Bicara tentang konservatisme

Konservatisme dan fundamentalisme seringkali dijadikan kambing hitam atas banyak kejadian tak mengenakkan yang menimpa ummat init. Para teroris yang "kebetulan" beragama Islam dan mengatasnamakan "perjuangannya" dengan Islam selanjutnya dkaitkan dengan dua istilah di atas. Tidak cuma itu, dua isme tersebut kemudian didudukkan berhadap-hadapan dengan liberalisme atau modernisme seolah kedua isme baru itu lebih layak menggantikan dua isme sebelumnya. Ya, konservatisme dan fundamentalisme vs liberalisme dan modernisme.

Agak sulit memang jika berusaha membahas lebih jauh tentang kata dengan isme-isme tertentu saat tidak jelas apa maksud isme itu sebenarnya. Merujuk pada pemahamannya Mas "Wiki", konservatisme adalah ideologi yang cenderung mempertahankan status qou sebuah tradisi atau kebiasaan. Tak jauh dengan itu, fundamentalisme adalah ideologi untuk kembali kepada akar atau dasar pemikiran yang melandasi terbentuknya sebuah paham. Sebaliknya, liberalisme adalah ideologi yang menolak adanya pembatasan serta memiliki asumsi dasar bahwa kebebasan (berpikir, berpendapat, berekspresi, dll) adalah nilai yang utama. Sedangkan modernisme adalah ideologi yang dinilai progesif dan responsif terhadap dunia baru.Titik. Harapannya dalam artikel ini kita bisa merujuk pada definisi itu.

Mari kita kaitkan wacana keempat isme di atas dengan Islam. Benarkan ajaran Islam hanya merujuk pada salah satu isme dan menafikan yang lainnya? Nah, di situlah letak permasalahannya. Islam adalah sebuah ideologi yang berdiri sendiri. Islam adalah seperangkat nilai ilahiyah yang memiliki kerangka mandiri dan lepas dari segala isme-isme buatan manusia. Sehingga, menjadi agak aneh ketika ada istilah Islam fundamental, Islam konservatif, Islam Liberal, atau Islam moderat.

Bagi sebagian orang, penetapan istilah-istilah macam itu barangkali bisa dijadikan alat untuk generalisasi sebuah gugus perilaku. Misal, mereka yang cenderung progresif dan mampu menerima budaya lain dikatakan sebagai islam moderat. Atau mereka yang berusaha melakukan formalisasi syariat Islam dalam sebuah negara dikatakan sebagai Islam fundamentalis atau konservatif. Lalu, bagi sebagian orang awam, manakah Islam yang benar? Islam yang benar tentu saja Islam yang berdasarkan pada Al Qur'an dan Sunnah, yang dipahami berdasarkan kerangka metodologis ilmiah yang telah disepakati oleh para ulama terdahulu. Kebenaran Islam tidak didasarkan pada isme-isme tertentu yang melekatinya.

Lalu, jika gugus-gugus perilaku membentuk citra pemeluk Islam dengan isme tertentu bagaimana? itu sah-sah saja selama kita tetap meyakini bahwa Din yang Alloh turunkan adalah Islam dan bukan Islam konservatif, Islam liberal, Islam moderat, atau Islam fundamental.

Sampai di sini, ada hal penting yang cukup menarik untuk dicermati. Dalam situasi globalisasi seperti sekarang ini, menghindari interaksi dengan kebudayaan 'luar' seolah menjadi sesuatu yang suli dilakukan. Ibarat sulitnya kita menghindari menghindari kepulan asap dari hutan yang terbakar di sekeliling kita. Ada orang yang beranggapan bahwa sudah saatnya sekarang Islam bermetamorfosa menjadi sebuah ajaran yang progresif dan liberal. Anggapan itu diikuti dengan asumsi bahwa konservatisme dan fundamentalisme dalam Islam sudah tidak layak lagi.

Anggapan di atas sepertinya tidak fair. Konsep konservatif dan fundamental seolah dimaknai secara kerdil. Seolah perilaku konservatif atau fundamental tidak bisa menghadapi tantangan perubahan zaman dengan baik. Mereka yang memiliki anggapan seperti itu cenderung hanya melihat sikap konservatif dan fundamentalis pada kutub-kutub ekstrim. Padahal jika mau jujur, ada banyak sekali respon baik dan membangun yang diaktualisasikan oleh sikap konservatif dan fundamental ketika berhadapan dengan perubahan. Tentunya pada batas-batas yang wajar.

Wallohu'alam bishowab

Comments

Popular posts from this blog

Mengapa Saya Berhenti Liqo? (II)

Mengenal Gerakan Islam di Indonesia

Mengapa Muhammadiyah?