Posts

Showing posts from September, 2012

Mengapa Harus Ikhlas?

Orang mungkin sering keterlaluan dan hanya mementingkan diri sendiri. Bagaimanapun, maafkanlah. Bila engkau baik hati, bisa saja orang lain menuduhmu punya pamrih. Bagaimanapun, berbaik hatilah. Bila engkau sukses, engkau mungkin akan mendapat beberapa teman palsu, dan beberapa sahabat sejati; Bagaimanapun, sukseslah. Bila engkau jujur dan terbuka, mungkin saja orang lain akan menipumu; Bagaimanapun jujur dan terbukalah. Apa yang engkau bangun selama bertahun-tahun mungkin saja dihancurkan orang lain hanya dalam semalam; Bagaimanapun bangunlah. Bila engkau mendapat ketenangan dan kebahagiaan, mungkin saja orang lain jadi iri; Bagaimanapun berbahagialah. Kebaikan yang engkau lakukan hari ini, Mungkin saja besok sudah dilupakan orang; Bagaimanapun, berbuat baiklah. Bagaimanapun, berikan yang terbaik dari dirimu. Bagaimanapun ini bukan urusan antara engkau dan mereka. Ini adalah urusan antara engkau dan Tuhanmu; ------- --------------------- Saya cukup respek dengan cuplika

Menggeser Unilever?

Seorang teman suatu saat mengirimkan sebuah email ke milis alumni jurusan. Isi emailnya biasa, lowongan kerja di sebuah instansi bisnis swasta, Unilever. Tunggu, Unilever? Unilever yang itu? Saya pun terbayang obrolan santai beberapa tahun lalu dengan seorang teman asal Surabaya, Rofik namanya. Teman saya ini bisa dibilang punya pemikiran luar biasa. Saat ngobrol dengan dia waktu itu, entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba dia nyeletuk: "Suatu saat saya pengen menggeser dominasi Unilever di Indonesia!" Unilever, siapa yang tak kenal raksasa consumer goods di Indonesia ini. Sebutlah barang kebutuhan sehari-hari dan hampir bisa dipastikan produk Unilever ada di sana. Perusahaan multinasional ini memang canggih luar biasa. Bisnisnya apa-apa dan ada di mana-mana. Tak heran, bekerja di sini ibarat American Dream buat para mahasiswa beken. Konon, kalau seorang karyawan rela bekerja serius di sana, perusahaan pun akan rela memberi fasilitas plus remunerasi premium. Konon lagi,

Energi Mental dan Produktivitas

Saya baru saja membaca sebuah artikel yang saya anggap menarik, sebuah ulasan ringan dari Robert C. Pozen, Dosen di Harvard Business School mengenai eksistensi mental resource atau sumberdaya mental. Dalam artikel itu disebutkan seperti halnya fisik, mental ternyata juga punya tingkat energi yang bisa menurun. Penurunan energi mental tersebut kemudian dinilai berpengaruh pada produktivitas manusia, siapapun orangnya. Artinya, semakin rendah tingkat energi mental seseorang pada suatu keadaan, semakin rendah pula kemampuannya untuk produktif pada keadaan yang sama. Lalu apa yang menyebabkan menurunnya energi mental kita? Ada banyak hal, namun yang ditekankan dalam artikel ini adalah 'intensitas kita dalam memilih sesuatu secara sadar'. Setiap hari kita dituntut untuk membuat keputusan atas pilihan-pilihan yang ada, dari mulai baju apa yang akan dipakai, menu apa yang hendak dimasak atau dipesan, channel apa yang mau ditonton, hingga perkara-perkara yang berhubungan dengan

Shaf Penjaga Keamanan

Entah sudah berapa kali sepeda motor jamaah masjid Baturrahim hilang. Modusnya serupa: terjadi waktu maghrib atau isya ketika jamaah sedang khusyu sholat. Memang di masjid ini tidak ada satpam khusus, ditambah kondisi lingkungannya yang memang dekat dengan jalan raya. Pencuri sepeda motor yang berhasil mendobrak kunci bisa kabur dengan mudah tanpa diketahui ke mana rimbanya. Struktur denah masjid dan halamannya pun cenderung kondusif untuk para maling. Jamaah yang ada di dalam masjid jadi kurang bisa melihat pergerakan di luar masjid, meski sholat mereka tidak khusyu (apalagi yang khusyu).  Gejala seperti ini tentu tidak hanya membuat sebagian jamaah yang membawa sepeda motor was-was tapi juga membikin pihak DKM galau. Masjid ini jadi mendapat cap tidak aman.  Setega itu si pencuri mengambil motor di masjid. Padahal sebagian besar jamaah adalah golongan ekonomi menengah ke bawah. Mereka perlu menabung lama sekali plus harus menghemat pengeluaran untuk bisa mengajukan kredit seped

Ketemu Teman di Tukang Pangkas

Namanya Maruba Silitonga, seorang Nasrani. Dulu satu SMA dengan saya dan kami sama-sama pernah jadi paskibra sekolah. Suatu waktu saya ketemu dengan dia di tempat tukang pangkas, tanpa janjian. Kami sama-sama antri menunggu giliran cukur rambut. Karena ketemu dengan teman lama, waktu mengantre itu kami pakai bekombur  alias ngobrol basa basi (dalam istilah melayu). Topiknya dari mulai nostalgia teman-teman SMA sampai ke urusan bisnis. Pokoknya macam-macam. Hingga tiba panggilan si Abang tukang pangkas dan dia yang memang duluan ada di sana pun maju ke kursi eksekusi. Obrolan selesai.  Setelah sesi pangkas si Maruba selesai, selanjutnya giliran saya. Tanpa banyak ba-bi-bu lagi dia pun pamit, say goodbye pada saya dan pulang lebih dulu. Saya membalasnya dengan senyum. Kemudian saya pun duduk di kursi pangkas, menyaksikan kepala saya yang sudah 'semak' ini dirapikan oleh si Abang tukang pangkas dengan cekatan. Akhirnya sesi pangkas rambut hari itu selesai. Namun saat saya h

Masih Khawatir Kita tak Kebagian Rizki?

“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.”  (At-Thalaq: 2-3) Seorang sahabat pernah mengeluhkan masalahnya pada saya. Masalah klasik sebenarnya. Ia bingung memilih, antara menikah dahulu atau mapan dahulu. Kebingungan itu yang akhirnya membuatnya urung mengambil keputusan. Di satu sisi ia sudah punya calon yang dikiranya layak untuk dinikahi, tapi di sisi lain ia memang merasa belum mapan secara finansial. Bisnis yang selama ini digelutinya 'hanya' mampu menghasilkan beberapa ratus ribu saja dalam sebulan. Ia khawatir dengan kondisi seperti itu bila nekad memutuskan untuk menikah maka ia justru akan menjerumuskan pasangannya nanti ke ketidakbahagiaan. Persoalan seperti ini memang kerap terjadi dan kerap memakan 'korban'. Perasaan bingung itu memang tak menyenangkan bukan? Kalau tak kuat iman, kadang persoalan seperti inilah yang saya kira menjerumuskan sebagi

Obrolan Santai #1

Ano: "Na, kamu udah denger kan berita aksi terorisme di Solo kemaren?" Ana: "Iya No, aku turut prihatin. Semoga keluarga yang ditimpa musibah Alloh beri kesabaran dan makin deket sama Alloh" Ano: "Menurutmu kenapa ya lagi-lagi pelakunya anak-anak muda? Bahkan usia belasan tahun" Ana: "Wallohua'lam No, mungkin aja karena mereka udah berpuas diri memandang sebuah persoalan hanya dari satu perspektif aja. Maklum, anak muda kan emang lagi semangat-semangatnya" Ano: "Kalau nggak kritis jadi gampang didoktrin ya?" Ana: "Begitlah kira-kira" ----- Ano: "Hmm...sayang banget ya, padahal aku rasa sebenernya niat mereka itu baik. Pengen berjuang atas nama agama. Tapi karena ngaji di tempat yang salah, malah jadi gitu" Ana: "Sebenernya aku pribadi nggak berani bilang dia ngaji di tempat yang salah" Ano: "Maksudmu?" Ana: "Memandang persoalan begitu dari kacamata hitam-putih justru