saya untuk berhenti liqo dan mencari tempat pembinaan lain. Sebenarnya ada banyak hal lain yang kalau diingat cukup mengganjal di hati, seperti sikap beberapa orang yang ekstrim hingga pada level men-dewa-kan murobi: bahwa titah murobi adalah titah yang tak boleh dibantah; pilihan murobi adalah pilihan terbaik; oleh karenanya nikah pun harus lewat murobi, dll. Atau sikap ekstrim dalam berharokah: nikah dengan orang di luar harokah (yang tidak mentoring) adalah sebuah aib dan kesalahan, atau hal-hal lainnya. Namun mungkin tidak adil bagi saya kalau menjadikannya alasan karena saya tahu tidak semua aktivis mentoring/liqo seperti itu. Itu sifatnya kasuistik. Tapi dua hal di atas (eksklusif diskriminatif dan keterkaitan dengan papol) saya anggap bukan lagi kasuistik, tapi sudah menjadi gejala umum yang diterima dan diakomodasi oleh sistem yang menjadikan ‘mentoring/liqo’ sebagai punggawanya. 

Akhir kata, tulisan saya ini tidak dibuat untuk mendiskreditkan mentoring. Mentoring adalah aktivitas yang bagus dan kalau dikelola dengan baik akan menjadi sesuatu yang empowering bagi orang yang ikut serta. Namun menurut saya, akan jauh lebih baik jika: Pertama, ia tidak dijadikan standar untuk mengukur seseorang. Kedua, dilaksanakan semata-mata untuk membina ummat Islam secara umum. Ketiga, tidak dijadikan sarana rekrutmen kader parpol terlebih melalui kegiatan formal kampus yang seharusnya independen. Keempat, kalaupun menjadi sarana rekrutmen, sampaikanlah dengan terus terang dan jujur sejak awal bahwa kegiatan ini adalah kaderisasi dan Kelima, pisahkan dengan mentoring yang tidak untuk kaderisasi (buat mentoring non parpol).

Itu hanya saran dari saya. Namun jika memang sistemnya sudah tidak bisa diubah lagi karena memang sudah bawaannya begitu, apa lagi mau dikata. Lana a’maaluna, walakum a’maalukum; Wa laa tus’aluuna ‘ammaa kaanu ya’maluun.

Pun saya tidak mendiskreditkan PKS. Bagi saya pribadi, PKS (disamping berbagai keterbatasan dan kekurangannya) adalah parpol yang masih bisa diharapkan untuk membawa aspirasi ummat Islam di parlemen. Selama PKS tidak sombong, menganggap partai lain lebih rendah dan menolak menerima kejujuran, ia masih merupakan partai yang saya harap turut membawa Indonesa menjadi lebih baik dan bermartabat.

-->
Semoga tulisan ini bisa menjadi bahan koreksi yang berharga untuk menciptakan sistem yang lebih baik dan akomodatif pada perbedaan pendapat serta pemikiran. Saya juga berharap tulisan ini bisa memberi sedikit inspirasi, baik bagi yang pro maupun yang kontra. Fastabiqul khoirot, fattabiru ya ulil albab...


54 Comments

al-azzam said...

"Maka dari pengalaman yang saya alami sendiri, saya jadi yakin, bahwa mentoring bukan sekedar aktivitas pembinaan keislaman semata yang berdiri sendiri. Ia disokong dan memiliki keterkaitan dengan PKS. Dan saya yakin pula bahwa kondisi seperti itu tidak kasuistik di kampus saya juga, tapi juga terjadi di beberapa kampus yang mengadopsi sistem serupa."

jujur kak, ini persis seperti apa yang terjadi dikampus saya juga.
dan saya sekitar februari kemarin setelah libur semesteran termasuk orang yang memberontak dan mempertanyakan kredibilitas mentoring saya dikelompok saya.

dan saya memutuskan kemarin untuk keluar dari liqo, dan Alhamdulillah sekarang telah menemukan pembinaan yang bari berbekal bertanya kepada teman waktu itu.

dikampus saya ini jelas sekali perbedaan mereka yang liqo dengan yang tidak liqo. salah satunya adalah saya sebagai korban. saya sempat disindir, dihindari, serta dipandang sebelah akan kredibilitas saya. ini jauh berbeda ketika saya dulu masih liqo bersama dengan mereka.

tapi ya sudah saya legowo menerimanya, toh sekarang saya sudah tidak perduli dengan mereka yang bersifat seperti itu. sejak itu, saya kembali meyakinkan dan memotivasi diri untuk giat dibidang science (ilmiah). Alhamdulillah bisa menghapus kegeraman saya terhadap mereka (maklum anak medan bawaaannya berantem atau emosi gitu) dan saya termasuk orang yang keras kepala.

intinya, saya sekarang fokus dengan study saya. dan untuk pembinaan, Alhamdulillah saya masih lakukkan.

liqo saya waktu sma dengan saat ini jelas berbeda. dulu, sewaktu sma sungguh jelas hanya membahas tentang islam secara utuh tanpa bumbu2 lain, seperti bedah sirah nabawi, ayat2 alquran!!!!

Asto Hadiyoso said...

MasyaAlloh Bang Ipin...
makin kakak sadar ternyata kondisi seperti ini memang sudah menggejala luas.

Semoga teman2 yang masih berkecimpung di sana bisa sedikit lebih rendah hati dan sadar pada problem yang menimpa saudara-saudara mereka seperti kita

Q said...

akhirnya...sudah lama saya tunggu tulisan ini kak. Ternyata bukan saya saja yg menyadarinya.

diki saefurohman said...

Saya senang mendapatkan artikel tentang mentoring ini. Jadi dapet gambaran pandangan tmen2 yang merasa terdzolimi dengan sebagian efek sistem pengelolaan mentoring. Fenomena 'diskriminatif' dan 'politisasi' dalam sistem mentoring memang tidak bisa diterima oleh akal sehat kecuali kita memahami agenda dan kepentingan harokah tarbiyyah 'alamiyyah (gerakan tarbiyyah internasional) atau dunia menyebut Al-ikhwan al-Muslimun. Kita tidak bisa memahami ini kecuali kita mempelajari manhaj secara ilmiah (studi literatur dan juga melalui narasumber terpercaya yang ada dalam struktur jama'ah) dan kalau bisa masuk secara mendalam ke dalam struktur jama'ah ini. Dalam hal masuk ke dalam struktur jama'ah tentunya dengan senantiasa mengikuti liqo, karena kurikulumnya sudah bersifat tadarruj/bertahap sesuai tingkatan pemahaman kita. Semoga bermanfaat :) Jzklh.

Asto Hadiyoso said...

@Mas Diki, syukron atas tanggapannya. Yoi, kita juga paham itu. Bukankah buku Risper itu jadi menu wajib di tingkat2 awal liqo? Ada eksistensi gerakan tarbiyah Ikhwanul Muslimin yang manhajnya serta ide-idenya kemudian diadopsi oleh PKS di Indonesia.

So, please janganlah anggap saudara-saudara yang merasa tidak nyaman dengan sistem ini sebagai orang-orang lugu yang belum paham apa-apa :-)

Tapi sekali lagi syukron atas tanggapannya

diki saefurohman said...

Hehe,.. berati itu kurikulumnya gak bertahap. Kitab Majmu'atur Rosa'il itu gak boleh disampaikan di awal2 liqo. Malah saya perhatiin rata2 orang yang udah tingkat 4 (tahun ke empat kuliah) yang liqo di IPB juga rata2 belum saatnya belajar kitab itu terkait marhalah yang belum sesuai. Berati kalau ada murobbi yang memberikan materi dari kitab Majmu'atur Rosa'il di awal2 liqo (baru 1, 2, 3, tahun) itu berati belum tahu kurikulum :) Efeknya gak memahami secara utuh, parsial. Semoga bermanfaat :)

Asto Hadiyoso said...

O...begitu ya
thanks deh buat infonya. Makin jelas lagi nih, fakta liqo yang dijadikan parameter penentuan strata seseorang...

saya pesan, yuk sama2 kita jaga diri agar nggak sombong. Sabda Rosululloh, salah satu ciri sombong itu merendahkan or meremehkan orang lain
^_^

diki saefurohman said...

sama2 mas ^_^ saya juga berpesan gitu :)

Lils said...

dulu memutuskan berhenti liqo, karena banyak hal yang saya rasa melukai keutuhan Islam, salah satunya yang saya alami, di tingkat dua kuliah diminta secara halus menyebarkan kampanye pilkada jabar usungan PKS di kampus, jam praktikum. nyeri sekali. seakan2 dakwah memihak, dakwah tak peduli etika independensi kampus, seolah dakwah agung hanya milik PKS, bukan milik rekan2 NU, Muhammadiyah, HMI,dan lainnya. saya yang tak banyak tahu tentang dakwah merasa, dakwah jauh lebih suci dari itu.
lugas sekali, pernah suatu ketika, seseorang mencibir banyak organisasi islam lain.
bahkan, pernah ada yang bilang, kostannya 'kecolongan' orang amah, entahlah itu apa, artinya ada orang awam atau bodoh agama tinggal d kostan yang hampir seluruh penghuninya da'iyah. saya sebal sekali mendengarnya. apakah bumi Allah ini hanya untuk orang2 shaleh? apakah kebaikan seseorang dinilai dari liqo' saja.. rasanya luka sekali, meskipun perkataan semacam itu ditujukan pada orang yang tidak saya kenal dekat.
bukankah kita sejatinya harus menjaga satu sama lain, bahkan tak pandang apa agamanya. lucu sekali ketika menemukan kader PKS ramah dengan teman2 non muslim, tetapi sangat tidak ramah pada teman2 yang berhenti liqo. lucu tetapi pedih. entahlah apa maksudnya. bagi saya, selama seseorang Islam, ia saudara saya, bagaimana pun perbuatannya. dan kendati seseorang bukan muslim, selama ia tak membunuh dan menghargai, wajib juga kita jaga perasaan dan keamanannya. wallahu a'lam.

Asto Hadiyoso said...

Hatur nuhun sanget Mbak (atau Mas?) Lils atas share pengalamannya...semoga juga jadi inspirasi bagi yang lain :-)

Anonymous said...

suatu saat Ali R.A di tanya oleh seorang rakyatnya saat beliau memegang ke khalifahan.
Mengapa pada saat engkau memimpin kami, ter jadi huru hara yang belum pernah terjadi pada khalifah2 sebelumnya.
Dan Ali R.A berkata, saat rasulullah dan para khalifah terdahulu memimpin, yang jadi rakyatnya adalah orang seperti ku.
tetapi pada saat aku menjadi khlaifah, yang menjadi rakyatnya adalah orang-orang sperti mu.

Aisa Aziza said...

terimakasih mas.. artikel ini benar2 mewakili dan telah menjawab kegundahan saya selama ini..

Nurul Inayah said...

untung saya bacanya pas sudah berhenti liqo. hehe..tapi, sama seperti post bagian pertama, saya setuju. Sejak kecil, dakwah yang saya tahu itu dakwah model NU dan MUHAMMADIYAH. meski keduanya ada perbedaan, itulah yang membekas di ingatan. saat di kampus, malah ada yg model ginian. yah..saya tidak se ;oyal teman-teman saya dengan liqo. liqo bagi saya itu tempat saya ngaji bareng-bareng dan silaturahim. itu saja. dan saya g berat untuk bilang "tidak" jika aktivitas liqo sudah di luar itu

Dea said...

cerdas banget....
akan lebih cerdas lagi jika kita juga melihat sisi positifnya dari apa yang telah saudara alami dan rasakan selama bertahun-tahun,.....
3 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk memahami semua, dan keputusan terakhir ada di tangan saudara. seandainya saya menjadi anda, mungkin saya akan bertahan di liqo PKS, karna selama 3 tahun itu, keindahan islam telah ku temukan, dan tak ingin ku ninggalkan.....
moga Allah memberikan jalan terbaik untuk kita semua...

Asto Hadiyoso said...

@Mbak Dea yang baik, terima kasih atas responnya. Saya yakin memutuskan berhenti liqo karena saya pun yakin bahwa Islam tidak hanya saya temukan di sana :)

Fitri said...

saya juga pernah ikut liqo i tahun pertama kuliah,,,awalnya seneng punya temen dan kegeiatan yang serba posistif sampai akhirnya pemilihan pemimpin PEMA (Pemerintah MAhasiswa) atau BEM kampus lah. saat itu saya setuju ikut memilih pilihan yang mereka saranin dengan alasan kepentingan dakwah dan islam. tapi setelah terpilih,,,sakit bukan main,,, saat teman sejurusan menghadap mereka dengan pakaian gembel maklum kuliah di teknik mesin cowoknya banyak yang tidak memikirkan penampilan. tapi jujur dia datang mewakili kami mahasiswa dalam masalah akademik. namun, sakit hatinya saya lagi teman saya pulang dengan tidak dipedulikan sama sekali, hanya disuruh tunggu. tapi tak tau siapa yang ditnggu. sampai masalah akademik kami tersebut kami sampaikan di grup PEMA di FB dengan bahasa yang cukup sopan,,(karena saya sendiri yang ketik, tapi pake label anak mesin),,bukannya dapat tanggapan malah di blok,,,,
saya pikir,,,apa2an ne kami pilih dia untur benar2 memikirkan kami seperti islam yang memikirkan pengikutnya,,,tp kok malah diabaikan,,,salahkah kami... jika dari mesin dengan berpakaian koyak,,toh koyaknya dibagian kaki,,,masalah ibadah,,,dia juga jalankan,,,dan kami bukan gembel gak bermoral yang gak paham agama kami kok,,saya juga muslim,,,tapi sering juga dipandang sebelah mata,,,dan kami juga bukan pembuat onar,,,

jadi heran saya,,,dimana letak dakwahnya coba jika kami sesama muslim saja tidak dipercaya oleh mereka yang datang dengan cara baik dan dengan problem muslim yang lain

Ali said...

Diskusi yang amat menarik...

muslimstia said...

Ya sudah, tidak usah dilanjutkan. yang masih liqa' teruskan, yang keluar dan memilih pembinaan lain silahkan. kita semua kan saudara dimanapun kita dibina asalkan mengikut ahlussunnah wal jamaah insya Allah benar, dan seharusnya kebenaran itu membuat kita mampu menjadi hamba Allah yang arif, produktif, bermanfaat bagi kepentingan ummat. kalau seluruh pengalaman pahit kita tumpahkan dan menjadi konsumsi publik saya khawatir kearifan, kedewasaan dan kebijaksanaan masing2 kita yang merupakan buah dari keimanan menjadi bulan-bulanan musuh utama kita (syaithan dan pengikutnya).

Anonymous said...

Sya setuju dengan muslimstia, jangan sampai hal ini menjadikan kita menjelek2kan saudara/i kita sesama muslim hanya karena perbedaan sekecil ini. Masih banyak masalah ummat yg memerlukan penyelesaian.

justan said...

Saudara2ku yang baik. Hidup ini pilihan anda liqo atau tdk juga pilihan, berbuat baik dan buruk juga pilihan. Kadang2 kita selalu mengambil sebuah kesimpulan atau pernyataan blum tuntas apa yang kita dapatkan atau blum kita menggali lebih dalam tentang suatu hal. Kita mesti tau bahwa hampir semua gerakan2 mahasiswa itu punya afiliasi dan itu suatu keniscayaan sebagai sarana regenerasi tapi yang perlu kita cermati selama gerakan tersebut mengajak kita kpd yang baik apalagi mengajak kpd kesholehan tidak pantas berkomentar yang kurang pantas.

Supriatna Ufree said...

liqo atau tidak itu pilihan. tapi pastikan saja ketika liqo kita niatkan ibadah, ketika berhenti juga niatkan untuk ibadah..

p maduratna said...

jd.. bisa rekomendasikan ke saya tidak alamat utk liqo? krn saya ingin mempelajari islam lbh baik.. alamat di jatiuwung tangerang :)

Anonymous said...

cuma mau koreksi : " walaa tus aluuna 'ammaa kanuu ya'maluun" dan kalian tidak akan ditanya tentang apa yg mereka lakukan.

Asto Hadiyoso said...

Hatur nuhun atas koreksinya. Barokallohu fik :)

Aldian Farabi Tanjung said...

Oh, ini toh tulisan yang dibicarain itu.

Robby Ashar said...

aduuuuuh, . . . ini pada kenapa c??

Ada PKS ataupun tidak ada PKS, liqo itu tetep jalan. Emangnya liqo itu karena PKS?? trus di negara mesir, brunei, arab, Malaysia, Turki, Palestina dan negara2 lain mereka liqo itu karena PKS?? Kebagusannn, . .

Idiih, 'kecil' banget hati mereka kalo liqo itu hanya karena PKS. Ini nih yang namanya belum ngerti.

Makanya mind set nya benerin dulu sebelum nulis. Jadi menyesatkan orang tau. Kasian orang2 yg asalnya mau belajar agama dengan sarana Liqo jadi pada ketakutan duluan.

Sekali lagi, ada PKS ataupun tidak ada PKS, liqo itu tetep jalan.

Bukan liqo karena ada PKS tapi kebalik, . . . PKS itu ada justru karena liqo. Program liqo ada karena Tarbiyah (pendidikan).

Jangan pikir sy ngomong gini karena baru liqo cuma 4-5 tahun yah, itu terlalu sebentar utk mengerti, . . udah lama tauuu . . . . .

Main dulu deh keluar negeri, liat secara universal, . . pasti ngerti, . . .

Temen sy yg PhD dateng dari Brunei, mereka ceritain sistem tarbiyah dan liqo disana, kagak ada tuh ngomongin PKS, karena emang bukan karena PKS kaliii, . . .

Trus kenapa di Indonesia ada PKS? Yu kita ketemu, kita ngobrol, tenaaaang sy bukan orang partai. . . kagak ada kepentingan masukin situ ke PKS. Klo ngajak situ untuk terus memegang teguh dengan Al Quran dan As Sunnah, itu emang kepentingan sy, hhe

Asto Hadiyoso said...

Hatur nuhun Pak Robby atas perhatiannya. Kalau Bapak membaca lagi tulisan di atas dengan seksama, poin tulisan saya clear kok :)

Anonymous said...

iya om! malahan di smp saya liqo itu udah masuk kurikulum pelajaran -_- bukannya saya nggak mau liqo, kalo misalnya liqo itu bebas--memperbolehkan siapa aja belajar di tempat liqo--tapi kenapa ibu saya pernah mau ikutan liqo tapi gara-gara pake cadar jadi dikeluarin, katanya gak boleh ikut liqo kalo pake cadar.

Anonymous said...

apapun yang terjdi dan apapun tanggapan orang,,saya tetap liqo. selama tak ada keraguan didalamnya.. lakukanlah..
sy ikut liqo sdh ckp lama, tp sy bukan kader PKS. tp kl harus parpol sy msh lbh suka PKS. :-)
bagi saya mentoring/liqo adlh metode pmbelajaran yg efektif untk mengenalkan islam yg kaafah pd masyarakat.
yg mau liqo, lanjut aja.. yg mau berenti ttp cari kebaikan d tempat lain.. tmpat mncari ilmu luas ikhwah, tp liqo sistem yg paling tepat untk memahami islam buat saya. terima kasih mas asto dan tmn2 yg lain atas pendapatny ttg liqo.. bs jd evaluasi dlm mengeratkan ukhuwah. jazakumullah..

Anonymous said...

saya jg liqo di bawah naungan partai PKS , yang jadi murobi paman saya sendiri anggotanya para saudara dan keluarga , udah tiga tahunan liqo tujuannya cuma membentuk pribadi muslim yang sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad tanpa adanya embel-embel dari PKS , jd yg kami lakukan murni ajaran Islam tanpa ada sangkut pautnya dengan parpol . semoga aja akan tetap seperti ini karena saya jg ga bakal mau ikut kalo ada unsur parpol atau politik lainnya

nita said...

sama dengan pengalaman saya. liqo' dari kelas 1 SMA sampai kuliah semester 2, sampai akhirnya saya menyadari keterkaitan liqo' dengan politik praktis. kemudian saya keluar dan lebih memilih netral. hal ini didukung oleh background keluarga saya yang muhammadiyah kental.

Anonymous said...

Jadi...

Ini November 2014. Bagaimana? Apakah keluar dari Liqo-PKS menurut aganadalah pilihan yang (masih) benar?

Anonymous said...

Sudah lama saya menunggu artikel2 seperti ini. Dan saya sangan senang bisa membaca ini. Ternyata bukan saya doang yang ngerasain :')
Sekarang saya sekolah di salah satu SMA di manggarai, jakarta selatan. Di ekskur rohis sekolah saya, alumni itu dianggap dewa. Saya mulai memberanikan diri untuk bertanya pertanyaan2 logis kepada murabbi saya tentang apa hubungannya PKS dengan kegiatan kita. Setelah tanya - jawab, alhasil murobbi saya diam. Kemuadian saya dijauhi para alumni dan teman2 saya. Tapi saya biasa aja. Karena teman bukan hanya daro rohis, toh?

chairul rachman said...

intinya...kta sbagai umat muslim jangan mudah terpecah belah...karna musuh2 islam akan mudah ketika umat sudah terpecah belah..banyak2 beristigfar...tetap bpegang teguh dengal alqur'an &Al hadits..."umat islam saat ini seperti halnya buih dilautan yang kumlahnya banyak tapi tidak mempunyai daya" maka dari itu janganlah kalian smua mudaj tpecah belah...
lebih baik perbanyak dzikrullah..jadilah ikhwan&akhwat yang Arif dalam menyikapi sbuah masalah...ana stuju dngn pndapat akh/ukh muslimstia :)

Anonymous said...

Maaf saudaraku ahadiyoso. Jika saat ini.september 2015.kehidupan ahadiyoso sedang kurang baik,segeralah kembali melingkar,rasakan teman-teman sedang menunggu disana.mereka baik kok.pasti menerima Anda kembali. Allah selalu memberi kita ganti yang lebih baik.

Fari said...

Jakarta, Aktual.com — Guru besar hukum tata negara Jimly Asshiddiqie menghadiri pembukaan Musyawarah Nasional Partai Keadilan Sejahtera ke-4 di Depok, Jawa Barat, Senin (14/9). Jimly yang kini menjabat sebagai Ketua DKPP datang sebagai tamu pejabat negara.

Nah, dalam kesempatan itu, Jimly menyinggung beberapa anggota masyarakat seakan tidak pernah kapok membuat partai politik? Apa maksudnya…

BACA SELENGKAPNYA DI :

Kenapa Orang Indonesia Tidak Kapok Bikin Parpol?

Sadari Mintarja said...

Saya adalah secara pribadi adalah hasil dari mentoring di Kampus di tahun 1987 sd 2002,lalu tiba tiba 2009 dicalonkan menjadi anggota Dewan, seizin Allah jadi hingga periode ini-dengan bekal mentoring yang dulu didapat kami memperjuangkan nilai-nilai islam diantaranya MENGHAPUS perda (Diskotik,SPA,Karaoke,Pijat Tradional(salah satu sarana Zina),Permainan (salah satu sarana judi) serta melahirkan Perda Diniyah (wajib bisa baca quran lulus SD), Perda AID/HIV, Perda BPR Syariah,Perda TIBUN (didalamnya pelarangan miras dan perzinahan) serta perda lainnya-dimana periode lalu ada. yang tak kalah penting adalah memperjuangkan anggaran yang pro rakyat (islam) pada setiap tahunnya, diantaranya masjid Jami setiap kecamatan, tunjuangan untuk para ustdz, Pesantren dan sarana ibadah lainnya..yang semuanya ini pada periode lalu TAK ADA.
Jadi dengan mentoring masa lalu dan sekarang menjadikan pribadi ini tetap konsistem dalam memperbaiki bangsa ini.
Jadi apakah orang cerdas dan solih (mahasiswa) itu akan meninggalkan mentoring-lalu hanya menjadi penonton atau komentator??? atau takut jadi pemain karena kwatir di slengkat,di tekel atau sengaja di jorokin.

muslim said...

pengen nyari tempat liqo di area tangerang jatiuwung mohon infonya trimakasih

Anonymous said...

bismillah. semoga baca komen ini.

saya sendiri nggak baca tulisannya secara penuh, tapi mungkin mau ngasih saran aja selain mentoring versi yang kamu tulis di blog ini.

Saya nggak tau apakah kamu udah ikut apa belom. Tapi ada mentoring lain yang full ngebahas tentang islam, apa itu:

mentoring KAJIAN KITAB. Iya kajian kitab berarti ngebahas satu kitab ulama, lalu ditelaah sampe tuntas.

Dan ini lah yang saat ini sedang saya lakukan (baru mulai juga sih).

Mungkin contohnya bisa dilihat di channel youtube salah satu ustadz yaitu Ustadz Hasan Al-Jaizy

Kajian Kitab Ushul Tsalatsah

barakallhu fiikum! :)

ayu Melanie As said...

saya sedang mencari tempat belajar untuk memperdalam ilmu agama di daerah depok.. tujuan saya cuma satu " INGIN BELAJAR ILMU AGAMA" BUKAN TENTANG PARTAI DAN LAIN HAL.. so,yang tau tempatnya mohon info nya untuk daerah depok,, contact saya WA: 081291379200. jzkllh khairan katsran.. :)

Unknown said...

alhamdulillah allah melindunggi dari niatan dan muslihat buruk dengan menjual agama untuk sesuatu .
saya mengalaminya saat kelas satu sma . pada saat itu sedang semangat semangatnya belajar agama. setelah 6 bulan berjalan kami dimntai fotokopi katp ternyata untuk data pendukung salah satu caleg . kami merasa tertipu sekali dengan seorang ibu yang kami panggil murabi . saya hanya kecewa niatnya mengajarkan kami agama karena sesuatu bukan karna niat dakwah. saya orang yang sangat awam tentang agama . tapi saya tidak rela ajaran agama dijadikan tameng untuk sesuatu .

Anonymous said...

Assalamualaikum wr wb Disini Saya Hanya Menyampaikan Pendapat Saja.

Saya Baru baca nih Part 1 sama 2 nya. Si
Penulis Hanya Tau Yg namanya Mentoring/Liqo INI Cuma Hanya Sampai Kulitnya Doank!!! Liqo itu Berfungsi sebagai Sarana Untuk Belajar Dan Berdakwah Ke Masyarakat!!! Jadi Jangan Asal Ngepost Deh Kalau Belom Tau Apa Apa!!! Itu Cuma Saran Saya Karna Saya Tau Mamfaat Liqo Sebagai Sarana Siraturahmi Dan Menambah Ilmu ,Dan masih banyan mamfaat lainnya. Jadi Yg Ingin ikut Liqo Gk Usah takut Sama Yg ditulis Sipenulis Post Dan Yg Sudah Ikut Liqo Terus Lah Jalani Liqo Karna Liqo Akan Mempermudah Kita Menjalani Hidup ini. Dan INGAT!!!! LIQO Itu adalah Kegiatan atau HAL Yg POSITIF!!!!

Ani Nuraeni said...

Assalamualaikum ....
maaf saya mau tanya sebenarnya liqo sendiri itu apa ?tujuannya yg sebenarnya apa ?...

Soalnya saya baru pertama kali ikut liqo...
ya saya kira liqo itu seperti kajian yang suka diadakan d majelis 2 ...tpi yg saya bingung in kenapa ketika saya g bisa hadir harus izin ... soalnya kalau saya ikut kajian d masjid2, ya kalau g bisa hadir g mesti izin jadi kapan aja kita boleh ikutan ....

Ani Nuraeni said...

Assalamualaikum ....
maaf saya mau tanya sebenarnya liqo sendiri itu apa ?tujuannya yg sebenarnya apa ?...

Soalnya saya baru pertama kali ikut liqo...
ya saya kira liqo itu seperti kajian yang suka diadakan d majelis 2 ...tpi yg saya bingung in kenapa ketika saya g bisa hadir harus izin ... soalnya kalau saya ikut kajian d masjid2, ya kalau g bisa hadir g mesti izin jadi kapan aja kita boleh ikutan ....

Monicha Septya Harni said...

Izin menjawab pertanyaan mba ani ya mas asto.

Mba ani definisi liqo sudah dijelaskan mas asto ditulisan pertama paragraf kedua. Liqo adalah salah satu satu sarana (sekali lagi hanya salah satu) pembinaan keislaman. Bentuk pembinaan yg lain apa? Yah tasqif, jalasah ruhiyyah dll(Sebenernya sudah sedikit disinggung juga oleh mas asto). Inti materi liqo sama seperti kajian di mesjid pada umumnya. Hanya saja yg membedakan adalah pembinaan liqo itu pembinaan intensif hingga tataran individu yg dibina. Jadi guru (murobbi) benar-benar memperhatikan kondisi yg dibina. Makanya dalam satu lingkaran liqo dibatasi 10-12 org saja. Justru inibyg membedakan dengan kajian2 di mesjid pada umumnya yg datang dan pulang. Makanya kenapa harus izin kalau ga hadir, ya supaya murobbinya tau kondisi mbaknya gimana. Sedang sakit kah? Sedang ada masalah kah? Sedang sibuk kah? Pertanyaannya adalah "kok bisa2nya mau ya, ada org yg terkadang ga dikenal, ga dibayar, mau bagi ilmunya, membina secara privat begitu?" Ga usah dijawab, direnungkan saja. Hehe

Secara umum seperti itu mb ani, sekali lagi liqo hanya slah satu sarana pembinaan. Mba ani sangat disarankan mencari sarana lain untuk mendapatkan ilmu yg lebih banyak hehe

Desri Ayu said...

Afwan mba monica izin menaggapi.. Tntag logika org yg begitu peduli sm kt meski g kenal itu kt harus berfikir husudzon kan? Itu karea murabbi pgn memberi ilmunya sbagaimana ia berdakwah dgn berlandaskan hadist sebaik"nya org yg mengajar Al Qur'an" itu. Kra dakwah adalah cinta, ia ingin mmebawa kt pd kebaikan. Ini jg bkn berarti stiap murabbi ingin membbawa kt pada pengkaderan politik. Aku ga suka sm politik. Aku tarbiyah karnna ingin ilmunya. Dan murabbi" tdk pernnah memaksakan kami unntuk masuk ke dalam perpolitikan. Karena politik adalah politik dan dakwah adalah dakwah. Hehe. Wallahualam

PoOtry SUryaningsih said...

saya belum baca semua artikel ini, lebih banyak membaca komentar2nya,
dari pengalaman saya.. saya sudah 8 tahun berada di liqoan PKS. selama 8 tahun ini, murabbi tidak MELULU membicarakan tentang kepartaian, tidak SELALU mengalihkan agenda liqo ke acara kepartaian, dan setiap member liqoan ini, mereka semua juga tidak dipaksakan menjadi kader PKS. di LIQOan ini saya merasa lebih banyak mendapatkan Ilmu, men-cas ruhiyah disetiap pekannya. dan tidak selalu soal kepartaian, kembali lagi, terserah masing2 personalnya saja,.

Anonymous said...

Wah, tulisan ini awet sekali, ya, Mas Asto. Saya baca komennya, dari 2011 sampai sekarang masih lanjut dibahas. Tapi saya tidak bisa menemukan tulisannya.

Izin berbagi cerita sedikit, ya.
Sayakenal liqo sejak 2005, saya masih 13 tahun waktu itu. Kemudian merasa tidak nyaman sejak 2011, tetapi tetap lanjut sampai 2014 karena kadung jadi pengurus dakwah kampus. 2015 vakum sampai sekarang.
Saya akui, dari liqo saya jadi tahu bahwa menutup aurat itu wajib. Bisa dibilang, liqo mengubah banyak hal dalam hidup saya.
Lama-lama, seiring beranjak dewasa dan mencoba berpikir dari berbagai perspektif, saya merasa orang-orang yang liqo ini kok ya suka merasa benar sendiri, membeda-bedakan orang berdasarkan liqo-tidak liqo dan seberapa lama liqo. Aduh.

Minggu lalu saya coba mulai liqo lagi dengan murabbi yang baru karena memang merasa butuh asupan kalbu. Saya bilang ke Murabi bahwa saya sudah tidak liqo selama satu tahun. Jeng jeeeeeng.. saya dibilang kabur dan tidak tahu adab. Ya memang sih ketika bersama kelompok liqo terakhir, hanya satu bulan saya langsung berhenti tanpa kabar.
Selain suka menghakimi, murabi saya yang ini kurang gaul dan tidak terlalu dalam ilmunya, salah salah ketika menyebut dalil Quran dan yang dibahas pun hanya bagian permukaan. Duh Gusti, kan saya jadi timbul penyakit hati.
Ini hanya oknum, ya, oknum. Murabi saya yang lain keren luar biasa kok.

Saya berpikir untuk ikut pembinaan di kelompok lain saja. Tapi saya tidak tahu harus mencari ke mana. Mungkin teman-teman ada ide?

Anonymous said...

Liqo terakhir saya sekitar tahun 1993 ( dah tuir yaa ), masalahnya masih klasik ya..sekedar pesan saja , tujuan Liqo adalah untuk memahami Islam yang benar , yang sesuai Al Qur'an dan hadist. Zaman saya dulu Liqo belum tersistem dan belum ada partai, jadi tidak ada module acuan seperti saat ini..Setelah mengaji di tempat lain saya mendapati awal kajian adalah Tauhid memahami makna laa ilaha illallah , belajar tafsir kemudian kembali ke kitab2 klasik seperti bulughul mahram dll yg tidak saya temukan di Liqo. Mengetahui tingkatan hadist sbg acuan fiqh dll dll yang tidak ada habisnya. Membenarkan bacaan Qur'an mendekati guru2 yang sudah dapat sanad dll dll..yuuukk belajar agama dimana saja , ada kajian2 di Al islam Bekasi , radio Rodja ada radio Taman Hidayah, ada hidayatullah ,ustadz Khalid Basalamah, ustadz Arifin Ilham dll dll...yukk open your mind , meyakini suatu saat khilafah terakhir akan bangkit kembali, hilangkan ashobiyah ( kesukuan atau bangga akan kelompok tertentu ).

Levry said...

[1/4]
Tulisan yang menarik dan juga menarik untuk dikomentari. :-)

Saya sangat berharap komentar saya ini dibaca oleh penulis, orang-orang yang telah membaca, maupun yang akan membaca artikel ini nantinya.

Sebelumnya, perlu diketahui bahwa saya adalah seorang muslim yang terlahir di lingkungan NU, berguru pada para Ustadz Muhammadiyah, kadangkala mengikuti beberapa kajian dari para ulama Salafi, serta seringkali berhubungan dengan orang-orang dari berbagai latar belakang kelompok, baik dalam aktifitas dakwah maupun berbagai aktifitas lainnya, termasuk juga mengikuti liqo' seperti yang telah dipaparkan oleh penulis.

Berangkat dari latar belakang tersebut, saya kemudian terus berupaya menjadi muslim yang bisa merangkul dan diterima di semua golongan, untuk mewujudkan impian yang besar, yakni menyatukan umat Islam di seluruh dunia. Bukan dengan nama NU, Muhammadiyah, PKS, dan sebagainya, melainkan satu nama, yaitu ISLAM.

Terkait dengan apa yang disampaikan oleh penulis, saya rasa memang sangat wajar jika orang-orang yang tergabung dalam aktifitas liqo' ini kadangkala memiliki pemikiran-pemikiran semacam itu. Hal ini disebabkan karena kurang utuhnya pemahaman mengenai gerakan ini dan mungkin para murabbi pun kurang pandai dalam memahamkan kepada para binaannya. Namun ini bukan berarti saya sudah sangat paham, karena saya pun masih perlu banyak belajar.

Satu hal yang saya rasa sangat penting untuk kita pelajari adalah mengenai bagaimana sejarah dari pergerakan ini. Jika kita berfikir untuk menghubungkan liqo' dengan PKS, ingatlah terlebih dahulu bahwa liqo' ini sudah ada sebelum PKS ada.

Aktifitas liqo' ini banyak dipengaruhi oleh pemikiran dari gerakan Ikhwanul Muslimin yang ada di Mesir. Kenapa demikian? Mari kita simak terlebih dahulu penjelasan mengenai Ikhwanul Muslimin (IM) di bawah ini.

Al-Ikhwan al-Muslimun adalah sebuah gerakan Islam terbesar di zaman modern yang lahir di Mesir dan didirikan oleh Hasan al-Banna pada bulan Maret tahun 1928.

Lahirnya gerakan Ikhwanul Muslimin tidak lepas dari akibat Perang Dunia pertama. Setelah Perang Dunia pertama, negara-negara Barat mulai menguasai negara-negara lain termasuk negara-negara Islam. Hegemoni Barat tidak berhenti hanya dalam penguasaan wilayah atau bidang ekonomi saja, namun lebih dari itu pengaruh mereka sudah menyentuh tataran ideologi dan kultural.

Begitu besarnya pengaruh Barat terhadap negara-negara Islam di Timur Tengah yang juga menyebabkan munculnya pergolakan-pergolakan dalam kalangan rakyat Mesir membuat Hasan al-Banna ingin melakukan perubahan-perubahan di Mesir.

Ada dua cara yang dilakukan Ikhwanul Muslimin untuk merealisasikan pemikiran dan cita-citanya. Pertama, melalui jalan tasawuf yang benar dan ikhlas dalam bekerja untuk pengabdian bagi kemanusiaan. Kedua, melalui pendidikan dan pengajaran (tarbiyah). Gerakan Tarbiyah atau gerakan pendidikan adalah gerakan dalam membentuk, mengajarkan atau menanamkan nilai-nilai Islam kepada anak, siswa ataupun orang-orang yang dituju dalam kepentingan dakwah.

Secara umum, IM memandang bahwa Islam adalah agama yang menyeluruh dan meliputi segala lini kehidupan. Maka dari itu, Islam sudah sepatutnya tidak hanya digunakan dalam aspek ritual, melainkan juga harus diimplementasikan dalam kehidupan manusia dalam berbagai aspek, seperti aspek sosial, ekonomi, budaya dan politik.

Ikhwanul Muslimin menjadi sebuah organisasi yang cenderung moderat, karena beliau lebih mengedepankan dakwah secara damai. Hasan Al-Banna selalu mengatakan dengan tegas bahwa ia tidak berniat untuk melakukan kudeta atau mengambil alih kekuasaan, karena tujuan utama dari IM adalah pendidikan. Selain itu, Hasan Al-Banna menganut prinsip keterbukaan dan inklusifitas, artinya beliau tidak menjadikan IM sebagai organisasi yang tertutup yang hanya diperuntukkan bagi kalangan tertentu saja, melainkan sebagai sebuah organisasi yang terbuka bagi siapa saja.

Levry said...

[2/4]
Bagaimana Ikhwanul Muslimin bisa masuk ke Indonesia???

Masuknya pemikiran IM ke Indonesia dapat dihubungkan dengan peranan Muhammad Natsir dan secara kelembagaan melalui Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII). Sebagai mantan ketua umum Masyumi pada jaman orde lama, Natsir tergugah mengadakan pengkaderan kepada generasi muda muslim. Setelah keluar dari tahanan Orde Lama tahun 1966 yang diikuti dengan gagalnya rehabilitasi Masyumi, Natsir mulai memikirkan bagaimana berpolitik tanpa melalui partai politik. Menurutnya dakwah dan politik seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan.

Pada tanggal 26 Februari 1967 atas undangan pengurus masjid Al Munawarah, Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat, para alim ulama bermusyawarah untuk membahas berbagai masalah yang berkaitan dengan permasalahan umat.

Musyawarah ini memutuskan untuk membuat lembaga baru yang diberi nama Dewan Dakwah islamiyah Indonesia (DDII) yang diberi amanat untuk melaksakan tugas dakwah. Natsir melihat ada tiga fondasi utama kekuatan umat islam yang harus dijaga dan dikembangkan dalam konteks dakwah, pertama dunia pesantren, kedua masjid, ketiga kampus. Menurutnya ketiga fondasi ini harus memiliki jaringan yang integral satu dengan lainnya.


Di tahun 1968, Natsir beserta teman-temannya membina generasi muda kampus (khususnya dosen) sebanyak 40 orang yang berasal dari berbagai kampus di Indonesia. Sekembali dari pembinaan tersebut mereka mengembangkan pemikiran keislaman seperti apa yang mereka terima dalam acara tersebut. Pembinaan ini diadakan berkelanjutan tidak hanya sekali dan menunjuk Imadudin sebagai Ketua Koordinator.

Menindaklanjuti kegiatan pengkaderan tersebut, maka DDII pada tahun 1974 melaksanakan suatu program yang disebut dengan Bina Masjid Kampus. Program ini mengusahakan pembangunan masjid disekitar kampus untuk dipakai berbagai aktifitas. Fasilitas masjid ini diperlukan agar pembinaan Islami tetap terjaga. Pembangunan masjid kampus ini dilakukan di berbagai wilayah di Indonesia. Masjid-masjid kampus seperti Masjid Salman di ITB, Masjid Arif Rahman Hakim di UI, dan masjid kampus lainnya menjadi pusat kegiatan mahasiswa muslim. Muncul forum-forum diskusi yang membahas tentang Islam tidak lagi hanya dalam ranah ibadah, namun dibahas juga Islam dalam berbagai sisi kehidupan, sosial, ekonomi, dan politik.

Proses perkenalan para aktivis mahasiswa muslim dengan pemikiran Ikhwanul Muslimin tidak dapat dilepaskan dari peran para alumni mahasiswa Indonesia yang belajar di Timur Tengah. Para alumnus ini bersentuhan langsung dengan para aktivis IM di Timur Tengah. Sekembalinya ke Indonesia mereka mulai memperkenalkan pemikiran IM melalui forum-forum yang telah ada di masjid-masjid kampus.

Para alumnus Timur Tengah seperti Abu Ridha menterjemahkan buku-buku Ikhwanul Muslimin ke dalam bahasa Indonesia. Natsir meminta kader-kader muda tersebut untuk menterjemahkan buku-buku IM seperti buku-buku Hasan Al Banna, Yusuf Qardhawi, Sayyid Qutb. Dan diterbitkan melalui Media Dakwah, lembaga penerbitan DDII. Penerbitan buku-buku IM ini membantu penyebarluasan pemikiran-pemikiran IM terutama di masjid-masjid kampus.


Levry said...

[3/4]
Pengaruh gerakan dan pemikiran IM di Indonesia tidak memiliki nama yang resmi. Metode (manhaj) yang digunakan ialah usrah. Usrah yang berarti keluarga merupakan manhaj yang diciptakan oleh IM untuk melaksanakan suatu pendidikan islam bagi anggota-anggotanya.

Nama Usrah yang di awal dikenal perlahan mulai ditinggalkan karena kata usrah dianggap seperti mengandung suatu kerahasiaan dan eksklusifisme. Dengan model yang tidak jauh berbeda, pada pertengahan 80-an kegiatan-kegiatan keislaman dalam kelompok-kelompok kecil di masjid kampus itu dikenal sebagai Gerakan Tarbiyah.

Gerakan ini mendapatkan pengaruh yang sangat kuat dari sistem dan manhaj dakwah yang dikembangkan IM. Transformasi tersebut semakin besar dengan semakin banyaknya buku-buku dari tokoh IM yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Proses tarbiyah terjadi terus menerus dimana para anggota akan dididik melalui proses pendidikan sampai pada tingkatan anggota tertinggi yang siap menjalankan tugas yang lebih besar. Selain daripada itu, para kader yang telah terdidik akan berinteraksi dengan lingkungannya sesuai dengan kemampuan jangkauan mereka, kemudian menjadi penyeru sekaligus pendidik (murabbi) Islam di lingkungannya.

Melalui tarbiyah yang sistematis dan berkesinambungan dengan berpedoman pada Al Quran, Hadis, dan kehidupan para salafus sholih (orang saleh terdahulu), serta berpegang pada ushul fiqih (dasar-dasar hukum fiqih) dan qowa’id syar’iyyah (kaidah syariah) diharapkan dapat membentuk suatu kebangkitan dan kekuatan umat untuk mengibarkan fikroh (pemikiran) Islam.

Salah satu cara untuk mengimplementasikan tarbiyah yakni dengan melaksanakan halaqoh atau liqo' yang berarti pertemuan atau perjumpaan. Halaqoh pada dasarnya adalah kelompok pembinaan yang dilakukan untuk mengkader orang-orang yang mau untuk ikut memperjuangkan Islam dengan jumlah yang terbatas, biasanya satu kelompok itu 10-12 orang, dibimbing oleh satu fasilitator yang disebut dengan murabbi. Halaqoh berfungsi sebagai sarana pembinaan akidah, ibadah, akhlak, dan wawasan seseorang sehingga dapat mengaplikasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata.

Lalu apa hubungannya dengan PKS?

Runtuhnya rezim Orde Baru membawa angin segar bagi pergerakan Islam. Banyak pergerakan Islam yang pada masa Orde Baru berjalan di bawah tanah mulai menampakkan dirinya. Banyak organisasi Islam yang bermunculan setelah masa Orde Baru. Gerakan Tarbiyah sebagai suatu gerakan tidak luput dari momen ini.

Di tengah-tengah atmosfer perubahan di tahun 1998, diadakan suatu survey berbentuk jajak pendapat (polling) yang bertujuan menjajaki aspirasi para aktivis dakwah dalam menanggapi situasi reformasi yang kala itu tengah terjadi di Indonesia. Inti pertanyaan yang diajukan dalam polling tersebut adalah bentuk apa yang akan ditampilkan untuk muncul ke tengah public pada era reformasi, apakah berbentuk organisasi massa, organisasi politik, atau tetap mempertahankan bentuk penampilan yang selama ini digunakan , yaitu dalam bebagai bentuk yayasan dan lembaga.

Polling yang dilakukan ternyata cukup efektif, dari 6000 kuesioner yang disebar, kembali kurang lebih 5800 kuesioner (97%). Dari 5800 koresponden yang mengisi kuesioner tersebut hasilnya cukup mengejutkan. 68% lebih diantara mereka menginginkan untuk mendirikan partai politik. Hanya 27% saja yang menginginkan untuk mendirikan organisasi massa (ormas). Sementara sisanya menginginkan untuk mempertahankan dan kembali ke habitat mereka semula, yaitu dalam bentuk yayasan, LSM, kampus, pesantren, dan berbagai lembaga lainnya.

Atas dasar hasil yang didapatkan kemudian berkumpul 52 orang yang mewakili berbagai kalangan yang cukup representative untuk membahas jajak pendapat itu. Kemudian 52 orang ini dikenal sebagai Dewan Pendiri atau Deklarator Partai Keadilan (kini menjadi PKS) yang diketuai Dr. Hidayat Nur Wahid dan dideklarasikan pada tanggal 9 Agustus 1998 di lapangan masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru dihadapan 50.000 simpatisan dan pendukungnya.

Levry said...

[4/4]
Setelah membaca sejarah tersebut, saya rasa tidaklah bijak kalau kita hanya memandang bahwa aktifitas liqo' tersebut semata-mata untuk pengkaderan PKS.

Sebagai umat muslim semestinya kita memahami bahwa Islam itu bersifat menyeluruh, ia meliputi segala sesuatu. Maka perjuangan kita dalam menegakkan Islam pun tidak hanya terbatas dalam masalah ibadah berupa shalat, puasa, dan sebagainya. Tapi Islam juga harus diperjuangan dalam bidang sosial, ekonomi, termasuk politik.

Untuk bergerak dalam berbagai bidang tersebut, tentu kita memerlukan sarana. Oleh sebab itu, agar dapat turut andil memperjuangkan Islam di bidang politik, didirikanlah sebuah partai politik karena itulah cara yang paling memungkinkan dalam kondisi negara kita saat ini.

Tidak hanya di bidang politik, di bidang-bidang yang lain pun telah dibentuk berbagai sarana tersebut. Dalam bidang pendidikan contohnya SDIT, di bidang sosial kemanusiaan ada PKPU, serta ada IZI di bidang ekonomi.

Lalu kenapa aktifitas liqo' bahkan beberapa lembaga yang saya sebutkan di atas selalu dikaitkan dengan PKS?

Karena memang melalui nama PKS itulah saat ini gerakan tersebut bisa memiliki legalitas hukum di negeri ini sehingga dapat lebih mudah bertahan dari ancaman orang-orang yang berusaha menghancurkannya.

Kalau kita lihat bagaimana orang-orang liqo' di zaman dahulu, mereka harus sembunyi-sembunyi, bahkan sandal pun harus dibawa masuk ke rumah supaya tidak ketahuan. Tapi kemudian dengan adanya PKS, kita tidak perlu lagi seperti itu karena liqo' bisa dianggap sebagai aktifitas formal dalam rangka pembinaan kader yang tentunya memiliki legalitas hukum yang sah.

Contoh lain yang pernah terjadi adalah ketika ada aktifis dakwah yang ditangkap karena dituduh sebagai teroris akhirnya dibebaskan karena ia mengaku sebagai kader PKS dan itu dibenarkan oleh para petingginya.

Di samping itu, melalui sarana inilah kita bisa merangkul semua golongan. Coba Anda pikirkan, apakah mungkin seorang kiyai NU terdaftar sebagai anggota Muhammadiyah ataupun sebaliknya?

Kalau kita menamakan diri dengan ormas Islam baru sebagaimana NU dan Muhammadiyah tentu akan lebih sulit untuk menyatukan umat Islam, bahkan terkesan semakin menambah perpecahan umat Islam itu sendiri.

Akan tetapi, dengan adanya PKS ini, kita bisa merangkul seluruh umat Islam dari berbagai golongan sehingga menjadi lebih mudah dalam mewujudkan persatuan umat Islam untuk selanjutnya bersama-sama menegakkan syariat Islam di muka bumi ini.

Ingatlah, PKS hanya nama partai politik yang mungkin suatu saat nanti kita tidak membutuhkan lagi nama tersebut. Dalam hal keislaman, ini bukan merupakan aliran baru, karena kita sama-sama berupaya untuk mencapai ISLAM yang satu, yakni yang diwahyukan Allah kepada Nabi Muhammad SAW.

Asto Hadiyoso said...

Terima kasih Mas Levry atas komentarnya. Jazakalloh.

Saya coba rangkum tanggapan saya ya
---
1. Paradigma bahwa gerakan Islam harus inklusif, mengedepankan pendekatan damai, syamil, menjangkau seluruh sisi kehidupan, and so on, tidak hanya ada di IM dan PKS bukan?

2. Alasan logis munculnya PKS (yang sebelumnya PK) sebagai entitas politik hemat saya hanya soal aspirasi. Jauh sebelum PK lahir, sudah ada Masyumi, Partai NU, PSII. Di masa Orde Baru, ada PPP. Di era Reformasi juga ada PBB, PBR, PAN, PMB, dst. Nah, saya ingin tanya, mengapa ketika para aktivis dakwah melakukan jajak pendapat, mereka tidak menghidupkan Partai "Ummat" yang sudah ada sebelumnya alih-alih membentuk partai baru? Menurut saya jawabannya simpel: karena aspirasinya beda.

Maka jadi agak aneh ketika antum menyampaikan alasan dibentuknya PKS sebagai parpol adalah untuk memayungi aspirasi seluruh ummat, seolah aspirasi ummat ini cuma satu dan selama ini aspirasi politisnya itu tidak terlayani.

3. Terkait komentar antum yang ini:
"Di samping itu, melalui sarana inilah kita bisa merangkul semua golongan. Coba Anda pikirkan, apakah mungkin seorang kiyai NU terdaftar sebagai anggota Muhammadiyah ataupun sebaliknya?."

Tanggapan saya:
Bukankah kita punya MUI? :)

Knight of Heaven. Powered by Blogger.