Fullmetal Alchemist Brotherhood [Review]



Ada tiga kategori tayangan menurut saya. Tayangan jelek, tayangun bagus, dan tayangan bagus yang layak direkomendasikan. Tak semua tayangan bagus itu recommended, karena bisa jadi ada hal-hal terkait norma yang gak pas ketika dikonsumsi masyarakat umum, atau simply karena bisa jadi hal bagus menurut kita malah disalahpahami oleh orang lain. Nah, anime Fullmetal Alchemist ini menurut saya masuk ke kategori tayangan ketiga. Bagus sekaligus recommended. Gak salah memang kalau di myanimelist dia termasuk top 10 anime dengan rating tertinggi. 

Ceritanya berkisar tentang petualangan dua orang abang beradik, Edward Elric dan Alphonse Elric yang berjuang untuk mengembalikan anggota tubuh mereka yang hilang seusai melakukan aktivitas alchemist yang tabu. Dalam petualangan itu, mereka ternyata menemukan hal tak terduga yang bisa mengancam keselamatan seluruh negeri, kemudian turut campur untuk menyelesaikannya. Dalam petualangan itu pula, mereka bertemu dengan banyak orang, yang di hingga akhir seri semuanya memiliki peran signifikan dalam membangun keseluruhan isi cerita. Latarnya sendiri adalah bumi imajiner, dengan setting yang mengingatkan kita akan Eropa sebelum perang dunia pertama. 

Meskipun ini anime bergenre action dan menyuguhkan aksi-aksi laga yang cukup keren, bagi saya daya tarik anime ini bukan terletak di situ. Nilai terbesar dari anime ini adalah pada penyuguhan jalan cerita yang cerdas sekaligus epic. Kadang emosional. Ini tipe anime yang di setiap penghujung episodenya selalu ada fragmen yang bikin greget atau berasa penasaran. Selain itu, saya juga menangkap beberapa nilai baik yang dicoba disuguhkan oleh sang sutradara. Ada banyak, tapi yang paling kentara antara lain semisal loyalitas pada tanggung jawab, quality over quantity, kebesaran hati untuk tidak kalah pada dendam, dan prinsip alkimia yang utama: semua capaian membutuhkan pengorbanan yang setara. 

Masih soal storyline, tokoh hero ataupun villain di anime ini dibuat sangat manusiawi dan organik meski dalam ceritanya mereka punya kemampuan khusus. Sebagian mereka adalah alchemist (orang yang punya kemampuan memanipulasi unsur tertentu di sekelilingnya sekehendak hati) dan sebagian lagi homunculus (manusia jadi-jadian hasil eksperimen biologis). Meski demikian, tidak ada karakter yang bener-bener overpowered di anime ini. Dan saya suka itu. Semua orang bisa kalah, semua orang bisa terluka, semua orang bisa mati. Bahkan ini anime yang justru *spoiler alert* tokoh utamanya sering kalah. 

Satu lagi yang saya suka dari sisi storyline-nya adalah cara sang sutradara memberikan peran yang proporsional bagi seluruh karakter di anime ini. Singkat kata, ini anime yang tidak main protagonist oriented. Semua tokoh punya andil, semua punya cerita, semua punya peran. Terlebih di episode-episode akhir. Bisa terjadi salah satu villain utama dikalahkan tokoh biasa. Dan menurut saya itu keren. Jadi jangan bayangkan anime seperti Dragonball atau Onepiece yang duel akhirnya sudah bisa ketebak. Musuh paling kuat akan ketemu dengan jagoan utamanya. 

Beda dengan anime Jepang kekinian lainnya yang biasanya suka menyelipkan fan service (hal-hal berbau p*r*o), anime ini menurut saya cukup aman. Selain tokoh “Lust”, animator menggambarkan seluruh tokoh perempuan di anime ini dengan penampilan yang terhormat. 

Kesimpulannya, anime ini tergolong tayangan berkualitas. Ini tipe tayangan yang sehabis menontonnya kita bisa merasa mendapatkan sesuatu. Tak sekedar hiburan, tapi juga nilai-nilai yang kadang membuat kita merenung. Saya misalnya, berefleksi soal sikap memaafkan setelah melihat adegan tokoh Mustang yang *spoiler* mengurungkan niatnya untuk membalas dendam karena ia tak ingin menodai jalannya menuju seorang Fuhrer. Atau, ketika saya merenung soal totalitas berkontribusi setelah melihat adegan kekompakan para prajurit Briggs *spoiler lagi* yang ikut serta mengambil alih ibukota setelah mengetahui bahwa negeri itu berada dalam bahaya. Intinya, ini tayangan yang saya kira ketika penonton selesai menyaksikannya, mereka tak akan merasa kecewa.

Gambar: sumber

Comments

Popular posts from this blog

Mengapa Saya Berhenti Liqo? (II)

Mengenal Gerakan Islam di Indonesia

Mengapa Muhammadiyah?