-->
(Sambungan dari Mengapa Saya Berhenti Liqo (I))

Bagi saya, tampak jelas sudah sikap diskriminasinya. Mentoring yang saya lihat bukan hanya sekedar aktivitas pembinaan keislaman seseorang, namun sudah terkooptasi sebuah hegemoni yang eksklusif –terlepas dari baik tidaknya niat pelaku hegemoni tersebut. Itu yang menjadi salah satu alasan saya mengapa akhirnya berhenti dan mencari aktivitas pembinaan di tempat lain.

Alasan berikutnya adalah keterkaitan mentoring di kampus saya dengan Partai Keadilan Sejahtera. Ya, PKS adalah partai politik yang kita kenal lewat slogannya, bersih, profesional, dan peduli. Lalu apa keterkaitannya? Awalnya saya juga merasa mentoring dan PKS adalah dua entitas yang terpisah, meski sudah sejak lama saya tahu orang yang berkecimpung di dalamnya ya itu-itu juga. Mereka yang aktif mengelola mentoring nyaris semuanya berafiliasi ke PKS. Nah, jika cuma itu kondisinya, saya tidak akan terlalu peduli dan tidak akan saya permasalahkan di sini. Pada kenyataannya, kondisinya ternyata memang lebih daripada itu. Lebih dari sekedar orang-orang yang berkecimpung di mentoring punya afiliasi dengan PKS. Kondisinya yang saya lihat adalah: mentoring dijadikan sebuah pintu masuk untuk menjadi kader parpol PKS. Ya, orang yang ikut mentoring diproyeksikan untuk menjadi kader PKS di kemudian hari.

Pada masa kampanye pemilu DPR tahun 2009, ketika khusyuk mengikuti agenda mentoring/liqo, tiba-tiba murobi saya berpesan pada saya bahwa pertemuan yang akan datang tidak dilakukan di masjid kampus seperti biasa, tapi di sebuah masjid di suatu tempat. Singkat cerita, pergilah saya ke sana dengan semangat 45, berpikir mungkin akan menerima taujih/nasehat dari seorang ustad yang lebih tinggi ilmunya ketimbang murobi saya. Setibanya di sana, ternyata ada agenda lain yang tak saya duga: agenda konsolidasi kampanye dan training motivasi untuk direct selling PKS ke warga! Wow, dan saya memang tidak sendirian. Beberapa teman yang saya kenal ikut mentoring juga ada di sana, dan menerima agenda yang sama. Meski saya punya sifat pelupa, tapi saya ingat dengan jelas bahwa sebelumnya murobi saya tak pernah sekalipun menawari saya untuk jadi kader partai. Tak sekalipun. Apakah ini disengaja atau tidak? Saya kurang tahu. Yang jelas, ketika murobi saya mengumumkan untuk liqo di tempat itu lagi, saya tak pernah lagi bersedia.

Kisah lainnya, di akhir tahun ketiga keikutsertaan saya di mentoring, ada beberapa kali agenda tatsqif di mana saya diajak ikut serta. Tatsqif di sini bentuknya mirip pengajian yang dilakukan di masjid-masjid pada umumnya. Materi yang disampaikan juga umumnya materi keislaman secara umum, bukan materi kepartaian. Sesekali memang ada topik kepartaian, tapi sifatnya tidak dominan. Namun yang menarik, sebelum mengikuti kegiatan, ada semacam daftar hadir yang perlu diisi. Di salah satu kolom daftar hadir itu ada judul: kecamatan. Maksudnya, kita diminta mengisi keterangan liqo yang kita ikuti berada di bawah DPC mana. Tentu DPC yang dimaksud disini adalah DPC PKS. Ya, mentoring atau liqo itu ternyata dikelola di bawah sebuah struktur eksternal kampus.

Saya juga mengakui, bahwa semakin lama liqo saya ikuti, pembina/murobi yang mengelola kelompok pun diganti dengan sosok yang lebih tinggi levelnya dan lebih dalam keikutsertaanya dalam gerakan. Materi yang dibahas semakin berat, dan topik kepartaian pun pelan-pelan dimasukkan dalam taujih yang diberikan. 

Maka dari pengalaman yang saya alami sendiri, saya jadi yakin, bahwa mentoring bukan sekedar aktivitas pembinaan keislaman semata yang berdiri sendiri. Ia disokong dan memiliki keterkaitan dengan PKS. Dan saya yakin pula bahwa kondisi seperti itu tidak kasuistik di kampus saya saja, tapi juga terjadi di beberapa kampus yang mengadopsi sistem serupa.

Karena saya tidak ingin menjadi kader parpol, akhirnya saya memutuskan untuk keluar dari liqo. Saya pernah mencoba mencari dan bertanya pada salah satu kader PKS, adakah gerangan liqo yang tidak membahas-bahas partai dan tidak mengikutsertakan saya ke dalam partai, murni pembinaan keislaman semata? Sayangnya beliau jawab tidak ada. Materi atau mekanisme dalam mentoring/liqo itu sendiri memang didesain untuk mendukung ide atau pemikiran yang diusung PKS. Dalam pemikiran tersebut, memperjuangkan Islam harus mengikutsertakan politik praktis. Dan dalam aktivitas PKS kemudian, para peserta liqo itulah yang diharapkan mampu menjadi pengusung utamanya. Apakah pernyataan yang disampaikan beliau itu memang mewakili kondisi sebenarnya? Saya kurang tahu. Atau apakah itu mewakili pendapat kader PKS yang lain? Saya juga kurang tahu. Yang saya tahu, beliau adalah kader yang punya pengalaman banyak, baik di pengelolaan mentoring di kampus dulu maupun di partai politik secara langsung.

Adanya sistem eksklusif diskriminatif dan keterkaitan dengan parpol itulah yang menjadi alasan saya untuk berhenti liqo dan mencari tempat pembinaan lain. Sebenarnya ada banyak hal lain yang kalau diingat cukup mengganjal di hati, seperti sikap beberapa orang yang ekstrim hingga pada level men-dewa-kan murobi: bahwa titah murobi adalah titah yang tak boleh dibantah; pilihan murobi adalah pilihan terbaik; oleh karenanya nikah pun harus lewat murobi, dll. Atau sikap ekstrim dalam berharokah: nikah dengan orang di luar harokah (yang tidak mentoring) adalah sebuah aib dan kesalahan, atau hal-hal lainnya. Namun mungkin tidak adil bagi saya kalau menjadikannya alasan karena saya tahu tidak semua aktivis mentoring/liqo seperti itu. Itu sifatnya kasuistik. Tapi dua hal di atas (eksklusif diskriminatif dan keterkaitan dengan papol) saya anggap bukan lagi kasuistik, tapi sudah menjadi gejala umum yang diterima dan diakomodasi oleh sistem yang menjadikan ‘mentoring/liqo’ sebagai punggawanya. 

Akhir kata, tulisan saya ini tidak dibuat untuk mendiskreditkan mentoring. Mentoring adalah aktivitas yang bagus dan kalau dikelola dengan baik akan menjadi sesuatu yang empowering bagi orang yang ikut serta. Namun menurut saya, akan jauh lebih baik jika: Pertama, ia tidak dijadikan standar untuk mengukur seseorang. Kedua, dilaksanakan semata-mata untuk membina ummat Islam secara umum. Ketiga, tidak dijadikan sarana rekrutmen kader parpol terlebih melalui kegiatan formal kampus yang seharusnya independen. Keempat, kalaupun menjadi sarana rekrutmen, sampaikanlah dengan terus terang dan jujur sejak awal bahwa kegiatan ini adalah kaderisasi dan Kelima, pisahkan dengan mentoring yang tidak untuk kaderisasi (buat mentoring non parpol).

Itu hanya saran dari saya. Namun jika memang sistemnya sudah tidak bisa diubah lagi karena memang sudah bawaannya begitu, apa lagi mau dikata. Lana a’maaluna, walakum a’maalukum; Wa laa tus’aluuna ‘ammaa kaanu ya’maluun.

Pun saya tidak mendiskreditkan PKS. Bagi saya pribadi, PKS (disamping berbagai keterbatasan dan kekurangannya) adalah parpol yang masih bisa diharapkan untuk membawa aspirasi ummat Islam di parlemen. Selama PKS tidak sombong, menganggap partai lain lebih rendah dan menolak menerima kejujuran, ia masih merupakan partai yang saya harap turut membawa Indonesa menjadi lebih baik dan bermartabat.

-->
Semoga tulisan ini bisa menjadi bahan koreksi yang berharga untuk menciptakan sistem yang lebih baik dan akomodatif pada perbedaan pendapat serta pemikiran. Saya juga berharap tulisan ini bisa memberi sedikit inspirasi, baik bagi yang pro maupun yang kontra. Fastabiqul khoirot, fattabiru ya ulil albab...


33 Comments

al-azzam said...

"Maka dari pengalaman yang saya alami sendiri, saya jadi yakin, bahwa mentoring bukan sekedar aktivitas pembinaan keislaman semata yang berdiri sendiri. Ia disokong dan memiliki keterkaitan dengan PKS. Dan saya yakin pula bahwa kondisi seperti itu tidak kasuistik di kampus saya juga, tapi juga terjadi di beberapa kampus yang mengadopsi sistem serupa."

jujur kak, ini persis seperti apa yang terjadi dikampus saya juga.
dan saya sekitar februari kemarin setelah libur semesteran termasuk orang yang memberontak dan mempertanyakan kredibilitas mentoring saya dikelompok saya.

dan saya memutuskan kemarin untuk keluar dari liqo, dan Alhamdulillah sekarang telah menemukan pembinaan yang bari berbekal bertanya kepada teman waktu itu.

dikampus saya ini jelas sekali perbedaan mereka yang liqo dengan yang tidak liqo. salah satunya adalah saya sebagai korban. saya sempat disindir, dihindari, serta dipandang sebelah akan kredibilitas saya. ini jauh berbeda ketika saya dulu masih liqo bersama dengan mereka.

tapi ya sudah saya legowo menerimanya, toh sekarang saya sudah tidak perduli dengan mereka yang bersifat seperti itu. sejak itu, saya kembali meyakinkan dan memotivasi diri untuk giat dibidang science (ilmiah). Alhamdulillah bisa menghapus kegeraman saya terhadap mereka (maklum anak medan bawaaannya berantem atau emosi gitu) dan saya termasuk orang yang keras kepala.

intinya, saya sekarang fokus dengan study saya. dan untuk pembinaan, Alhamdulillah saya masih lakukkan.

liqo saya waktu sma dengan saat ini jelas berbeda. dulu, sewaktu sma sungguh jelas hanya membahas tentang islam secara utuh tanpa bumbu2 lain, seperti bedah sirah nabawi, ayat2 alquran!!!!

Asto Hadiyoso said...

MasyaAlloh Bang Ipin...
makin kakak sadar ternyata kondisi seperti ini memang sudah menggejala luas.

Semoga teman2 yang masih berkecimpung di sana bisa sedikit lebih rendah hati dan sadar pada problem yang menimpa saudara-saudara mereka seperti kita

Q said...

akhirnya...sudah lama saya tunggu tulisan ini kak. Ternyata bukan saya saja yg menyadarinya.

diki saefurohman said...

Saya senang mendapatkan artikel tentang mentoring ini. Jadi dapet gambaran pandangan tmen2 yang merasa terdzolimi dengan sebagian efek sistem pengelolaan mentoring. Fenomena 'diskriminatif' dan 'politisasi' dalam sistem mentoring memang tidak bisa diterima oleh akal sehat kecuali kita memahami agenda dan kepentingan harokah tarbiyyah 'alamiyyah (gerakan tarbiyyah internasional) atau dunia menyebut Al-ikhwan al-Muslimun. Kita tidak bisa memahami ini kecuali kita mempelajari manhaj secara ilmiah (studi literatur dan juga melalui narasumber terpercaya yang ada dalam struktur jama'ah) dan kalau bisa masuk secara mendalam ke dalam struktur jama'ah ini. Dalam hal masuk ke dalam struktur jama'ah tentunya dengan senantiasa mengikuti liqo, karena kurikulumnya sudah bersifat tadarruj/bertahap sesuai tingkatan pemahaman kita. Semoga bermanfaat :) Jzklh.

Asto Hadiyoso said...

@Mas Diki, syukron atas tanggapannya. Yoi, kita juga paham itu. Bukankah buku Risper itu jadi menu wajib di tingkat2 awal liqo? Ada eksistensi gerakan tarbiyah Ikhwanul Muslimin yang manhajnya serta ide-idenya kemudian diadopsi oleh PKS di Indonesia.

So, please janganlah anggap saudara-saudara yang merasa tidak nyaman dengan sistem ini sebagai orang-orang lugu yang belum paham apa-apa :-)

Tapi sekali lagi syukron atas tanggapannya

diki saefurohman said...

Hehe,.. berati itu kurikulumnya gak bertahap. Kitab Majmu'atur Rosa'il itu gak boleh disampaikan di awal2 liqo. Malah saya perhatiin rata2 orang yang udah tingkat 4 (tahun ke empat kuliah) yang liqo di IPB juga rata2 belum saatnya belajar kitab itu terkait marhalah yang belum sesuai. Berati kalau ada murobbi yang memberikan materi dari kitab Majmu'atur Rosa'il di awal2 liqo (baru 1, 2, 3, tahun) itu berati belum tahu kurikulum :) Efeknya gak memahami secara utuh, parsial. Semoga bermanfaat :)

Asto Hadiyoso said...

O...begitu ya
thanks deh buat infonya. Makin jelas lagi nih, fakta liqo yang dijadikan parameter penentuan strata seseorang...

saya pesan, yuk sama2 kita jaga diri agar nggak sombong. Sabda Rosululloh, salah satu ciri sombong itu merendahkan or meremehkan orang lain
^_^

diki saefurohman said...

sama2 mas ^_^ saya juga berpesan gitu :)

Lils said...

dulu memutuskan berhenti liqo, karena banyak hal yang saya rasa melukai keutuhan Islam, salah satunya yang saya alami, di tingkat dua kuliah diminta secara halus menyebarkan kampanye pilkada jabar usungan PKS di kampus, jam praktikum. nyeri sekali. seakan2 dakwah memihak, dakwah tak peduli etika independensi kampus, seolah dakwah agung hanya milik PKS, bukan milik rekan2 NU, Muhammadiyah, HMI,dan lainnya. saya yang tak banyak tahu tentang dakwah merasa, dakwah jauh lebih suci dari itu.
lugas sekali, pernah suatu ketika, seseorang mencibir banyak organisasi islam lain.
bahkan, pernah ada yang bilang, kostannya 'kecolongan' orang amah, entahlah itu apa, artinya ada orang awam atau bodoh agama tinggal d kostan yang hampir seluruh penghuninya da'iyah. saya sebal sekali mendengarnya. apakah bumi Allah ini hanya untuk orang2 shaleh? apakah kebaikan seseorang dinilai dari liqo' saja.. rasanya luka sekali, meskipun perkataan semacam itu ditujukan pada orang yang tidak saya kenal dekat.
bukankah kita sejatinya harus menjaga satu sama lain, bahkan tak pandang apa agamanya. lucu sekali ketika menemukan kader PKS ramah dengan teman2 non muslim, tetapi sangat tidak ramah pada teman2 yang berhenti liqo. lucu tetapi pedih. entahlah apa maksudnya. bagi saya, selama seseorang Islam, ia saudara saya, bagaimana pun perbuatannya. dan kendati seseorang bukan muslim, selama ia tak membunuh dan menghargai, wajib juga kita jaga perasaan dan keamanannya. wallahu a'lam.

Asto Hadiyoso said...

Hatur nuhun sanget Mbak (atau Mas?) Lils atas share pengalamannya...semoga juga jadi inspirasi bagi yang lain :-)

Anonymous said...

suatu saat Ali R.A di tanya oleh seorang rakyatnya saat beliau memegang ke khalifahan.
Mengapa pada saat engkau memimpin kami, ter jadi huru hara yang belum pernah terjadi pada khalifah2 sebelumnya.
Dan Ali R.A berkata, saat rasulullah dan para khalifah terdahulu memimpin, yang jadi rakyatnya adalah orang seperti ku.
tetapi pada saat aku menjadi khlaifah, yang menjadi rakyatnya adalah orang-orang sperti mu.

Aisa Aziza said...

terimakasih mas.. artikel ini benar2 mewakili dan telah menjawab kegundahan saya selama ini..

Nurul Inayah said...

untung saya bacanya pas sudah berhenti liqo. hehe..tapi, sama seperti post bagian pertama, saya setuju. Sejak kecil, dakwah yang saya tahu itu dakwah model NU dan MUHAMMADIYAH. meski keduanya ada perbedaan, itulah yang membekas di ingatan. saat di kampus, malah ada yg model ginian. yah..saya tidak se ;oyal teman-teman saya dengan liqo. liqo bagi saya itu tempat saya ngaji bareng-bareng dan silaturahim. itu saja. dan saya g berat untuk bilang "tidak" jika aktivitas liqo sudah di luar itu

Dea said...

cerdas banget....
akan lebih cerdas lagi jika kita juga melihat sisi positifnya dari apa yang telah saudara alami dan rasakan selama bertahun-tahun,.....
3 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk memahami semua, dan keputusan terakhir ada di tangan saudara. seandainya saya menjadi anda, mungkin saya akan bertahan di liqo PKS, karna selama 3 tahun itu, keindahan islam telah ku temukan, dan tak ingin ku ninggalkan.....
moga Allah memberikan jalan terbaik untuk kita semua...

Asto Hadiyoso said...

@Mbak Dea yang baik, terima kasih atas responnya. Saya yakin memutuskan berhenti liqo karena saya pun yakin bahwa Islam tidak hanya saya temukan di sana :)

Fitri said...

saya juga pernah ikut liqo i tahun pertama kuliah,,,awalnya seneng punya temen dan kegeiatan yang serba posistif sampai akhirnya pemilihan pemimpin PEMA (Pemerintah MAhasiswa) atau BEM kampus lah. saat itu saya setuju ikut memilih pilihan yang mereka saranin dengan alasan kepentingan dakwah dan islam. tapi setelah terpilih,,,sakit bukan main,,, saat teman sejurusan menghadap mereka dengan pakaian gembel maklum kuliah di teknik mesin cowoknya banyak yang tidak memikirkan penampilan. tapi jujur dia datang mewakili kami mahasiswa dalam masalah akademik. namun, sakit hatinya saya lagi teman saya pulang dengan tidak dipedulikan sama sekali, hanya disuruh tunggu. tapi tak tau siapa yang ditnggu. sampai masalah akademik kami tersebut kami sampaikan di grup PEMA di FB dengan bahasa yang cukup sopan,,(karena saya sendiri yang ketik, tapi pake label anak mesin),,bukannya dapat tanggapan malah di blok,,,,
saya pikir,,,apa2an ne kami pilih dia untur benar2 memikirkan kami seperti islam yang memikirkan pengikutnya,,,tp kok malah diabaikan,,,salahkah kami... jika dari mesin dengan berpakaian koyak,,toh koyaknya dibagian kaki,,,masalah ibadah,,,dia juga jalankan,,,dan kami bukan gembel gak bermoral yang gak paham agama kami kok,,saya juga muslim,,,tapi sering juga dipandang sebelah mata,,,dan kami juga bukan pembuat onar,,,

jadi heran saya,,,dimana letak dakwahnya coba jika kami sesama muslim saja tidak dipercaya oleh mereka yang datang dengan cara baik dan dengan problem muslim yang lain

Ali said...

Diskusi yang amat menarik...

muslimstia said...

Ya sudah, tidak usah dilanjutkan. yang masih liqa' teruskan, yang keluar dan memilih pembinaan lain silahkan. kita semua kan saudara dimanapun kita dibina asalkan mengikut ahlussunnah wal jamaah insya Allah benar, dan seharusnya kebenaran itu membuat kita mampu menjadi hamba Allah yang arif, produktif, bermanfaat bagi kepentingan ummat. kalau seluruh pengalaman pahit kita tumpahkan dan menjadi konsumsi publik saya khawatir kearifan, kedewasaan dan kebijaksanaan masing2 kita yang merupakan buah dari keimanan menjadi bulan-bulanan musuh utama kita (syaithan dan pengikutnya).

Anonymous said...

Sya setuju dengan muslimstia, jangan sampai hal ini menjadikan kita menjelek2kan saudara/i kita sesama muslim hanya karena perbedaan sekecil ini. Masih banyak masalah ummat yg memerlukan penyelesaian.

justan said...

Saudara2ku yang baik. Hidup ini pilihan anda liqo atau tdk juga pilihan, berbuat baik dan buruk juga pilihan. Kadang2 kita selalu mengambil sebuah kesimpulan atau pernyataan blum tuntas apa yang kita dapatkan atau blum kita menggali lebih dalam tentang suatu hal. Kita mesti tau bahwa hampir semua gerakan2 mahasiswa itu punya afiliasi dan itu suatu keniscayaan sebagai sarana regenerasi tapi yang perlu kita cermati selama gerakan tersebut mengajak kita kpd yang baik apalagi mengajak kpd kesholehan tidak pantas berkomentar yang kurang pantas.

Supriatna Ufree said...

liqo atau tidak itu pilihan. tapi pastikan saja ketika liqo kita niatkan ibadah, ketika berhenti juga niatkan untuk ibadah..

p maduratna said...

jd.. bisa rekomendasikan ke saya tidak alamat utk liqo? krn saya ingin mempelajari islam lbh baik.. alamat di jatiuwung tangerang :)

Anonymous said...

cuma mau koreksi : " walaa tus aluuna 'ammaa kanuu ya'maluun" dan kalian tidak akan ditanya tentang apa yg mereka lakukan.

Asto Hadiyoso said...

Hatur nuhun atas koreksinya. Barokallohu fik :)

Aldian Farabi Tanjung said...

Oh, ini toh tulisan yang dibicarain itu.

Robby Ashar said...

aduuuuuh, . . . ini pada kenapa c??

Ada PKS ataupun tidak ada PKS, liqo itu tetep jalan. Emangnya liqo itu karena PKS?? trus di negara mesir, brunei, arab, Malaysia, Turki, Palestina dan negara2 lain mereka liqo itu karena PKS?? Kebagusannn, . .

Idiih, 'kecil' banget hati mereka kalo liqo itu hanya karena PKS. Ini nih yang namanya belum ngerti.

Makanya mind set nya benerin dulu sebelum nulis. Jadi menyesatkan orang tau. Kasian orang2 yg asalnya mau belajar agama dengan sarana Liqo jadi pada ketakutan duluan.

Sekali lagi, ada PKS ataupun tidak ada PKS, liqo itu tetep jalan.

Bukan liqo karena ada PKS tapi kebalik, . . . PKS itu ada justru karena liqo. Program liqo ada karena Tarbiyah (pendidikan).

Jangan pikir sy ngomong gini karena baru liqo cuma 4-5 tahun yah, itu terlalu sebentar utk mengerti, . . udah lama tauuu . . . . .

Main dulu deh keluar negeri, liat secara universal, . . pasti ngerti, . . .

Temen sy yg PhD dateng dari Brunei, mereka ceritain sistem tarbiyah dan liqo disana, kagak ada tuh ngomongin PKS, karena emang bukan karena PKS kaliii, . . .

Trus kenapa di Indonesia ada PKS? Yu kita ketemu, kita ngobrol, tenaaaang sy bukan orang partai. . . kagak ada kepentingan masukin situ ke PKS. Klo ngajak situ untuk terus memegang teguh dengan Al Quran dan As Sunnah, itu emang kepentingan sy, hhe

Asto Hadiyoso said...

Hatur nuhun Pak Robby atas perhatiannya. Kalau Bapak membaca lagi tulisan di atas dengan seksama, poin tulisan saya clear kok :)

Anonymous said...

iya om! malahan di smp saya liqo itu udah masuk kurikulum pelajaran -_- bukannya saya nggak mau liqo, kalo misalnya liqo itu bebas--memperbolehkan siapa aja belajar di tempat liqo--tapi kenapa ibu saya pernah mau ikutan liqo tapi gara-gara pake cadar jadi dikeluarin, katanya gak boleh ikut liqo kalo pake cadar.

Anonymous said...

apapun yang terjdi dan apapun tanggapan orang,,saya tetap liqo. selama tak ada keraguan didalamnya.. lakukanlah..
sy ikut liqo sdh ckp lama, tp sy bukan kader PKS. tp kl harus parpol sy msh lbh suka PKS. :-)
bagi saya mentoring/liqo adlh metode pmbelajaran yg efektif untk mengenalkan islam yg kaafah pd masyarakat.
yg mau liqo, lanjut aja.. yg mau berenti ttp cari kebaikan d tempat lain.. tmpat mncari ilmu luas ikhwah, tp liqo sistem yg paling tepat untk memahami islam buat saya. terima kasih mas asto dan tmn2 yg lain atas pendapatny ttg liqo.. bs jd evaluasi dlm mengeratkan ukhuwah. jazakumullah..

Anonymous said...

saya jg liqo di bawah naungan partai PKS , yang jadi murobi paman saya sendiri anggotanya para saudara dan keluarga , udah tiga tahunan liqo tujuannya cuma membentuk pribadi muslim yang sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad tanpa adanya embel-embel dari PKS , jd yg kami lakukan murni ajaran Islam tanpa ada sangkut pautnya dengan parpol . semoga aja akan tetap seperti ini karena saya jg ga bakal mau ikut kalo ada unsur parpol atau politik lainnya

nita said...

sama dengan pengalaman saya. liqo' dari kelas 1 SMA sampai kuliah semester 2, sampai akhirnya saya menyadari keterkaitan liqo' dengan politik praktis. kemudian saya keluar dan lebih memilih netral. hal ini didukung oleh background keluarga saya yang muhammadiyah kental.

Anonymous said...

Jadi...

Ini November 2014. Bagaimana? Apakah keluar dari Liqo-PKS menurut aganadalah pilihan yang (masih) benar?

Anonymous said...

Sudah lama saya menunggu artikel2 seperti ini. Dan saya sangan senang bisa membaca ini. Ternyata bukan saya doang yang ngerasain :')
Sekarang saya sekolah di salah satu SMA di manggarai, jakarta selatan. Di ekskur rohis sekolah saya, alumni itu dianggap dewa. Saya mulai memberanikan diri untuk bertanya pertanyaan2 logis kepada murabbi saya tentang apa hubungannya PKS dengan kegiatan kita. Setelah tanya - jawab, alhasil murobbi saya diam. Kemuadian saya dijauhi para alumni dan teman2 saya. Tapi saya biasa aja. Karena teman bukan hanya daro rohis, toh?

Knight of Heaven. Powered by Blogger.